Rabu, 16 Mei 2012

Mencintai Kelembutan Dan Kedamaian

 Siapapun tak dapat menyangkal bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang majemuk, bangsa yang plural. Bangsa yang terdiri tidak hanya berbagai ras, suku, kepercayaan, agama, bahkan aliran agama. Umat islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini pun tidak terlepas dari perbedaan. Islam di Indonesia sangatlah unik. Begitu banyak variasi aliran/pemikiran di Indonesia. Perbedaan itu bukanlah suatu yang aneh karena memang dalam sejarah perkembangan Islam di dunia, Islam memang mengalami banyak perbedaan baik dari segi politik dan pemikiran pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Jika ada umat Islam yang gamang dalam memahami perbedaan dalam Islam, salah satu faktornya mungkin adalah kurang memahami atau bahkan tidak mengikuti perkembangan diskursus perkembangan Islam khususnya setelah wafatnya Rasulullah SAW. Menghadapi kegamangan tersebut terkadang timbul letupan-letupan yang berakhir dengan perbuatan anarkis oleh salah satu kelompok yang memaksakan kehendak mengembangkan sayap pemahaman kepada kelompok lain.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal tersebut diatas, berikut bincang-bincang El Iemawati dengan Ketua PCNU Sumenep, Panji di kantor PCNU Sumenep, Minggu 5/02/2012
Peristiwa Sampang sepertinya api dalm sekam, sesungguhnya apa yang terjadi dan mengapa bisa seperti itu?
Kami melihat sepertinya peristiwa sampang, peristiwa biasa yang terjadi di masyarakat. Kami katakan peristiwa biasa ketika di masyarakat ada hal-hal baru, apa lagi yang baru itu menyangkut amaliyah keagamaan maka masyarakat tentunya bereaksii. Masyarakat Madura itu pada umumnya amaliyah keagamaannya amaliyah ala pemahaman keagamaan pondok pesantren. Ketika ada pemahaman keagamaan yang baru, sebenarnya apapun yang baru masyarakat akan bereaksi. Tapi lebih-lebih reaksinya kalau pemahaman keagaamaan baru dan berbeda serta menyimpang jauh dari amaliyah yang dilakukan oleh masyarakat
Mungkin karena tingkat pemahaman mereka ditambah kefanatikan menyebabkan mereka bertindak anarkis?
Kalau saya nelihatnyan  justru sebenarnya terjadi kejengkelan yang terpendam, itu kan terjadi sejak tahun 2005, diadakan pertemuan oleh para Kyai, gimana ini koq begini. Bahkan, tahun2006 juga diadakan evaluasi mengapa koq masih terjadi begini, dan sampai ada perjanjian antara masyarakat sekitar dengan kelompok pengikutnya pak Tajul itu, berkali-kali perjanjian agar katakanlah menghentikan kegiatan keagamaan yang berbeda itu, artinya menghentikan kegiatan keagamaan yang berbeda dengan masyarakat yang pada umummnya, salah satu contoh pak Tajul mengatakan sholat Jum’at tidak wajib. Sholat itu bukan 5 waktu, Cuma 3 kali, lha itu oleh masyarakat sekitar sudah diingatkan berkali-kali supaya menghentikan aktifitas keagamaannya bahkan sampai ada perjanjian tertulis. Bahkan sampai Muspida pada waktu itu dikumpu;lkan, dan kelompok pak Tajul siap untuk berhenti, tetapi kenyataannya tetap saja melakukannya. Akhirnya peristiwa yang tidak diinginkan, peristiwa anarkis tersebut terjadi
Pada akhirnya peristiwa itu mencoreng wajah Islam sendiri?
Sebagian dari yang tidak memahami mungkin bisa seperti itu, tapi bagi yang memahami secara utuh dan betul peristiwa itu tidak akan digebyah uyah bahwa wajah Islam kayak itu
Tapi itu kan melanggar hak kebebasan kelompok tertentu?
Kami melihatnya peristiwanya telah dilakukan upaya-upaya yang sifatnya preventif dan lama sekali, memang sebagaimana kami katakan peristiwa itu patut disesali oleh semua pihak dan menjadi pelajaran bagi masyarakat Madura pada umumnya
Apa ini sebuah indikasi adanya kegagalan pemberian pemahaman kepada umat tentang keberagaman pemikiran dan ibadah bagi aliran-aliran tertentu?
Saya melihatnya koq tidak, bukan kegagalan karena peristiwa yang hanya kecil dan terjadi di sebuah dukuh lalu menjendralisir semuanya, jangankan se Indonesia, se Madura misalnya, mungkin tidak juga. Memang adalah dalam kehidupan kauistiistik-kausistik semacam itu.
Tapi inikan menandakan pemahaman kedewasaan berfikir mereka terhadap sebuah paham itu perlu diperluas lagi sehingga rasa toleransi lebih tinggi?
Saya setuju itu tapi inikan dua persoalan yang berbeda, jadi toleransi itu hal lain, tapi kegagalan itu hal lain. Menurut pendapat saya ini bukan kegagalan tokoh-tokoh inforrmal. Tapi bahwa masyarakat perlu terus di dorong agar mempunyai pemahaman keislaman yang betul-betul bagus, sesuai dengan harapan ajaran Qur’ani itu, itu yang sangat diperlukan dan di dorong terus menerus
Dan itu diperlukan langkah-langkah konkrit. Menurut Bapak Kyai bagaimana dan seperti apa?
Langkah-langkah konkrit, kalau saya sebagai PCNU selalu melakukan sosialisasi ke masyarakat bahwa memang pemahaman yang kita pahami yaitu ala Nahdhatul Ulama bahwa Tawadzun I’tidal itu, tapi inikan menyamgkut kepada semua lapisan masyarakat. Bahwa ada masyarakat belum tersampaikan bisa saja seperti itu, tapi kami terus melakukan seperti itu
Dalam hal toleransi di wilayah Madura sendiri bagaimana?
Menurut saya sudah bagus, toleransi umat Islam di wilayah Madura bagus, misalnya kita mayoritas di Madura. Tapi ada sektor-sektor kehidupan tertentu di Madura dikuasai oleh kelompok minoritas, kita support saja, gitu. Dalam dunia bisnis, misalnya yang menguasai bukan mayoritas tetapi minoritas. Karena kita paham bahwa yang penting adil, berlaku dengan baik karena bisnis apapun tidak bisa berdasarkan kelompok dan semacamnya. Untuk wilayah Madura saya kira bagus dibandingkan misalnya di daerah-daerah kebalikannya yang mayoritas bukan Nahdathul Ulama
Kira-kira Sumenep punya ngak potensi seperti yang terjadi di Sampang?
Insya Allah tidak, asal komunikasi di berbagai arah dari seluruh lapisan masyarakat tidak tersumbat karena komunikasi bukan di arah atas tetapi di arah bawah juga bagus. Saya pikir Insya Allah tidak akan terjadi, asal juga kelompok-kelompok yang berbeda tidak provokatif, ya kalau orang-orang lain provokatif sesabar-sabarnya warga masyarakat yang memang katakanlah latar pendidikannya masih rendah ya mungkin bisa saja letupan-letupan itu terjadi. Tapi Insya Allah di Sumenep tidak
Adanya perbedaan-perbedaan tersebutkan bisa menjadi bom waktu apabila tidak diwacanakan?
Sebenarnya dari perbedaan-perbedaan itu masih banyak kesamaannya, cuma kemudian ada kelompok yang menonjol-nonjolkan perbedaan-perbedaannya tidak mencari titik temunya. Misalnya, ada kelompok yang sangat mengagung-agungkan salah satu sahabat tertentu sampai menistakan sahabat yang lain. Seandainya dia hanya mengatakan sahabat ini sangat bagus tanpa menistakan sahabat yang lain atau ahlul bait yang lain, mungkin ndak akan marah. Tapi ketika menjunjung tinggi salah satu sahabat dan menistakan sahabat yang lain, disampaikan secara provokatif dan ada masyarakat yang terusik terutama kelompok-kelompok bawah, maka yang akan terjadi pertikaian fisik. Masalahnya, karena mereka telah mendapat doktrin dari kyainya bahwa sahabat ini sangat baik tiba-tiba ada seseorang dengan bahasa vulgar mengatakan sebaliknya, inilah yang menjadi sumber ketidaksabaran dari kelompok yang dinistakan.
Maka kalau saya mengajak silahkanlah kalau ada paham-paham yang lain, tapi silahkan dipakai sendiri dan tidak disebarkan kepada kelompok yang lain apalagi dengan cara yang provokatif.
Sebuah kelompok kan ingin melebarkan sayap mencari pengaruh, antisipasi apa yang dilakukan oleh Nahdhatul Ulama untuk membendung paham-paham dari kelompok lain?
Kami membentengi dengan berbagai kegiatan dan sosialisasi, seperti nanti ini ada kegiatan Hallaqoh Ahlul Sunnah Waljamaah di K Said. Di kantor NU sendiri pada hari ini ada 3 kegiatan,  kegiatan bagaimana memperkuat ummat agar kokoh, karena bagi PCNU menghadapi berbagai kondisi ini tidak ada pilihan lain kecuali memperkokoh pagar kita sendiri tapi tidak menyerang pagar orang lain                                                                        
Saya yakin kalau memang rumah dan pagar kita sendiiri kokoh sebesar apapun gempuran dari luar pasti sulit menembus. Tapi saya berharap kepada misalnya orang yang mau menggempur, ya mohon jangan menggempur pagarnya orang yang sudah bagus, tapi yang tidak punya pagar yang bisa digempur
Untuk grass rootsnya sendiri?
Makanya kegitan-kegiatan yang kami laksanakan ini salah satu memberikan wacana dan pengetahuan, nanti dari K. Said terus ke Ambunten dan satu lagi NPC Kota, yaitu untuk menyampaikan pesan-pesan substansi dari paham Ahlul Sunnah Waljamaah sampai kepada grass roots terutama dalam kondisi seperti sekarang. Memang, saat sekarang ada perubahan dibanding masa sebelum reformasi, ya kita secara terus menerus melakukan sosialaisasi
Saat ini ada kecenderungan paham-paham keras mulai mengepakkan sayap dan diminati. Menurut Bapak Kyai bagaimana?
Ya, silahkanlah orang lain berbuat keras dan semacamnya, tapi kami yakin bahwa kekerasan tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Penduduk Mekkah yang keras dan kering itu bisa ditaklukkan oleh Baginda Rasulullah SAW dengan kelembutan hati dan kesucian diri. Bahkan sampai ada yang mau melawankan kan? Malaikat matur kepada Rasulullah, “gunung Hud ini bisa digugurkan ya Rasulullah di Taif ini kalau memang sampeyan berkenan,” tapi apa kata Rasulullah, sabda beliau, “Jangan, jangan, jangan, biarkan orang tuanya tidak mau nanti barangkali anaknya, nanti anaknya tidak mau barangkali nanti cucunya.”
Juga saya berharap untuk kalangan media, ya seperti itulah yang harus terus=menerus di dorong ke masyarakat. Media juga jangan yang negatif-negatif yang dibuka, tapi yang positif-positif terus di dorong. Jadi akhlaq-akhlaq seperti jamannya Rasulullah terus menerus perlu dikumandangkan ke masyarakat sehingga ketahanan jiwa masyarakat sama, sekurang-kurangnya bisa meneladani jiwa Baginda Rasulullah. Beliau sampai luka dirinya, beliau tidak melawan, dan untuk itu orang Mekkah kalah dengan Rasulullah. Seandainya  Rasulullah perang, perang dan perang mungkin tidak bisa menaklukkan Mekkah 
Pada   intinya menumbuhkembangkan toleransi dan juga kelenturan memahami pemahaman lain dilakukan tanpa henti?
Ya, kami secara substansi melakukan itu secara terus-menerus, arinya bagi ahlul Sunnah Waljamaah tidak ada pilihan lain selain melakukan hal tersebut karena itu memang ajarannya. Kelebihan ahlul Sunnah Waljamaah menghadapi apapun kehidupan di dunia itu adalah tawaddhu’ dan sabar. 
Tawaddhu’ dan sabar itu bukan berarti harus diam, tetapi berbuat dan berbuat dengan cara yang benar dan tujuan yang benar. Karena bagi kami cara itu adalah sama dengan tujuan, tujuannya benar dan caranya tidak benar  bagi kami itu tidak benar juga. Caranya harus benar tujuannya harus benar. Misalnya dakwah,  dakwah itu tidak boleh dengan kekerasan, walaupun mareti dakwahnya sudah benar, tapi disampaikan dengan cara kekerasan maka bagi kami Nahdhatul Ulama tidak benar cara seperti itu
Harapan Bapak Kyai?
Marilah kita saling tabayyun, itu intern anatar kita, kadang-kadang perbedaan-perbedaan memang keniscayaan dalam kehidupan. Jangankan masyarakat luas, kita dalam keluarga dengan anak dengan istri ada saja. Berbagai macam karakter, dan barangkali kita menghadapinya juga macam-macam, kadang-kadang begini, kadang-kadang begitu. Intinya komunikasi dan pemahaman berbagai dinamika kehidupan harus bisa dipahami dan diendapkan. Tapi walhasil memang NU adalah mencintai kelembutan dan kedamaian.

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda