Pendidikan merupakan salah satu elemen yang paling mendasar dalam upaya meningkatkan Sumber Daya Manusia. Kualitas generasi mendatang, akan ditentukan oleh produk pendidikan yang dicanangkan saat ini. Maka tidaklah berlebihan apabila Pemkab Sumenep memberikan perhatian yang lebih serius, diantaranya dengan dibentuknya Dewan Pendidikan Sekolah. Adapun anggota-anggota Dewan Pendidikan terdiri dari beberapa unsur, antara lain unsur akademisi, pakar pendidikan, praktisi pendidikan, wartawan, budayawan dan LSM.
“Dewan Pendidikan menerapkan sistem kemitraan dengan semua elemen yang ada”, ujar K. Ilyasi Sirajd dalam sebuah perbincangan. Lebih jauh sosok murah senyum, yang terpilih menjadi ketua Dewan Pendidikan ini menjelaskan, “Dewan Pendidikan Sekolah non struktural, karena merupakan wadah partisipasi masyarakat”.
Lebih jauh beliau menepis anggapan miring yang sering dilontarkan oleh beberapa kalangan, bahwa Dewan Pendidikan merupakan tangan kanan dari pihak Pemkab ataupun DPRD. Karena program kerja utama Dewan Pendidikan Sekolah adalah menampung serta menyerap semua aspirasi dari berbagai elemen masyarakat, mendengarkan pikiran-pikiran dari para ahli dan para praktisi pendidikan serta pikiran berbagai kalangan. Semua permasalahan tersebut dirumuskan oleh DPS, kemudian mengambil langkah dalam bentuk kajian.
“Untuk diketahui oleh masyarakat bahwa DPS tidak masuk dalam lingkup kerja tehnis”, kata K. Ilyasi Sirajd lebih gamblang, “Semua aspirasi yang masuk ke DPS akan dikaji dari sisi urgensinya, dan dari sisi ankuntabilitasnya. Kemudian pikiran-pikiran hasil kajian tersebut disampaikan kepada para pengambil kebijakan di tingkat pemerintahan sebagai bahan pertimbangan. Di samping sebagai penyambung aspirasi, DPS berperan mengembangkan fungsi mediasi, sebagai mediator antara Dinas Instansi, DPR ataupun masyarakat apabila ada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan masalah pendidikan.
Di samping sebagai wadah aspirasi semua elemen masyarakat yang peduli terhadap dunia pendidikan, DPS mempunyai ruang lingkup kerja sebagai institusi kontrol. Ruang lingkup kontrol terkait dengan pemerataan pendidikan, efesiensi anggaran yang tepat sasaran sekaligus masalah ketenagaan yang meliputi peningkatan mutu tenaga pengajar, efektifitas tugas dari guru.
Menjawab pertanyaan tentang visi dan misi DPS, K Ilyasi Sirajd menjelaskan bahwa koridor kerja dari DPS tidak terlepas dari rencana strategis pembangunan Pemkab Sumenep. Sehingga implementasi visi dan misi DPS akan dikonkritkan, dibahas dan dirumuskan secara bersama-sama, karena DPS merupakan kerja kolektif.
Di ruang kerja yang mulai tertata rapi dengan sejumlah fasilitas yang memungkinkan bekerja secara efektif, DPS membuka diri kepada semua kalangan masyarakat, khususnya yang menangani institusi pendidikan untuk bersama-sama mengembangkan pendidikan ke arah yang lebih baik. Sehingga di masa mendatang tidak ada lagi semacam gap antara sekolah Negeri dan Sekolah Swasta, tidak ada lagi kesenjangan kualitas.
Di samping itu tak kalah pentingnya adalah peningkatan pelayanan pendidikan kepada masyarakat, DPS berupaya mendorong kepada institusi pendidikan untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan pendidikan. Sehingga pendidikan bukan sesuatu yang eksklusif dan bisa dinikmati oleh semua kalangan, tanpa memandang status sosial. Paradigma itu akan di sosialisasi ke berbagai kalangan, baik kepada tokoh masyarakat ataupun sekolah-sekolah.
Lembaga DPS periode pertama dan dikukuhkan melalui SK Bupati, dalam menata kepengurusan DPS menekankan pada bidang membangun kepengurusan agar memiliki kontruks yang bagus dan mapan. Setelah itu menghimpun fungsi kemitraan yang maksimal, fungsi pendukung dan secara otomatis adalah fungsi kontrol. Setelah melakukan kajian dan evaluasi, fungsi kontrol perlu dijalankan untuk mencari kelemahan dan kekurangan dari sistem pendidikan yang dijalankan.
“Setelah diketahui kelemahan dan kekurangannya, maka DPS menyampaikannya pada pihak Pemkab dan DPRD, khususnya komisi E. Setelah itu bersama-sama mencari solusi serta format yang paling pas, mencari jalan terbaik serta memperbaiki bersama. Dengan demikian dalam membangun manusia yang utuh, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pintu pendidikan akan tercapai”, ujar K. Ilyasi Sirajd mengakhiri pembicaraan. ( El - 2003)



0 Komentar ::