“Kalau aku ikut ujian lalu ditanya, tentang pahlawan, Namamu, ibu yang kan kusebut, paling dahulu.” Penggalan puisi karya D. Zawawi Imron tersebut melambangkan sebuah penghormatan yang demikian tinggi pada sosok “Ibu”. Sosok dan figur Ibu sepanjang sejarah peradaban manusia senantiasa berada pada posisi terdepan. Walaupun dalam sejarahnya posisi kaum perempuan “Ibu” pernah berada dititik terendah (titik nadir) dalam sejarah panjang kemanusiaan. Berkat perjuangan panjang para pahlawannya, kini kaum Ibu menuai posisinya kembali sebagai sosok terdepan pengembang amanah yang menghantarkan umat manusia kembali kepada nilai-nilai kemanusiaannya.
Melalui bincang-bincang panjang, Ibu Dra. Hj. Mariyatul Kiptiyah, M. Ag, Ketua STAIN Pamekasan dengan reporter Info, El Iemawati dalam suasana santai, beliau memaparkan berbagai permasalahan tentang problematika dan dinamika kaum Ibu dari berbagai sudut pandang, di kediamannya, jalan Barito Sumenep, 18/12/2006.
Barangkali Ibu bisa menceritakan tentang kilas balik mengapa mesti ada “Peringatan Hari Ibu” ?
Ini merupakan suatu penghormatan bagi kaum seorang ibu mulai dari dalam keluarga penuh dengan perjuangan, ya sesuai dengan kodratnya. Tugas ibu memang sangat berat sekali, maka ada hari ibu. Disamping itu juga dalam Islam wanita atau ibu dijunjung sangat tinggi. Jadi dengan adanya suatu penghargaan kepada kaum ibu merupakan hadiah penghormatan dan penghargaan tinggi, sebab menurut yang kita lihat apalagi fenomena yang ada sebagian besar ibu atau kaum perempuan masih termarginalkan.
Marginalisasi itu kan ada beberapa sebab, diantaranya dominasi kaum laki-laki maupun kultur masyarakat. Menurut pendapat Ibu bagaimana ?
Dominasi atau marginalisasi pada kaum perempuan itu memang sebagian ada yang mengatakan kultur. Tapi menurut saya pribadi setelah membaca bermacam-macam buku yang paling pokok adalah dari kelemahan dasar kaum perempuan sendiri. Kalau kita kuat dalam masalah pendidikan, Insya Allah marginalisasi yang disebut-sebut itu tidak ada, apalagi kultur. Sebab kultur dikatakan marginal terhadap perempuan itu saya pikir tidak seluruhnya benar. Jadi ada kultur dalam pembentukan, kalau dikatakan “kambing hitam”, ya ndak ya. Tidak seluruhnya kultur itu membuat marginal bagi perempuan.
Kembali lagi pada masalah apabila dikaitkan dengan pendidikan perempuan akan mendapatkan tempat yang sesuai dengan kemampuan perempuan. Jadi, saya pikir tidak ada laki-laki tidak ada perempuan kalau dia punya kemampuan dia akan ditempatkan pada tempat yang layak.
Mayoritas di Indonesia, terutama sebagian masyarakat yang masih meletakkan perempuan (Ibu) tetap pada wilayah domestik. Ada batasan-batasan gerakan bagi kaum ibu sehingga ruang geraknya menjadi sempit, dan ini merupakan sebuah pemasungan, menurut Ibu ?
Memang, sepertinya kalau kita lihat masih adanya batasan-batasan atau pengkotakan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dinomorduakan istilahnya, tapi tetap kembali pada pendidikan, kalau kita memang mempunyai pengetahuan, ada keberanian dan juga ada restu atau ada laki-laki yang mau memahami posisi perempuan, saya kira tidak ada benang marginal.
Ini berarti tantangan ke depan semakin berat dan kompleks ?
Benar, tantangan dan tugas Ibu semakin berat dan semakin kompleks. Apalagi setelah adanya isu-isu perempuan yang ingin memposisikan diri sama, dalam arti gerakan-gerakan yang minta sejajar dengan laki-laki. Justru saya pikir itu menjadi tantangan semakin besar bagi kita. Ya, kadang-kadang kita terlalu over lapping lah ! Dalam rangka emansipasi itu. Kalau kita kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan Hadist, saya kira sudah sesuai dengan kodratnya dan apa yang dituntut oleh sebagian kaum feminis itu untuk sama dalam arti setara itu sulit untuk didapatkan. Justru akan mendapatkan tantangan yang lebih berat.
Seharusnya bagaimana ?
Ya, kembali lagi kepada pengetahuan perempuan dan juga terutama kembali lagi pada pengendalian emosinalnya. Kemajuan IPTEK dalam satu sisi kita bisa berada dalam taraf kemajuan, tetapi sisi lain juga tantangan. Terutama ini dalam bidang teknologi, perempuan-perempuan justru dibikin suatu propaganda, di TV misalnya. Justru itu perempuan di ekspos tapi dalam rangka mendapatkan hal-hal yang menguntungkan. Kadang-kadang kita tidak merasa, dan itu justru merugikan perempuan.
Tapi itu kan lambang kebanggaan dan kesuksesan ?
Anggapan seperti itu bagi wanita yang tidak memahami kodrat dirinya, dia merasa dengan berbuat begitu akan merasa berhasil, merasa sukses. Hal semacam itu merupakan kemunduran daripada perempuan. Makanya dalam emansipasi itu ada koridor-koridor tertentu terutama kita harus kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan Hadist.
Maksudnya ajaran-ajaran yang seimbang bagaimana mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri manusia, baik laki-laki maupun perempuan ?
Iya, sesungguhnya dalam ajaran Al-Qur’an itu perempuan sudah diletakkan pada posisi yang sebenarnya, misalnya dihormati, dilindungi. Itu bukan berarti kelemahan dari perempuan. Justru itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bahwa adanya suatu ikatan batin antara laki-laki dan perempuan, yaitu merasa dilindungi. Kadang kaum perempuan (ibu) merasa emosional, mengapa kita mesti dilindungi ? Dan itu menandakan kelemahan. Saya rasa itu kurang tepat.
Tapi kan sekarang ini kaum Ibu semakin dimanjakan dengan berbagai produk IPTEK sehingga lebih mempunyai waktu luang dalam pengembangan diri ?
Kemajuan IPTEK tidak dapat kita bendung, satu sisi mengandung segi negatif dan satu sisi positif. Salah satu sisi positif barangkali kita lebih efektif, efektif dalam masalah waktu, efektifitas itu akan cepat tercapai. Tapi dalam sisi lain ketrampilan di dalam rumah tangga ibu-ibu sekarang tidak setrampil orang-orang dulu, dan kadang-kadang kita juga mengandalkan orang lain, pembantu misalnya. Kita maju satu sisi tetapi tidak sama persis dengan laki-laki, di bidang-bidang lain kita mengalami kemunduran.
Untuk menyeimbangkan dan mengoptimalkan keduanya harus bagaimana ?
Itu sulit (sambil tertawa) sulit … sulit …. Tapi paling tidak kita bisa sejalan dalam rangka melaksanakan kewajiban membangun sebuah peradaban
Berarti kaum Ibu harus lebih aktif dan bisa membagi waktu, begitukan Bu ?
Ibu-ibu sekarang kan banyak yang ikut aktif di organisasi, aktif di pendidikan, sehingga yang di rumah harus terkurangi, begitukan ? Paling tidak komunikasi antar keluarga tetap berjalan dengan baik, dengan anak-anak memperhatikan. Paling tidak kalau anak jauh kita tanya perkembangan sekolah atau kuliahnya. jadi kita mengantisipasi misalnya pagi-pagi sudah sholat apa belum ? Itu sangat penting, jadi tidak kita lepas
Kondisi yang pragmatis saat ini telah mengikis nilai-nilai yang ada, apalagi tayangan Televisi yang 24 jam. Menurut Ibu bagaimana ?
Iya, tapi kita sulit untuk menghindari itu, kita tidak mungkin untuk menghalangi anak-anak terutama keluarga untuk tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk Televisi maupun internet. Paling tidak kita tahu apa yang dilihat oleh anak-anak, oleh karenanya kita arahkan misalnya tayangan-tayangan yang mengekspos wanita dengan pakaian-pakaian telanjang, kita katakan itu baju apa, budaya apa dan budaya siapa, sekaligus kita jelaskan kepada anak-anak itu pakaian siapa, kita siapa. Dengan demikian anak-anak bisa mempelajari, bisa memilah dan memilih mana yang tepat untuk dirinya mana yang harus ditinggalkan.
Berarti kan pendampingan itu harus terus menerus kita lakukan ?
Ya, saya pikir ya, pendampingan anak-anak kemudian pada masa remaja, jangan-jangan ketika kita tidak mendampingi jauh tertinggal kita sudah seperti jurang mengaga tahu-tahu anak-anak kita sudah jauh, tidak sesuai dengan harapan kita. Jadi tetap kita harus mewaspadai siapa temannya, apa kegiatannya maupun teman bergaulnya. Kita harus selalu menjadi teman dekatnya, teman curhatnya, sehingga anak-anak kita tidak lari mencari sosok dan figur lain.
Itu kan bisa diterapkan oleh kaum Ibu yang sudah mengenyam pendidikan, bagaimana dengan kaum Ibu lainnya yang masih belum beruntung mendapatkan akses pendidikan yang memadai ?
Memang tantangan permasalahan masyarakat juga menjadi permasalahan kita. Jadi paling tidak kalau seperti para dai yang langsung terjun ke masyarakat, mungkin lewat pengajian-pengajian itu. Tapi kalau seperti kita di lembaga pendidikan, melalui mahasiswa, artinya dengan mahasiswa itu kan nanti terjun ke masyarakat kemudian menyebarkan dan mentransferkan semua apa yang diperoleh di bangku kuliah. Itu sebagai penyambung dari kita-kita yang ada di lembaga pendidikan
Ya mestinya pendidikan itu tanggung jawab keluarga, masyarakat dan Pemerintah. Dengan berbagai usaha harus duduk bersama, bagaimana mengatasi semua hal-hal terutama dalam peningkatan IPTEK ini yang negatifnya memang sangat banyak sekali. Memang harus sama-sama duduk bareng, masyarakat, Pemerintah dengan kekuasaannya, kemudian keluarga dengan kelemahlembutannya, di sekolah juga dengan kewajibannya
Dengan cara bagaimana ?
Ya kita mulai dari keluarga, keluarga merupakan unit terkecil, kemudian agak meluas dan meluas. Dari keluarga-keluarga ini penyadaran dilakukan secara terus menerus, bertahap dan berkesinambungan, maka akan melebar ke seluruh anggota masyarakat
Masalahnya sekarang ini banyak kalangan orang tua yang malah bangga kalau anak-anaknya mengikuti trend budaya yang ada. Nah lewat pintu mana penyadaran itu dimulai ?
Ya itu kembali kepada keluarga lagi kewajibannya. Jangankan orang-orang lain, anak-anak kita kan tidak paham akan budaya impor, misal valentine, valentine itu apa, makanya walaupun sudah jadi ibu mestinya, mestinya harus membaca dan belajar terus, belajar kan tidak ada henti-hentinya. Ibu harus tahu apa itu valentine, anak saya juga begitu, akhirnya saya jelaskan, valentine itu apa, sejarahnya apa, kemudian apa dibalik kejadian itu.
Kalau budaya lainnya masih bisa di toleransi, tapi kalau hal-hal semacam valentine kan milik mereka. Itu harus kita beri pengertian pada anak-anak bahwa itu bukan hanya kebudayaan tetapi sudah menyangkut pada masalah akidah. Namun demikian kita kepada anak-anak juga, paling tidak memberikan suatu, misalnya seperti ulang tahun, ini kan kadang-kadang sudah membudaya di anak-anak kita. Paling tidak bagaimana anak kita untuk mengapresiasikan apa yang diingini anak-anak, bisa dengan misalnya memperingati hari kelahirannya itu dengan ajaran-ajaran kita, diajak berzikir, membaca shalawat atau berpuasa. Kita berikan dasar-dasarnya bahwa seperti nabi setiap hari Senin itu kan puasa dalam rangka. Jadi kita berikan pada anak, sehingga anak-anak itu apa yang ia inginkan dapat ter-akomodir, tapi kita juga mewarnai jiwa anak-anak kita dengan budaya Islam.
Aspek-aspek apa yang menjadi prioritas supaya kaum ibu menjadi figur terdepan dalam mencetak anak-anak bangsa yang humanis, beriman, berilmu dan ber-imtak ?
Keinginan kita kan semuanya itu sempurna kan, cuma memang sulit, sulitnya itu karena pendidikan itu adalah sebuah proses, dan proses itu tidak hanya dibentuk oleh ibu sendiri tapi juga lingkungan, juga sekolahan, keluarga, lingkungan teman-temannya. Paling tidak kita dari semua aspek yang ikut membentuk daripada kepribadian dan anak ke depan itu kita harus tahu ya. Itu tadi, yaitu kembali lagi kepada faktor-faktor lingkungan, siapa temannya, kemana dimana, tidak kita lepas anak sendirian. Semuanya dalam dan membutuhkan proses, mudah-mudahan dalam proses itu yang bisa mengarahkan anak-anak sesuai harapan kita. Ya temannya kita lihat, kemudian lingkungannya, apa yang dipelajari, apa yang dibaca.
Dalam artian ibu tidak bisa mengemban tugas sendirian untuk mengembangkan kemampuan diri, harus didukung oleh komponen-komponen yang ada.
Ya dari semuanya. Jadi dari kreatifitas, baik secara individu, dan dari individu itu mungkin ada kelompok-kelompok dan ada juga dari lembaga-lembaga yang semi formal yang ikut memberikan andil bagaimana ibu eksis dalam pengembangan diri. Tanpa dukungan itu saya kira bisa saja, tapi untuk memperlancar perlu adanya dukungan-dukungan dari pihak lain. Ya seperti organisasi kewanitaan. LSM, misalnya di Perkumpulan Muslimat, perkumpulan Aisyiah, disana dibentuk bukan hanya pengajian-pengajian saja, tapi perlu juga mengembangkan produktifitas yang ada dan itu bisa dikembangkan.
Dalam konteks yang lebih sempit apa yang mesti dilakukan agar kaum ibu kembali memiliki ketrampilan dan kreatifitas yang nantinya akan mampu mengangkat dan membangun aspek ekonomi, terutama ekonomi keluarga ?
Ya kita kembali membangun kebersamaan, kita menginginkan sesuatu budaya yang lama itu kembali. Sisi negatif kemajuan IPTEK kita banyak meninggalkan budaya-budaya yang kita miliki dahulu. Sebab sekarang itu kita suka yang instan, paling tidak kita mulai dari pendidikan anak-anak sejak awal apa itu di Pemerintah Daerah dengan aturan-aturan yang ada bagaimana memasukkan dalam kurikulum lokal baik dengan kebudayaannya, misalnya bahasa darah itu tetap dikembangkan, memberikan porsi yang lebih banyak pada pengembangan ketrampilan baik dari jenjang dasar sampai ke Perguruan Tinggi. Dengan demikian anak-anak kita mengenal, menyayangi sekaligus memiliki terhadap budaya kita sendiri.
Harapan-harapan yang perlu Ibu sampaikan kepada kaum Ibu ?
Ya tetap membaca, membaca itu kan banyak sekali, bukan hanya membaca buku tetapi membaca fenomena-fenomena yang ada dalam rangka pengembangan putra-putrinya. Jadi belajar itu tetap, kapan pun, karena untuk mencapai kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan di akhirat semuanya itu dengan ilmu. Tidak hanya kesuksesan, dimanapun tetap melalui pintu ilmu pengetahuan. Dengan pelajaran apa saja ilmu pengetahuan apa saja, dengan semakin banyak pengetahuan, bagaimana cara mendidik, bagaimana cara mengarahkan anak, bagaimana untuk meladeni suami, semuanya itu dengan pengetahuan.(pewawancara : Lilik Rosida Irmawati)



0 Komentar ::