Minggu, 23 Januari 2011

Untung Ada Inul

Oleh  : El Er Iemawati

Tak dapat dibantah oleh siapapun, kehadiran Inul si ratu ngebor telah memberikan warna tersendiri. Sosok Inul telah menjadi trade mark yang mampu menghasilkan keuntungan bisnis, sekaligus alat pengumpul massa yang sangat efektif. Kontroversi yang ada sejak kemunculan Inul juga menjadi tambang emas bagi media massa dalam mendongkrak oplah  media, baik media cetak maupun elektronika. Inul telah menjadi sebuah fenomena.

Barangkali hanya Inul saja yang mampu menggalang simpati demikian luas. Dukungan tersebut diberikan atas kebebasan ber-ekspresi dalam wilayah kesenian. Dukungan bukan hanya diberikan oleh masyarakat penggemarnya, namun juga oleh beberapa tokoh, baik dari kalangan seniman, budayawan, politik maupun agama. Kekebasan ber-ekspresi dalam bentuk goyangan, meng-eksploitasi bagian-bagian tubuhnya yang semlohay dengan liukan gerakan erotis.

Banyak sekali orang merasa miris dan kebakaran jenggot, sehingga yang kontra menghujat bahwa goyangan Inul membawa virus amoral. Virus itu harus dibendung yaitu dengan jalan melarang produk goyangan Inul di media elektronika. Berbagai hujatan, cemohan, cacian dilontarkan untuk mengesahkan pembenaran pendapat. Bahkan ada sebagian mengatakan, goyangan maut Inul telah membawa bangsa ini terpuruk dalam titik terendah dalam hal kesusilaan dan moral. Dan Inul dijadikan kambing hitam.

Tak berbeda dengan perang Irak versus sekutu Amerika, perang urat syaraf  dan perang pendapat gencar di tayangkan oleh berbagai stasiun Televisi. Dapat kita saksikan betapa Inul telah menjadi  figur yang sangat dominan dan penting. Pelarangan yang dilakukan oleh salah seorang pemusik senior dangdut, ternyata bukan meruntuhkan pamor Inul di mata penggemarnya. Malah sebaliknya, pelarangan ini membuat reputasi Inul melesat dan meroket sangat tinggi. Dan yang paling besar menangguk keuntungan dari konfrontasi tersebut adalah dunia bisnis entertaiment. Inul merupakan tambang emas dan menjadi  barang komoditas dengan nilai jual tinggi.

Terlepas dari pro dan kontra dari masing-masing kubu tentang keberadaan Inul, hal menarik yang patut dicermati dari kasus Inul adalah, apa yang terjadi dengan masyarakat di era reformasi ini ? Masyarakat Indonesia ? Masyarakat yang dahulu kala dikenal sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, berbudi luhur dan menjungjung tinggi nilai-nilai moralitas, kesusilaan, dan estetika. Tapi sekarang, nilai-nilai tersebut telah tercerabut dari akar, tercerabut dari hati sanubari. Yang tersisa saat ini adalah berebut kue pembangunan, memapankan jabatan dan berebut kursi mencapai posisi yang mampu memenuhi ego hedois ditengah-tengah jaman yang memuja paham materialis dan kapitalis.

Barangkali pendiri bangsa ini mengurut dada di alam sana, melihat dan menyaksikan betapa carut-marutnya negeri digaris katulistiwa yang kaya raya. Negeri yang dibangun dari berjuta galon darah dan air mata. Cita-cita para pendiri Republik ini yang dituangkan dalam pembukaan dan pasal-pasal UUD 1945, semuanya melenceng jauh. Cita-cita untuk memakmurkan serta mensejahterakan rakyat, hanyalah sebuah retorika dan permainan sandiwara di panggung pertunjukan. Karena dalam rentang waktu panjang, dan berada dalam lima periode kepemimpinan (Presiden), kondisi bangsa ini bukan semakin membaik. Keterpurukan bangsa ini terjadi di berbagai sektor, baik itu pendidikan, budaya, ekonomi. Bahkan yang paling parah adalah kemerosotan di bidang moral.

Kasus Inul Daratista barangkali dapat membuka mata hati dan batin anak bangsa, bahwa kebatilan telah dikemas menjadi santapan rohani dalam suatu manajemen yang rapi dan ter-koordinasi serta ditunjang oleh berbagai media, baik media cetak maupun media elektronika. Dan masyarakat Indonesia, mau tidak mau, suka tidak suka, tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya menerima semua kemasan produk tersebut hadir di layar kaca. Hal itu disebabkan produk-produk yang ditayangkan Televisi merupakan obat mujarab untuk menghibur diri, ditengah-tengah ketidakberdayaan menghadapi berbagai problem yang dihadapi di dunia realita.

Barangkali kelompok bang Rhoma tak perlu kebakaran jenggot, menyaksikan goyangan Inul yang sangat fantastis dan dapat menggoyangkan iman. Karena saat ini seni telah menjadi sebuah komoditas yang bertujuan untuk melemahkan benteng moral. Dan telah menjadi kebutuhan vital masyarakat modern. Untuk melawannya tidak cukup dengan penghujatan dan pelarangan, namun harus mampu mencari inovasi-inovasi baru serta menghasilkan dan melahirkan karya berkualitas tinggi. Di samping itu umat Islam yang mayoritas, diingatkan kembali untuk meningkatkan kreatifitas pemikiran (keilmuan), di berbagai bidang, khususnya kesenian.

Barangkali kehadiran Inul patut disyukuri, karena kehadiran kebatilan tersebut akan memacu berbagai kalangan untuk memikirkan cara-cara kreatif dan inovatif untuk membendung abrasi moral. Barangkali harus membuka lembaran sejarah, dan mengambil pelajaran dari keberhasilan Wali Songo dalam berdakwah di nusantara. Para Wali kala itu berhasil  mengislamkan (hampir 90 %) rakyat nusantara, dari rakyat yang menganut paham paganisme menuju paham monothoisme (syahadah). Keberhasilan para Wali dalam berdakwah disebabkan pendekatan yang beliau-beliau pergunakan ketika menyampaikan dakwah.

Barangkali metode yang dipergunakan oleh para Wali Songo  bisa diterapkan kembali dalam abad 21 yang sangat unik ini. Abad yang penuh sensasi dengan berbagai penemuan teknologi canggih, sehingga manusia men-tuhankan hasil rancang manusia serta menghabiskan waktu demikian panjang mencari sumber ilmu yang bermuara dari teknologi. Padahal kebangkitan peradaban bangsa Eropa dalam penguasaan dan pengembangan sains karena mengadopsi ilmu dari para ilmuwan Islam, sedangkan peradaban Islam sendiri surut dan memudar. Bangsa-bangsa di belahan bumi barat sebenarnya berhutang budi pada Islam.. Sayang sekali, sampai saat ini masyarakat Islam telah melupakan dan tidak mau lagi membaca sejarah.

Kondisi masyarakat Islam yang demikian itulah, benar-benar dimanfaatkan oleh Zionisme Internasional. Berkedok kemajuan peradaban manusia, berbagai pandangan-pandangan dan produk yang meruntuhkan serta menghancurkan moral dibungkus dan dikemas rapi. Hal itu dapat kita saksikan dalam tayangan-tayangan yang disiarkan hampir 24 jam di layar kaca. Banyak sekali iklan yang dikemas dalam adegan syur, jalinan cerita sama sekali tidak menggambarkan etika masyarakat Indonesia, pengaburan nilai moralitas, kekacauan konflik yang dikemas dalam adegan perseteruan yang tidak mendidik, adegan kekerasan. Tontonan tersebut dinikmati oleh berjuta-juta rakyat dan telah menjadi sebuah pembenaran umum. Ini jaman modern.

Sementara itu banyak dari para pemimpin negeri ini baik pusat maupun di daerah, super sibuk mengurusi berbagai kepentingan yang akhirnya hanya bermuara pada kepentingan kelompok dan pribadi. Mayoritas masyarakat kecil megap-megap, harga kebutuhan melambung tinggi, biaya pendidikan tak terjangkau, hukum berpihak pada uang serta lapangan pekerjaan telah menjadi sebuah komoditas. Sementara itu di layar kaca, babe yang duduk di pusat berulang tahun sangat meriah, dikelilingi para selebritis  ber-penampilan  glamour. Sangatlah ironis.

Sehingga tidaklah mengherankan, ketika sosok Inul tampil mewakili wong alit yang demikian gigih memperjuangkan perbaikan nasib, dicaci, dicerca dan dihujat, dukungan dari arus bawah demikian gencar. Karena goyangan erotis Inul, merupakan sarana hiburan untuk menghilangkan keruwetan memikirkan keadaan bangsa yang penuh konflik, sebagaimana dikatakan oleh seorang pengamat di Televisi, bahwa bangsa ini dibangun karena sebuah konflik.

Maka tidaklah mengherankan kalau Inul Daratista go internasional, maka Inul merupakan figur yang sangat istimewa karena  mampu  menaikkan pamor bangsa ini hanya bermodalkan bokong.

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda