Jumat, 25 Mei 2012

Zakat Mal Potensi Besar Pemberdayaan Perekonomian Umat


 Potensi terbesar untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi umat Islam adalah zakat, terutama zakat mal. Namun potensi tersebut belum mampu mengangkat derajat perekonomian umat Islam karena belum dikelola secara terpadu dan secara profesional. Pengelolaan zakat yang tidak menyatu ini disebabkan oleh kultur masyarakat yang masih mempercayakan pengelolaan zakat kepada elite agama di wilayah masing-masing. Hal itu menyebabkan dana yang terhimpun dan disalurkan kepada yang ber-hak menerima bersifat sementara dan digunakan secara konsumtif. Kalau diumpamakan hanya memberikan ikan, tetapi tidak memberikan umpan (kail). Sementara itu lembaga yang menangani penerimaan dan pengelolaan amil zakat dianggap belum mampu menunjukkan kinerja yang profesional. Mengapa dan bagaimana persoalan zakat mal dan pengelolaannya ? Berikut ini wawancara Reporter Info, El Iemawati dengan Ketua PCNU Sumenep, Drs. KH. Abdullah Cholil, M. Hum. Jum’at (30/09) kemarin di kediamannya.
Dalam ibadah puasa ini ada satu kewajiban, yakni membayar zakat, untuk masyarakat Sumenep apakah sudah diorganisir, terutama zakat mal ?
Kalau lembaganya sudah ada, yaitu Bazis badan zakat, infak dan sodaqoh. Hanya saja barangkali badan Bazis ini masih belum optimal., pertama memang dari gairah masyarakat tidak dapat diarahkan secara keseluruhan untuk menyerahkan zakat mal-nya ke Bazis, masih banyak masyarakat yang lebih puas kalau menyerahkan sendiri. Ada makna bahwa faktor kepercayaan  yang masih menjadi perhatian
Faktor  kepercayaan kepada elite agama ?
Ya..
Kemudian bagaimana peran Bazis dalam menghimpun zakat mal, kalau kita ambil contoh Bazis di Jakarta dalam mengelola Bazis, sehingga tidak hanya memberikan ikan kepada penerima zakat, tetapi memberikan pancing dan umpan. Menurut Bapak, bagaimana potensi tersebut di Sumenep?.
Barangkali di dalam Bazis itu perlu banyak koordinasi antara personal-personal di dalam kepengurusan itu. Lazimnya masyarakat terutama masyarakat pedesaan mempercayakan segala sesuatunya kepada elit agama. Dari persoalan tembakau, mengawinkan anak, memberikan nama anak termasuk menyerahkan zakatnya kepada elit-elit agama. Barangkali keterlibatan elit agama itu perlu di lembaga Bazis, sehingga Bazis yang sudah punya sistem diharapkan nanti pengelolaannya profesional. Kemudian munculnya tokoh-tokoh agama, katakanlah Kiai di dalam Bazis ini untuk memunculkan kepercayaan, jadi antara kepercayaan dan sistem pengelolaan ini memang harus padu. Kalau ini bisa menyatu, barangkali lambat,  tetapi suatu saat ini akan lebih baik. Sementara ini masyarakat masih membaca, ada-lah di antara pengurus-pengurus Bazis itu memang punya latar belakang agama, tetapi lebih banyak di dominasi oleh para PNS, maupun pejabat
Apakah ada kiat-kiat khusus agar Bazis mampu mengelola zakat mal agar lebih profesional ?
Memang harus ada kiat-kiat bagaimana elit agama ini bisa di tarik jadi pengelola Bazis, jadi bukan cuma secara simbolis saja muncul di situ tetapi diberi peran yang banyak dan besar. Jadi kalau perlu ya muncul elit-elit agama, sementara yang lain itu pelaksana-pelaksana teknis, mau dikelola seperti apa zakat itu ? Monggo, … . Kalau kita telah punya sistem, tentunya kita ber-keinginan seperti Bazis yang di Jakarta, itu sangat bagus sekali.
Dalam arti apakah langkah-langkah itu sudah ada ? Langkah-langkah praktisnya atau langkah prakteknya ? Seperti pencerahan ?
Sebenarnya ada, cuma di tingkat-tingkat instansi yang saya tahu. Jadi ada edaran dari instansi-instansi supaya karyawan-karyawati menyerahkan, cuma dalam edaran itu masih perlu barangkali dijelaskan secara rinci bagaimana sistem pengelolaannya, jadi bukan cuma dengan bahasa siap untuk menyalurkan kepada yang berhak, nah kalau cuma dengan bahasa siap menyalurkan kepada yang berhak saya pikir semua seperti itu , jadi perlu macam yang di Jakarta itu bagaimana sistem penyalurannya itu dijelaskan sedemikian jelas, sedemikian rinci, jadi agar tidak seperti yang sudah berjalan selama ini. Sementara untuk sosialisasi ke tingkat-tingkat masyarakat nampaknya kok belum nyampe’, walaupun memang ada edaran hanya pada Camat, para Camat itu diminta untuk mensosialisasikan edaran dari Bazis itu.

Yang kami tanyakan bagaimana peran PCNU untuk mengelola Zakat sebagai potensi  besar pengembangan pemberdayaan ekonomi umat ?
Ya.. sampai saat ini memang kami akui karena kami baru saja dilantik, kami baru saja rapat sebatas apa yang bisa kami lakukan sebatas koordinator, makanya akan ditindaklanjuti lagi dengan rapat-rapat berikutnya, jadi kami tidak sampai kepada persoalan-persoalan zakat, jadi memang tidak kami agenda kan. Tapi Insya Allah, nanti Syuriah yang memang punya otoritas, sedangkan kami di pengurusan NU itu di Tanfidziah, Tanfidziah itu pelaksana,  jadi otoritas police itu Syuriah, karenanya memang ini harus dibicarakan di tingkat Syuriah,  bagaimana untuk melaksanakan proses menerima dan menyalurkan zakat dari warga, cuma selama ini kami baca masyarakat itu sudah punya, maaf  bahasa saya langganan-langganan sendiri, jadi kami percaya pula, dan kami serahkan kesana (masyarakat; red). Jadi tidak terlalu terikat kepada institusi, termasuk juga NU, makanya  NU juga tidak terlalu masuk kesana, kenapa ? Karena Baziz sudah ada, sementara institusi-institusi dipercaya oleh masyarakat itu sendiri itu pun sudah ada, tinggal penataannya, jadi itu yang sekarang terjadi sehingga zakat yang dilakukan itu sekarang ini hanya konsumtif.
Bagaimana dengan zakat mal-nya ?
Zakat mal juga seperti itu juga, banyak yang diserahkan kepada lembaga, artinya pemilik lembaga itu sebagai penerima, dan diharapkan pemilik lembaga itu juga bisa memanfaatkan zakat mal itu untuk kepentingan lembaganya, kemudian tentu saja karena sudah percaya diharapkan yang menerima itu juga mengarah pada mustahij , yaitu orang yang ber-hak selain lembaga itu termasuk bagian fi sabilillah
Begini pak Kyai, tadi sempat disinggung bahwa sistem penyaluran zakat di negeri kita cenderung menjadikan masyarakat kita sebagai masyarakat konsumtif. Bagaimana upaya untuk merubah mereka menjadi masyarakat yang produktif dari zakat yang diterimanya? Seperti membentuk lembaga perekonomian umat misalnya, kaitannya dengan NU sendiri ?
Kalau NU sekarang sedang  fokus programnya bidang  pemberdayaan ekonomi umat. Kami masih bicara tatanan-tatanan model apa yang akan kami bangun, cuma belum sampai menyentuh pada zakat mal ini, baru kemarin malam terbentuk jadi belum bicara tentang teknis, mungkin minggu ini sudah akan ada pembicaraan-pembicaraan tentang pemberdayaan
Pengurus-nya itu dari unsur mana ?
Selama ini yang kami rekrut dari unsur pengusaha-pengusaha yang selama ini memang mereka menjauh dari NU padahal mereka kader-kader NU sehingga tidak bisa memberikan kontribusi pada warga NU, nah sekarang kami merekrut mereka, yang diharapkan nanti tentunya punya kepedulian memberikan kontribusi kepada warga NU disamping juga menguntungkan kepada pengusaha itu sendiri karena, memang pangsa NU itu sendiri pangsa yang sangat besar..
Jadi langkah-langkah ke arah sana  itu sudah ada ?
Sudah ada, artinya walaupun dalam tatanan yang masih umum arah untuk pemberdayaan umat …
Khususnya zakat mal ?
Zakat ini nanti akan kami bicarakan dengan unsur Syuriah. Dalam kepengurusan NU hal-hal yang terkait langsung dengan persoalan-persoalan keagamaan muara-nya di Syuriah. Kami di Tanfidziah sebatas sebagai pelaksana, jadi termasuk bagian yang akan kami lakukan pemberdayaan ekonomi umat.
Bagaimana .potensi zakat di Sumenep kaitannya dengan pemberdayaan umat, yaitu konsep pemberdayaan  umat  dengan pengelolaan zakat ? Kedepannya konsep pemberdayaan berkaitan dengan SDA ?
Hanya saja  persoalannya kankepengurusan itu masih berapa hari, walaupun konferensi nya sudah lama. Memang ada program yang di arena konferensi itu terutama pemberdayaan di bidang ekonomi, karena memang potensi  SDM di Sumenep lebih banyak perempuan, tentu saja perempuan harus juga memegang peranan, cuma model kami tidak berjalan  seperti itu, jadi nanti akan ada sebuah lembaga,  katakan kalau di Pemerintah Daerah punya lembaga Bazis, kami sebenarnya juga punya lembaga cuma lembaga ini tidak dibentuk sekarang karena kami melihat sejauh mana  kinerja Bazis itu, khawatir nanti ada indikasi yang satu dengan yang lain  saling terpengaruh atau  saling mempengaruhi, itu yang tidak kita inginkan.
Berarti lembaga itu sudah ada ?
Ya, itu yang dibentuk oleh Pemerintah, yaitu Bazis. Di lembaga NU ada juga yaitu lembaga Amil zakat, tetapi belum terbentuk sampai sekarang
Anggota-anggotanya Bazis berasal dari unsur apa, apakah dari ada juga ?
Ya ada, anggota-anggota Bazis ada juga yang berasal dari unsur NU. Kemudian berasal dari instansi-instansi, dari perwakilan-perwakilan Ormas itu juga ada..
Bagaimana kinerja dan pengelolaan Bazis di Sumenep ?
Masih belum, masih belum seperti yang diharapkan, nah kalau bisa menyatu antara kekuatan kultur dalam arti tokoh-tokoh agama dan masyarakat,  Insya Allah  untuk menyalurkan zakatnya ke Bazis itu bisa diharapkan lebih banyak manfaatnya..
Langkah-langkah atau konsep ke arah penyatuan itu apa sudah ada ?
Untuk NU belum masuk ke sana bahkan NU masih menjajaki kemungkinan-kemungkinan menghidupkan lembaga yang memang ada di NU. Seberapa efektif kalau ini ada, sebab masyarakat NU itu unik-nya, masyarakat NU itu punya lembaga tetapi mempunyai kepercayaan kepada si fulan, si fulan dan si fulan, apa efektif kalau lembaga itu ada, sementara Bazis sudah ada dan nyatanya  Bazis kurang efektif. Itu akan kami kaji, akan kami pelajari
Apa ini bukan sebuah indikasi ketidakpercayaan kepada Bazis maupun elite agama ?
Ada semacam ini, tapi yang lebih dominan barangkali sekian lama orang itu mempunyai kepercayaan kepada orang-orang tertentu sebelum Bazis itu muncul, jadi sebelum ada Bazis, sebelum ada lembaga amil zakat, sebelum ada lembaga-lembaga yang menerima dan menyalurkan zakat, panitia-panitia yang banyak itu, masyarakat sudah punya pilihan sehingga percaya kepada pilihan itu. Nah, kalau ini efektif sebenarnya pilihan-pilihan masyarakat itu nanti bisa bergabung dalam satu wadah Bazis, sehingga semuanya ke sana. Dengan terkumpulnya zakat dalam satu wadah maka dana tersebut akan mampu untuk memberdayakan umat.
Barangkali perlu semacam advokasi dalam hal penyaluran zakat ini?
Saya pikir tidak perlu cukup dengan himbauan elit agama itu sampai sekarang masih ampuh. Ya tapi kalau advokasi persoalan-persoalan yang sulit untuk diselesaikan itu perlu
Kendala apa yang menyebabkan menyatukan konsep dan langkah-langkah kebersamaan mengalami hambatan ?
Menyatukan visi itu memang sangat sulit, saya terpaksa harus membuka, ketika muncul lembaga-lembaga amil zakat, semacam Bazis ada anggapan karena memang banyak sebenarnya orang yang mempunyai hak, dan termasuk salah satu  diantara delapan asnab, sekian lama dia itu menerima, karena memang dianggap punya hak untuk menerima dan di percaya untuk menyalurkan, contoh guru ngaji, dia tidak mendapatkan bayaran apa-apa, karena keikhlasannya dia membuat langgar sendiri, kemudian mencukupi sarana dan mengorbankan waktunya untuk mengaji, nah orang semacam ini menurut wacana sebagian masyarakat ini sangat perlu untuk  disantuni.  Sehingga dijadikan alasan. Ketika muncul lembaga lain, malah ada anggapan jangan-jangan mengurangi hak dari orang yang sudah terbiasa disantuni. Pikiran-pikiran semacam itu masih ada, ketika ada panitia amil zakat maka akan mengurangi hak dari Kiai, ini akan mengurangi hak dari Ustadz ini. Ini memang memerlukan pemikiran. Walaupun dia tidak mengharap, tetapi termasuk salah satu asnab yang perlu mendapatkan juga. Kalau semuanya tersedot ke sini, nanti kalau yang mengelola di sini, menerimanya, menyalurkannya. Apa mengalir ?
Jadi kultur-kultur semacam itu  untuk menyalurkannya dalam satu wadah itu sangat sulit ?
Ya, cukup sulit, karenanya harus dari atas, pengelolaannya itu supaya secermat mungkin, sehingga orang yang sudah biasa menerima itu tetap menerima disamping asnab-asnab yang lain. Itu yang menjadi persoalannya, ini kultur
Jadi masih sulit merubah kultur yang ada ? Contoh misalnya meniru model pengelolaan Bazis di Jakarta ?
Ya.. karena pendekatan masyarakatnya sangat berbeda, kalau di Jakarta dengan pendekatan rasional, di sini masih pendekatan emosional
Mungkin langkah-langkah ke depan, bagaimana PCNU dengan konsep-konsepnya membangun wacana baru terutama masalah pengelolaan Zakat yang dilakukan oleh Baziz !
Pertama, elite-elite agama perlu di rekrut sebanyak-banyaknya  untuk mewakili kultur  dan usaha mendekati secara kultural. Kedua lembaga amil zakat Baziz harus membuktikan bahwa ketika zakat itu disatukan itu jauh akan lebih bermanfaat dan tidak seperti pengelola-pengelola yang konvensional yang cuma bersifat konsumtif, buktikan itu. Jadi kalau itu sudah bisa dibuktikan tentu saja amanah itu menjadi sesuatu yang harus menjadi pegangan. Membangun kepercayaan jangan sampai  ada zakat yang salah sasaran, jangan sampai ada zakat yang tidak sampai pada orang yang seharusnya menerima.
Secara moral  apa perlu CPNU memberikan pengarahan  pada Bazis ?
Insya Allah bisa, cuma ini kapling dari Syuriah, tausiahdan arahan-arahan memang itu sebenarnya amanah sebagai jam’iyah organisasi keagamaan memang untuk meluruskan, membenarkan, memberikan garis batasan-batasan, dalam bahasa kami amar makruf nahi mungkar, Insya Allah itu bisa kami bantu, kami akan mengadakan satu pola hubungan yang harmonis bersama kekuatan lembaga masyarakat terutama institusi-institusi
Harapan pak Kyai terkait dengan zakat mal ini ?
Masyarakat memang perlu terpanggil untuk mengeluarkan zakat yang memang merupakan kewajiban agama, yang  di dalam Al-Qur’an itu hampir-hampir selalu dikaitkan  dengan perintah Shalat. Ketika ada perintah Shalat ada perintah zakat, ternyata katakan kalau shalat-nya sudah berjalan sempurna, tetapi zakatnya masih sulit. Jadi bagaimana masyarakat merasa terpanggil sendiri untuk mengeluarkan zakat-nya yang memang merupakan perintah yang pokok di dalam agama Islam, “Wa aqimus sholata wa aatus zakata”, ketika ada perintah dirikanlah shalat, kemudian ada perintah: keluarkanlah zakat ! Hampir tidak pernah terpisah, artinya apa, jadi kewajiban shalat itu harus dibarengi dengan kewajiban mengeluarkan zakat. Ini barangkali porsi dari lembaga agama untuk mensosialisasikan-nya ke bawah . sehingga masyarakat tahu dan terpanggil sendiri untuk mengeluarkan zakat, terutama zakat mal.  Ada contoh baik salah satu Ormas, tidak perlu saya sebutkan, Ormas tersebut dari dulu telah menata zakat sedemikian rupa. Lembaga itu tidak mencari, tapi orang yang datang, jadi anggota-anggota dari Ormas itu yang datang. Kita berharap seperti itu, ya ketika ada perintah Shalat, maka zakat pun dikeluarkan. Tidak perlu motivasi apa-apa tetapi kesadaran akan kewajiban itu.
Tetapi perlu adanya patron, apalagi menghadapi masyarakat yang  budaya paternalistiknya kental ?
Nah ! kembali lagi kepada elit agama, elit agama supaya tidak henti-hentinya menyuarakan bahwa kewajiban yang tidak terpisah dengan shalat adalah membayar zakat. Kalau itu disuarakan terus menerus nantinya akan menjadi bagian hidup, dan akhirnya menjadi budaya.(*)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

Melalui Pintu Pendidikan Kita Bangkit Memajukan Peradaban


 Bila kita cermati ada semacam kekhawatiran  bahwa generasi mendatang akan kehilangan nilai-nilai kebangsaannya. Konon semua itu dipicu oleh pemahaman globalisasi yang mungkin sangat sulit  meletakkan antara  batas wilayah maupun negara. Ironisnya ketika generasi muda dalam posisi itu, justru pendidikan kebangsaan sangat tipis dan bahkan kurang mendapat perhatian, baik dari institusi pendidikan maupun masyarakat pendidikan sendiri. Tak berlebihan apabila sementara kalangan mengkhawatirkan, nantinya semangat kebangsaan dan berbangsa akan tergerus oleh kekuatan globalisasi.
Seputar kebangsaan dan kebangkitan semangat kebangsaan di tengah-tengah arus globalisasi, dan bagaimana pula membangkitkan semangat kebangkitan di era Otonomi Daerah ? Berikut bincang-bincang reporter Info Sumenep, El Iemawati dengan K.H Idris Jauhari, Pimpinan Pon-Pes TMI Al-Amien Prenduan, Jum’at, 19/5/2006.
Menurut Kiyai Idris apa makna nasionalisme bagi bangsa kita. Saat ini ada indikasi perubahan-perubahan yang mendasar dalam memaknai kata tersebut, dalam arti ada pergeseran yang mengarah pada dis-integrasi. Apa perlu semacam istilah kebangkitan lokal untuk menguatkan kembali nasionalisme ?
Saya kira nggak lah, nasionalisme itu kan perasaan kebangsaan kita sebagai sebuah bangsa. Itu kan nasional, yang terdiri dari sekian banyak budaya-budaya lokal dan juga tradisi-tradisi yang diakomodir yang berlangsung di masyarakat, sehingga dia menjadi satu-kesatuan. Satu kesatuan tersebut berujung pada nasionalisme. Tapi kita juga harus sadar  bahwa manusia itu tidak bisa lepas dari unsur universalisme, terutama dalam kaitannya dengan makhluk Allah. Disinilah peran agama sangat penting, jadi agama jangan dimarginalkan, jangan dianggap sebagai bagian kecil saja dari kehidupan kita, tapi justru bagi seorang muslim agama ini menjadi pertimbangan utama  yang pertama, itu. Ini yang seringkali dilupakan
Tapi semangat berbangsa saat ini sudah tergerus oleh kekuatan global Kiyai Idris ?
Saya kira itu sebuah resiko dari sebuah kehidupan, kita nggak bisa lepas dari kehidupan dunia yang global, iya kan ? Tapi kita kan harus punya filter untuk menjaring mana-mana yang sesuai dengan nasionalisme kita dan tidak bertentangan dengan agama kita. Itu yang paling pokok bagi seorang muslim, bahkan agama diatas segalanya. Dan itu sudah diakomodir dalam Pancasila pada sila ketuhanan yang maha esa
Mungkin untuk menfilter kekuatan-kekuatan global apa perlu semacam kebangkitan lokal dalam era otonomi daerah ini ?
Saya kira kebangkitan ini sendiri, mungkin istilah yang paling tepat kalau kita melalui pendidikan yang baik, sehingga kita masing-masing orang, masing-masing individu, dalam lingkup keluarga, sampai  tingkat RT, RW itu memiliki kesadaran hidup bersama. Kebangkitan lokal-nya harus dimulai dari individu-individu juga, dari lingkup paling kecil yakni keluarga. Kalau nggak ya sulit juga, karena keluarga merupakan unit terkecil dari kehidupan bermasyarakat, saya kira istilah kebangkitan lokal itu terlalu bombastis.
Berdasarkan pengamatan banyak sekali daerah-daerah Otonomi membangun wilayahnya sesuai dengan topologi daerah tersebut ?
Saya kira sama dengan UU Otonomi Daerah, dengan desentralisasi yang dikembangkan dalam era reformasi ini seharusnya daerah itu bangkit dengan memanfaatkan potensi-potensi alam dan Sumber daya Manusia yang ada untuk kesejahteraan daerah itu, tapi sebagai masyarakat bangsa kita kan nggak lepas dari daerah lain, kita nggak bisa lepas dari aturan yang berlaku secara nasional dsb. Nah disini letaknya kejernihan hati kita, kecerdasan fikiran kita untuk mengakomodir antara kepentingan daerah dengan kepentingan- nasional itu.

Tentu saja kebangkitan itu harus mempunyai warna tersendiri, sesuai dengan watak, karakter dan budaya lokal. Menurut Bapak Kiyai Idris, warna apa yang nantinya memberikan kontribusi bagi pembangunan di Sumenep ?
Kalau di Sumenep sejak dulu saya mengatakan sebagai satu kabupaten yang ada di Madura dengan tradisi-tradisi khususnya, dengan kehidupan kepesantrenannya yang begitu kental di masyarakat. Mungkin ini yang harus digali, selain itu budaya-budaya lokal yang ada dan beragam nantinya juga bisa diakomodir dan disesuaikan dengan tradisi kehidupan masyarakat modern. Kalau Jombang dijuluki kota santri, mengapa Madura tidak ? Kenapa Sumenep tidak ? Karena hampir di semua desa, di semua kecamatan itu ada pesantren-pesantren yang begitu kental dengan masyarakatnya.
Berarti kebangkitan tersebut lewat jalur pendidikan yang sudah ada dan mendapatkan legitimasi dari masyarakat ?
Benar.
Tapi selama ini meskipun pesantren telah mendapatkan legitimasi dari masyarakat dan mengikuti trend dengan pendidikan modern, tapi kan tidak merata semuanya ? Bagaimana langkah ke sana untuk menyamakan persepsi ?
Itu begini, dalam kerja ke-beragamaan kita, kita harus tetap mempertahankan nilai-nilai yang lama,  WahabAllah itu istilahnya, Ala kodhi missholeh, kita pertahankan. Tapi Dalam hal operasional, menyangkut managemen menyangkut organisasi, ya kita adopsi dong. Unsur-unsur baru, yang kira-kira positif  dan tidak bertentangan dengan kodhi missholeh, dengan yang lama. Nah persoalannya sekarang yang menjadi pertanyaan utama yang masuk ala kodimissholeh itu yang harus kita pertahankan itu apanya ? Terus yang kita akomodir sebagai unsur-unsur baru yang lebih baik itu apa ? Seringkali kita salah mengerti dikiranya bahwa yang lama itu, gaya baju, gaya berpakaian, rumah atau cara-cara hidup yang  menunjukkan kekolotan atau tradisional, hanya itu saja. Padahal sebetulnya kalau menurut saya yang harus kita pertahankan dari ulama-ulama dahulu, kakek nenek moyang kita adalah jiwanya, seperti keihklasan mereka dalam bekerja, kesungguhannya, kesederhanaannya, cinta ilmu dan pengetahuan, karyanya. dan rasa persatuan, ukhwuwah yang begitu kuat, lha itu yang harus kita pertahankan, nah soal penampilan, soal manajemen itu saya kira bisa mengambil dari mana saja , dari Cina, dari barat .
Jadi memang memerlukan langkah-langkah ataupun pola-pola yang lebih spesifik, pola-pola yang bagaimana yang harus menjadi skala prioritas ke depan ?
Saya kira pekerjaan yang namanya pendidikan adalah kerja seumur hidup dan harus terus menerus, tidak bisa sekali seperti kita membalikkan telapak tangan, memang kita harus konsisten, melaksanakan  proses pendidikan itu baik kepada anak didik kita secara formal ataupun kepada masyarakat lewat proses yang panjang . inilah  persoalannya, kita buka cakrawala mereka, bahwa anda harus berpegang teguh pada prinsip ini . soal anda mau mengambil katakanlah unsur-unsur baru dari luar, silahkan, tapi lakukan dengan selektif, jangan asal ambil, jadi tidak usah dipertentangkan antara salaf atau modern, karena masing-masing punya wewenang  dan memang seharusnya diantara salaf  dan modern itu dijadikan satu kesatuan yang sama-sama melekat. Jadi yang salaf itu pertahankan sebagai ruh dan jiwa dalam berjuang tetapi unsur-unsur modernitas kita ambil sebagai metode, sebagai alat,  cara untuk meraih prestasi dalam rangka antisipasi dunia global seperti sekarang ini
Nah kedepannya bagaimana Bapak Kiyai, agar masyarakat Sumenep mampu berbicara lewat kemajuan peradabannya ….
Kalau menurut saya hanya lewat pendidikan, saya yakin sekali dengan pendidikan yang jelas visinya, misinya, arahnya kemudian dengan usaha yang terus menerus, ada kerja sama yang harmonis antara  para penguasa, para ulama, cendikiawan, para aulia, pengusaha-pengusaha itu  Insya Allah dan ya memang kadang-kadang diperlukan semacam payung hukum, seperti Perda-Perda, seperti aturan-aturan main yang jelas, sehingga dari bawah menurut proses kulturisasi, kita lakukan dari bawah lewat tapi juga lewat pendekatan dari atas  dengan cara yang baik. Lha kalau ketemu antara atas ke bawah kan, hasilnya dalam istilahnya ketemu antara struktur dan kultur, di sini kan harus ada wacana, harus ada dialog, harus ada usaha untuk menyamakan visi
Dalam arti bahwa pendidikan akan mampu membangkitkan semangat kebangkitan lokal ?
Begini seperti Allah dikatakan Rabbul Alamin, Rabbul itu dari akar kata-kata pendidikan itu, Tuhan sekalian alam, Allah-lah yang mendidik alam, Allah yang mengatur, Allah yang mengelola, Allah yang merencanakan, Allah yang menentukan. Kita sebagai makhluknya yang mengikuti sunnatullah ya harus begitu. Kalau istilahnya di rumah kita harus menjadi rabbul bait, kita adalah pendidik dalam rumah, ketika berkembang menjadi ketua RT kita rabbul RT, menjadi camat ya rabbul kecamatan. Jadi disini proses pendidikan sangat dan harus kuat, ndak bisa kita melepaskan unsur pendidikan, dimulai dari unsur terkecil, individu, keluarga, melebar dan meluas ke masyarakat. Jadi seperti Bupati, misalnya itu harus menjadi rabbul kabupaten, dia harus bisa mengimplementasikan sifat-sifat Allah sebagai khalifahnya, di dalam mengasuh, membina, dan mengatur kabupaten ini. Sehingga Dia betul-betul menjadi pendidik, pengayom bagi kabupaten ini yang bisa menjaring semua aspirasi, mendengarkan masukan-masukan dari semua unsur dan elemen. Saya kira kalau semua sesuai dengan stratanya, maka kebangkitan dengan sendirinya akan terjadi.
Jadi masing-masing individu mempunyai kewajiban untuk membangun kebangkitan itu bersama-sama ?
Saya melihat Sumenep ini sangat potensial untuk menjadi kabupaten contoh, teladan dengan potensi alam yang dimiliki, dengan Sumber Daya Manusia yang luar biasa. Apalagi Bupati-nya seorang kiyai, ini sangat luar biasa. Alangkah bangganya kita sebagai orang Sumenep kalau kemudian banyak kabupaten lain datang, dan belajar kenapa Sumenep koq bagus, dalam  semua sisi, baik fisik dan non fisik, penguasaan iptek dan imtaknya, transparansinya, amanahnya
Caranya ?
Saya pikir memang kita harus punya sifat rendah hati, untuk bersedia menerima masukan, kritikan perbaikan sekaligus untuk instropeksi terhadap diri kita untuk kekurangan-kekurangan, apapun itu, siapapun itu, dari level pimpinan yang terendah sebagai kepala  rumah tangga, kita dengar dong suara anak kita, kita dengar suara istri kita , kemudian ke RT kita dengar suara tetangga kita, nah ketika kita sudah pada posisi membuka diri , kemudian kita merenung kan ini asas musyawarah kan ini, sudah tertanan. Wah, benar juga ya tapi begitu kita tutup sulit sekali, dan pembelajaran proses demokrasi ditanamkan sejak awal dan berlangsung terus menerus karena dalam rumah tangga harus ada itu.
Falsafahnya bagaimana Kiyai Idris ?
Falsafahnya itu falsafah  imam sholat jamaah, sholat jamaah bisa dituntut oleh seorang makmum dengan membaca subhanallah, tapi dia punya hak diikuti selama dia benar. Kalau falsafah sholat jamaah bisa diterapkan dalam kehidupan sosial kita, sekecil apapun di mulai dari rumah, Insya Allah yakin akan berhasil.
Jadi kebangkitan itu akan terwujud apabila di mulai dari kecil lingkup keluarga, lingkup masyarakat dan kemudian melebar ?
Dan itu namanya pendidikan, yang tidak terlepas dari proses pembebasan manusia dari berbagai belenggu, yang pertama kemudian pemberdayaan, potensi yang dia miliki kita berdayakan dan yang terakhir adalah pembudayaan. Pembebasan pemberdayaan dan pembudayaan, itu hakekat pendidikan. Kalau kita biarkan sebuah potensi dimiliki anak kita tanpa kita bantu  untuk dikembangkan kita sudah menyalahi prinsip pendidikan. Yang paling penting adalah pembudayaan, agar dia (budaya) itu keluar, dan budaya itulah akhlaq. Ketika budayanya sudah baik, akhlaknya sudah baik maka ketika akan  melakukan sesuatu tanpa lewat proses pemikiran, ya memang wataknya sudah begitu. Jadi punya budaya-budaya yang bagus dalam kehidupannya. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, budaya belajar, budaya bekerja, budaya rukun, budaya toleransi, budaya menghargai perbedaan. Dan itu hanya bisa dilalui dalam proses pendidikan
Jadi kebangkitan itu akan sendirinya terjadi kalau proses pendidikan berhasil ?
Benar, kalau mengambil istilah kebangkitan maka media pendidikan menjadi ruh dan jiwa untuk memajukan peradaban.


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

Di mata Hub Dee Young Pantai Madura Sangat Cantik


Hub Dee Joung, nama ini barangkali sangat asing bagi masyarakat Madura. Namun pria kelahiran  Belanda yang mempunyai perawakan tampan dan bertubuh jangkung ini sangat dikenal oleh masyarakat intelektual, baik kaum intelektual Madura maupun manca negara. Mister bule ini terkenal bukan karena ia seorang selebritis dunia maupun usahawan terkenal, melainkan karena hasil karya penelitiannya tentang Madura yang dilakukan pada tahun 1976 menjadi bahan pustaka bagi setiap mahasiswa. Dua buku hasil penelitiannya di Prenduan, mengungkap tuntas kehidupan orang Madura dari berbagai sudut pandang, baik sisi ekonomi, sosial dan budaya. Sedangkan 8 artikel ilmiah tentang Madura menjadi pustaka wajib bagi setiap mahasiswa antropologi di Eropa.
Di sela-sela kegiatan Kongres Kebudayaan Madura di hotel Utami, mister Joung menerima reporter Info Sumenep  dan terlibat perbincangan yang sangat menyenangkan. Hub Dee Yong menuturkan bahwa ia baru saja membukukan hasil penelitiannya tentang orang Ra’as. Ketika ditanya mengapa ia begitu tertarik dengan kebudayaan Madura, sambil tersenyum ia mengatakan rasa ketertarikannya pada Madura di latar belakangi oleh kesamaan budaya di negeri leluhur-nya,  Zeeland, sebuah dusun kecil di Belanda. Kesamaan itu diantaranya adalah sama-sama pekerja keras yang disebabkan oleh kondisi geografis, yaitu mempunyai daerah pertanian dekat laut. “Masyarakat kami di Zeeland adalah pekerja keras dan ulet, itu disebabkan letak laut lebih tinggi dari tanah daratan, tentu kami harus bekerja keras Karena selalu dihantui oleh rasa was-was dan takut, takut tanggul pecah,” ujarnya santun dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar.
Ketika ditanyakan tentang perbedaan dan perkembangan di Madura dalam kisaran waktu 30 tahun, Joung menjelaskan bahwa sangat jauh sekali. “Pada tahun 76 rakyat Madura banyak yang miskin, rumah hanya terbuat dari bambu, mereka berpakaian jelek dan hanya memakai sandal. Sekarang, saya lihat perubahannya cukup signifikan, walaupun  saya tahu bahwa masih banyak orang yang tidak tahu untuk memenuhi makan untuk besok, ataupun bulan depan. Perubahan itu ada tetapi untuk orang-orang tertentu saja, tetapi untuk kebanyakan orang belum. Sebab di waktu akan datang orang tidak bisa hidup dari lahan kecil yang mereka punya “, ujarnya dengan ekspresi masgul. “Saya berharap pemerintah pusat maupun pemerintah lokal mengiventarisir lebih banyak uang untuk membangkitkan sektor industri dan pariwisata.”
 Ketika ditanyakan apa yang seharusnya dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengembangkan pariwisata, sebab banyak kalangan yang menginginkan agar Madura memoles dan mempercantik diri supaya turis asing tertarik untuk mengunjungi pulau Madura. Namun dari sebagian kelompok menolak mentah-mentah ide-ide perubahan. “Saya berharap jangan sampai yang di Bali menjadi acuan konsep pembangunan pariwisata di Madura. Saya pikir Madura harus pilih untuk turis yang suka tempat-tempat sepi, yang suka pulau dan tak dikotori oleh konsumsi seperti di Bali, dan juga yang suka melestarikan alam, yang mau menikmati hidup sederhana dan alami. Ada turis yang seperti itu, green turis, yaitu turis yang datang untuk melihat alam yang asli dan kebudayaan yang natural otentik.”
“Saya pikir banyak turis yang bosan dengan Bali, bosan dengan wisata yang glamour dan telah menjadi semacam tempat “autumns ecomora” yang baru, maksudnya tempat orang-orang yang berdosa dan menjadi tempat maksiat. Perubahan harus ada, boleh berubah tetapi tidak sebagai dieksploitasi oleh orang-orang yang hanya mau menangguk keuntungan besar semata.” Lebih jauh mister Joung menuturkan bahwa model-model green turis sudah diterapkan di beberapa negara Eropa melalui agen-agen wisata, “Yogyakarta menjadi tujuan utama, hampir 10 – 20 % yang mau melihat daerah, melihat kampung, mau melihat hidup yang benar, yang menghormati dan menghargai kebudayaan asli. Sekarang ini banyak sekali kaum relegius di Eropa menentang pola konsepsi yang ada sekarang di Barat. Sebab perusahaan-perusahaan disana mendorong orang untuk hidup membeli, membeli dan membeli. 80 % kami membeli di Eropa tidak untuk hidup, karena hanya 20 % saja yang digunakan untuk makan sehari-hari.”
“Madura mempunyai potensi yang sangat luar biasa, saya pikir pantai-pantai di Madura terutama di utara sangat cantik sekali. Saya rasa tinggal hanya mempersiapkan penginapan yang bersih dan aman, toilet yang bersih dan tempat yang mudah ketika green turis memerlukan kebutuhannya sehari-hari.” Ujarnya tersenyum dan mengahiri perbincangan. Terimakasih Mister.

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

Kamis, 24 Mei 2012

Terpenting Adalah Proses


 Saat ini banyak sekali yang beranggapan bahwa anak-anak masa kini telah kehilangan masa-masa yang paling membahagiakan. Dunia anak yang seharusnya dipenuhi oleh ketentraman, kedamaian, pelukan kasih sayang baik dari lingkungan keluarga dan masyarakat kini telah mengalami dehidrasi. Dapatlah disaksikan dalam realita kehidupan bahwa banyak sekali anak-anak yang tidak beruntung, dipekerjakan dan menjadi tulang punggung keluarga, menjadi komoditas pedagangan dan dilacurkan, dieksploitasi, dikebiri hak-haknya, dan sejuta derita yang seharusnya tidak dibebankan pada pundak mereka. Bukan itu saja, hak anak terkadang terpasung karena terkadang orang tua menjadikan anak sebagai boneka, sebagai miniatur orang dewasa yang tidak seratus persen berhak mengapai cita.
Hari Anak Nasional yang senantiasa diperingati tidaklah mampu memberikan secercah senyum pada wajah-wajah polos mereka. Kegiatan seremonial memperingati Hari Anak Nasional yang selalu identik dengan perlombaan belum sepenuhnya mampu menyentuh hati dari berbagai kalangan untuk memikirkan nasib dan masa depan anak-anak yang tidak beruntung. Bukankah mereka punya hak yang sama dengan anak-anak lainnya ? Lalu harus bagaimana ?  Untuk mengetahui dari berbagai sudut pandang tentang dunia anak, berikut perbincangan El Iemawati dengan pemerhati pendidikan, Sujono di kediamannya, Rabu, 24/06/2009
Setiap tahun kita selalu memperingati Hari Anak Nasional, pendapat Anda ?
Selayaknya Hari Anak Nasional diperingati tidak hanya sekedr seremonial, tidak sekedar hura-hura atau senang-senang, tetapi harus ada muatan-muatan, harus ada target yang dicapai terutama oleh lembaga-lembaga pendidikan. Tentu kedepan muatannya harus disesuaikan kemana anak-anak Indonesia ini, selayaknya lembaga-lembaga harus sadar anak-anak sekarang ini sangat jauh berbeda dengan anak-anak masa lalu. Artinya, mereka ini dari TK sampai SD sudah siap untuk menerima muatan-muatan materi yang sudah disiapkan dan ditargetkan oleh guru. Namun demikian, semua lembaga harus tahu bahwa anak hanya butuh stimulan, nah rangsangan-rangsangan ini harus mengarah pada pendidikan-pendidikan yang positif.
Esensi dari peringatan tersebut, menurut Anda apa sih ?
Kalau berbibicara tentang esensi, menurut saya ada dua, yaitu tidak terfokus hanya pada masalah umum saja tetapi pada masalah relegius. Dua hal ini harus menjiwai, dua hal ini juga harus saling menghidupi sehingga idealisasi pendidikan  akan tercapai. Sepertinya saat ini kita terjebak, baik orang tua, guru maupun lembaga terjebak pada pendidikan intelektual saja. Padahal kecerdasan spiritual dan emosional sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya, dan ini yang banyak ditinggalkan. Saat ini kita banyak berkiblat bagaimana sukses Amerika, bagaimana sukses Inggris dan kurang menggali potensi bangsa sehingga kita tidak menemukan jati diri pendidikan bangsa kita sendiri. Selayaknya dalam memperingati Hari Anak ini ada visi dan misi yang disampaikan pada anak-anak dengan bahasa yang bisa di cerna oleh mereka. Dan ini merupakan tugas lembaga atau guru-guru yang betul-betul tahu persis kemana anak ini harus diarahkan.
Menurut Anda. Langkah-langkah apa yang mesti dilakukan agar ketiga kecerdasan tersebut tumbuh bersamaan serta sinergi dan integral ?
Ya, saya kira untuk mengintegralkan ketiga kecerdasan tersebut memerlukan Sumber Daya Manusia yang mampu memberikan ketiga hal itu. Peran orang tua juga sangat vital, karena antara guru atau lembaga dan orang tua harus ada kesepakatan, harus ada komitmen dan harus ada kemitraan untuk bersama-sama membimbing anak membangun jati diri, membangun karakter dan mengoptimalkan kecerdasannya. Kalau komitmen ini dibangun dengan kuat maka saya rasa anak-anak kita akan happy, akan enjoy, akan senang dan cinta ketika mereka menuntut ilmu. Rasa senang dan cinta inilah yang benar-benar harus ditanamkan kepada anak-anak kita, karena dengan rasa senang dan cinta maka ketika menuntut ilmu anak-anak bukan hanya sekedar menjalankan rutinitas saja. Penanaman rasa cinta ini akan memembuahkan sebuah kesadaran, bahwa menuntut ilmu itu adalah kewajiban dan ibadah.  Dalam agama kita juga telah disampaikan, bahwa orang yang berilmu derajatnya satu tingkat lebih tinggi daripada orang yang tidak berilmu.
Maaf, selama ini kita hanya mendidik anak-anak hanya sekedar memerintah atau menghimbau atau hanya omong kosong doang tanpa dibarengi dengan langkah-langkah konkrit dan pembiasaan. Contohnya, ketika selalu mengatakan kepada anak-anak bahwa kita mempunyai kewajiban memberikan kelebihan harta kita. Anak-anak kita hafal akan Hadistnya. Mengapa kita tidak melakukan langkah konkrit ? Misalnya, di rumah atau di sekolah anak-anak kita dibiasakan menyisihkan uang jajan untuk dikumpulkan. Dapat mbak bayangkan kalau dalam satu sekolah misalnya mempunyai siswa seratus. Tiap anak terbiasa menyisihkan uang jajan 100 rupiah, dalam 1 hari dana yang terkumpul 10.000 rupiah, satu minggu 60.000 rupiah, satu bulan kalau hari efektif 25 hari maka yang terkumpul 1.500.000. kalau 1 tahun, dua tahun ? Ini misal. Yang saya sampaikan tadi kita melatih anak-anak kita sejak dini untuk menyisihkan uang dan membiasakan bahwa rejeki yang kita punyai sebagian adalah hak kaum yang fakir, miskin dan yang berhak kita santuni.
Dalam artian yang terpenting adalah proses, bukan mengejar nilai akhir ?
Benar sekali, karena dalam proses tersebut sejak dini kita juga melatih anak-anak untuk mampu bekerja sama, mengajak anak-anak belajar berorganisasi, menananamkan kejujuran dan amanah. Kita beri mereka kepercayaan untuk mengelola uang tersebut, dan dana yang terkumpul tersebut kan bisa dipakai untuk menjenguk teman yang sakit, misalnya, untuk membantu siswa yang tidak beruntung atau hal-hal lainnya yang bermanfaat. Nah, saya rasa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dan emosional anak-anak kita dalam kegiatan tersebut sudah terasah. Di sekolah materi pelajaran disinergikan dengan realita dan mengedepankan daya nalar. Misalnya memberikan analogi sesuai nalar tetapi menyentuh hati dan kalbu serta mampu mengasah nilai spiritual.
Kita punya falsafah yang telah di adopsi dan diterapkan oleh negara-negara maju, yaitu kebersihan sebagian dari iman. Namun hal itu belum kita terapkan agar menjadi sebuah kultur. Saya kira, di TK dan SD inilah penerapan kebiasaan tersebut sudah harus tertanam di sekolah. Karena apa ?  Dalam masa-masa seperti itulah penanaman ataupun pembiasaan akan lebih mengena. Kita kan semua tahu, bahwa guru bagi anak-anak merupakan sosok yang sangat mereka sayangi setelah kedua orang tua. Anak-anak seusia TK dan SD lebih patuh dan percaya pada guru dari pada orang tuanya
Berarti harus ada juga tambahan porsi pada bidang tertentu ?
Benar, misalnya porsi pelajaran agama di sekolah hanya 2 atau 3 jam, selebihnya akan diserahkan kepada orang tua. Ironisnya sekarang ini orang tua ini juga hanya setengah-setengah, bahkan tidak peduli dengan pendidikan agama. Nah, untuk mencapai pengoptimalan 3 komponen kecerdasan yang telah dianugerahka oleh Sang Pencipta harus sinergi. Kembali kepada falsafaf Madura, “Bappa’, Babbu’, Guru, Rato.” Artinya, orang tua, guru atau sekolah dan pemimpin (pemerintah) ini harus sinergi. Sekarang ada satu sekolah yang ingin maju misalkan, memanfaatkan potensi wali murid yang sangat luar biasa, menarik sumbangan dan sebagainya, dan ini di tentang oleh beberapa wali murid. Kelirunya pemerintah membuat satu opini pada masyarakat bahwa sekolah itu gratis. Gratis ini penjabarannya tidak jelas, itu apa dan dalam hal apa. Namun terkadang antara ketiga kompnen ini terjadi kontradiktif.
Dan anak-anak yang akan menjadi korban, apakah begitu ?
Benar, apapun alasannya nanti yang akan menjadi korban justru anak-anak. Karena apa ? Pelaku-pelaku pendidikan kurang memahami apa sih ruh dari pendidikan itu sendiri. Baik dari pemerintah, guru maupun orang tuanya, dan ironisnya lagi serta cukup memprihatinkan mereka hanya terjebak pada beberapa mata pelajaran yang diujikan. Banyak dari kita terjebak disana, anaknya dipoles untuk menjadi teknokrat, padahal anak yang jenius itu tidak terbatas pada yang ahli matematika, IPA, Fisika dan bahasa saja. Kita semua harus sadar, pemerintah, guru, orang tua bahwa anak yang dilahirkan sudah dibekali dengan otak yang jenius. Kalau boleh mengutip pendapat dari pakar psikologi, ada 8 kecerdasan dalam diri anak yang bisa dioptimalkan dan sudah tersimpan dalam milyaran sel di otak kanan dan kiri. Dan sampai saat ini kita belum menyediakan sarana prasarana yang memadai untuk pengembangan agar ketiga kecerdasan tersebut integral. Kita terlalu pelit, nah bagaimana bisa mengoptimalkan dari  salah satu kecerdasan kalau tidak ada sarana penunjang ?
Eksploitasi anak oleh orang tua, intinya seperti itu. Pendapat Anda ?
Ya, saya sepakat kalau dikatakan ada eksploitasi pada anak tidak jarang terjadi seperti itu. Kita sering lupa bahwa anak mempunyai dunianya sendiri yang dalam prosesnya seringkali dijejali oleh keinginan orang tua harus jadi apa. Banyak sekali contoh ketika anak-anak sudah di jenjang perguruan tinggi mereka masuk ke perguruan tinggi bukan karena cita-citanya, tetapi karena keinginan orang tua anak harus jadi apa. Apalagi saat ini, orang tua lebih suka membelikan HP untuk anaknya daripada membelikan buku. Dari kecil anak-anak sudah di didik konsumtif. Maaf, itu hak mereka, tetapi ketika sejak kecil anak-anak tidak di ajak, dibiasakan dan di didik untuk mencintai ilmu maka kerugian besar akan menimpa bangsa ini. Sebenarnya kunci pendidikan menurut saya 70 % milik orang tua
Ada anggapan seringkali anak dijadikan miniatur dan dijadikan boneka oleh orang tua, lalu dimana hak anak. Menurut Anda ?
Ini perlu penyadaran, bahwa kecenderungan orang tua sekarang sudah mulai arogansi terhadap anak-anaknya baik pada yang berstatus mapan maupun yang biasa. Kita orang tua, termasuk saya ada kecenderungan telah kehilangan wacama bahwa anak sebetulnya punya hak. Nah pada moment Hari Anak sekarang ini perlu ada satu konsilidasi untuk bersama-sama mengetahui hak anak itu yang bagaimana. Contoh, di TK yang dijejeali untuk saat ini adalah komputer, bahasa, menghitung sebelum anak memasuki sekolah SD. Stimulasi semacam ini, rangsangan semacam ini itu akan berakibat kepada anak ketika dia memasuki SD maka anak tersebut antipati pelajaran yang telah dijejalkan di TK. Hal ini disebabkan karena apa yang sudah ia dapatkan di TK, di SD di ulang, mengulang. Nah, ketika diulang tersebut da kejenuhan dan membuat anak tersebut menjadi bosan. Nah, ketika anak ada masalah di SD berarti anak itu punya masalah di TK, dan itu akan bisa terus berjenjang sampai pendidikan yang lebih tinggi. Nah, rata-rata permasalahan yang saya lihat seperti ini, faktornya dari orang tua.
Nah, harusnya bagaimana ?
Seperti saya sampaikan di awal perbincangan, bahwa orang tua harus berkomitmen dan membangun kemitraan dengan lembaga dimana anak tersebut disekolahkan. Ibarat meniti sebuah jembatan, orang tua bersama guru bersama-sama menuntun anak. Nah, disinilah peran besar orang tua untuk bersama-sama dengan lembaga pendidikan membangun karakter, mengoptimalkan kecerdasan, menjadikannya anak-anak yang santun, berbudi, beretika, mempunyai rasa estetika dan bersama-sama pula menjadikannya manusia dengan moralitas tinggi serta rasa sosial yang tinggi pula.
Kita tahu bahwa potensi berfikirnya setiap anak berbeda, maka mereka memerlukan sentuhan yang berbeda pula. Nah, di era otonomi pendidikan apabila Kepala Sekolahnya, leadernya tidak memiliki orientasi ke depan maka disini akan terjadi penghambatan, akan terjadi stagnas. Nah, untuk tidak terjadi hal-hal itu maka kemitraan itu mutlak diperlukan. Ini yang harus disadari oleh orang tua, karena kalau orang tua pro aktif maka akan berimbas pula pada guru. Dengan demikian guru akan lebih mampu memahami anak, karena input dari orang tua akan memudahkan proses pendidikan. Proses inilah yang paling penting, karena dalam agama yang dikenal hanya mengenal proses, bukan endingnya, bukan dealnya. Jadi proses. Saat ini kita hanya melihat endingnya, sehingga proses terlalaikan. Padahal kalau berbicara proses dilaksanakan dengan benar, apapun endingnya maka akan maksimal
Selain intelektual, yang paling pending dalam mendidik anak itu apa sih ?
Yang paling penting dan utama saya kira adalah pembentukan karakter, karakter building. Dalam hal ini pemerintah harus terjun langsung, menciptakan atau mendirikan lembaga khusus yang membicarakan bagaimana membentuk karakter anak sehingga misi pemerintah, khususnya di Sumenep yang agamis ini karakter anak tidak terabaikan. Hal ini disebabkan bahwa saat ini intensitas orang tua, khususnya ibu mulai berkurang. Anak-anak banyak yang dibesarkan oleh baby sister maupun pembantu, nah, ini yang salah. Sesibuk apapun seorang ibu harus meluangkan waktu untuk mengikuti perkembangan si anak. Kalau hal itu terabaikan, maka anak telah kehilangan hak dari rumah.
Oleh sebab itu saya berharap agar orang tua lebih pro aktif, artinya apa yang dikehendaki oleh sekolah harus di dukung. Yang kedua, pemerintah juga harus, “intervensi” dalam pembentukan karakter. Kalau pembentukan karakter sudah baik, yang lainnya akan mengikuti. Itu pasti. Apakah itu kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosional dan spiritual.



Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

Minggu, 20 Mei 2012

Perlu Adanya Show Force Untuk Menggali Sumber Daya Alam Kelautan


Otonomisasi telah memberikan ruang gerak yang sangat luas kepada Pemerintah daerah untuk membangun wilayah daerah berdasarkan topografis, karakter, maupun budaya daerah. Dengan demikian  pembangunan   akan sesuai dengan keinginan, misi, visi serta konsep-konsep  yang diinginkan oleh masyarakatnya. Untuk mencapai taraf keberhasilan tentunya dibutuhkan berbagai komponen pendukung, diantaranya adalah tersedianya Sumber Daya Manusia yang handal sekaligus Sumber Daya Alam.
Sumenep merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang 2/3 wilayahnya mempunyai potensi dan aset kekayaan yang sangat luar biasa. Sumber minyak dan gas, berbagai macam hasil laut, serta aset pariwisata. Apakah SDA yang demikian besar akan mampu memberikan nilai lebih pada masyarakat Sumenep ? Tentunya harapan itu tidaklah mudah, sebagaimana membalikkan telapak tangan.
Untuk mengetahui Sumenep dari berbagai sudut pandang, Sujono, pemerhati Sumenep memberikan pemikiran-pemikiran cerdasnya dalam bincang-bincang dengan reporter Info Sumenep, El Iemawati di kediamannya, Senin, 8/1/2007
Secara makro Bagaimana anda melihat kebijakan-kebijakan pembangunan yang dicanangkan oleh  Pemkab selama ini!
Kalau saya melihat kebijakan Pemkab secara makro sudah sangat bagus, dalam tanda petik, walaupun disana-sini perlu perbaikan. Kebijakan-kebijakan yang saya sampaikan terutama pembangunan di infra struktur sudah betul-betul dirasakan oleh masyarakat, terutama masyarakat perkotaan. Nyaris sekarang ini pembangunan jalan dan selokan-selokan sudah mulai nampak dirasakan oleh masyarakat. Saya berharap kebijakan-kebijakan tersebut  dikembangkan  ke seluruh wilayah, bahkan sampai ke wilayah terpencil kepulauan.
Kalau cakupan bidang ekonomi ?
Untuk bidang ekonomi melihat kebijakan Pemkab selama ini  sangat perlu ada catatan. Kita lihat secara makro  daya beli masyarakat sekarang ini sangat kewalahan apabila dibandingkan dengan dulu. Misal, kalau dulu orang di pedesaan mempunyai uang 100 ribu sudah bisa dibelanjakan selama 1 minggu, tapi untuk saat ini jadi 3 hari saja sudah bagus.  Kita bandingkan pula dengan upah, saat ini upah buruh di banyak perusahaan-perusahaan semacam CV dan UD yang bergerak di bidang  distributor banyak menggaji karyawan di bawah UMK, bahkan ada yang  hanya membayar 200 sampai 250 ribu, padahal UMK diatas 500 ribu.
Apa ini suatu indikasi ketidakberhasilan di bidang ekonomi ?
Tidak bisa kita mengatakan  seperti itu, karena kebijakan ekonomi daerah  itu akan dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat. Mau tidak mau kita harus paham antara GNP dan DJTT itu harus ada kaitannya. Kalau saya katakan Pemkab tidak berhasil, saya tidak berani mengatakan demikian, tapi kebijakan-kebijakan secara makro akan berpengaruh kepada kebijakan daerah.
Tetapi kan saat ini perputaran uang dan daya beli masyarakat terbilang rendah ?
Kalau kita melihat dari daya beli masyarakat maka indikatornya sulit. Kita melihat di pedesaan, katanya daya beli kurang, tapi sebagai indikator masyarakat dalam membeli kendaraan bermotor seperti kacang goreng. Begitu datang di drop dari Surabaya maupun Jakarta satu Minggu sudah habis.  Nah apakah daya beli masyarakat berkurang ?  Cuma memang saya katakan ini tidak merata. Kalau dulu kemiskinan agak merata, sekarang malahan berkelompok.
Contohnya ?
Contohnya, katakanlah di Ibukota kecamatan, saya melihat indikasi-indikasi semacam ini. Masyarakat di Ibukota kecamatan dengan di pinggiran maupun pelosok sangat mencolok sekali. Di ibukota kecamatan masih bisa masak beras, masak dengan minyak tanah maupun gas, tapi di pelosok tidak demikian. Bukan karena langkanya minyak tanah, tetapi karena  kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut karena sulitnya mencari nafkah akibat  kurangnya lahan pekerjaan.  Sehingga dalam hal ini daya beli masyarakat semakin rendah.  Perkapita pendapatan mereka semakin menurun, sedangkan pemerintah tidak bisa secara makro melihat. Contohnya begini, pemerintah memberikan BLT kan upayanya kesana, tapi ternyata tidak bisa membantu . berapa trilyun anggaran dihabiskan  untuk subsidi BBM kepada masyarakat. Tapi nyatanya tidak bisa mendongkrak  daya beli masyarakat pedesaan untuk berkembang maupun hidup layak.
Langkah-langkah apa yang mesti dilakukan dengan kondisi riil semacam itu ?
Seharusnya  Pemerintah Daerah mempunyai sistem tersendiri  di dalam mengatur perekonomian tanpa meninggalkan  sistem yang telah diterapkan oleh Pemerintah Pusat. Sehingga perputaran ekonomi khususnya di Sumenep ini bisa terkontrol oleh Pemkab, mesti ada studi kelayakan yang menyatakan bahwa di tingkat pedesaan  itu sekarang memerlukan subsidi yang diberikan oleh Pemerintah Daerah. Nah, Pemerintah Daerah paling tidak bisa meningkatkan PAD. Atau jalan kedua Pemerintah daerah harus banyak menyediakan sarana pekerjaan baik di kota maupun di pedesaan.
Kalau kita survei seorang abang becak  untuk mendapatkan uang 6000 ribu dalam satu hari susahnya setengah mati. Karena apa ? Saat ini ekonomi dan kehidupan masyarakat perkotaan  sudah mulai meningkat dan mapan, sehingga dalam aktivitas sehari-hari masyarakat kota menggunakan sarana transportasi sepeda motor.
Menurut kabar, Sumenep sangat kaya dengan SDA, apa itu tidak bisa membantu kelompok masyarakat tidak mampu ?
Sebenarnya Sumenep ini mempunyai Sumber Daya Alam yang sangat luar biasa. Mungkin kalau kita tawarkan ke Jepang, mereka sangat mau dan interest sekali, mungkin barang Jepang di bawa ke sini, dan Jepang tidak mau membawa apa-apa. Kita harus mengakui secara arif bahwa SDM kita masih sangat lemah. makanya Pemkab sendiri  sekarang merasa  bahwa kita tidak memiliki SDM, sehingga Pemkab sendiri  berupaya untuk memasukkan atau menarik  para investor  dan para pemikir  untuk menggali SDA terutama di bidang minyak dan gas. Salah satu bukti di Pagerungan, dan masih banyak lagi  kekayaan SDA yang masih bisa digali secara profesional. Dan saya melihat gebrakan-gebrakan yang dilakukan oleh Pemkab, dalam hal ini Bupati Sumenep untuk menggali SDA. Bahkan gebrakan itu juga dilakukan oleh wakil DPR pusat, KH. Ilyasi dengan jalan menarik para investor untuk menggali kekayaan SDA di kepulauan Sumenep. Nah yang jadi pertanyaan untuk dalam waktu dekat kita tidak bisa semacam itu karena arus transportasi secara ekonomis kita sangat salt karena apa? Kita masih sangat terlalu jauh karena membutuhkan jangka waktu panjang
Untuk jangka pendeknya harus bagaimana ?
Untuk jangka waktu pendek saya cenderung mesti ada satu penekanan, ada semacam show force dari Pemerintah Daerah untuk menggali sumber laut, dan digalakkannya sumber laut.
Apakah hal ini akan membantu, terutama menyediakan lahan pekerjaan bagi masyarakat ?
Justru itu, barangkali Pemkab sudah melirik namun gregetnya kurang, padahal dari hasil laut ini kalau benar-benar difokuskan kesana, maka cita-cita Pemerintah daerah untuk membangun Sumenep ke depan akan tercapai. Bahkan tanpa sumber minyak pun apabila sumber hasil laut ini betul-betul digali, dari  ikannya, rumput lautnya, dan hasil-hasil lainnya akan sangat luar biasa. Saya menginginkan Pemerintah Daerah sekarang ini menjadi fasilitator, membangkitkan masyarakat kelautan difokuskan kesana. Lalu Pemkab juga harus menjadi satu manager untuk memasarkan. Jadi fungsi managerrial dari Pemerintah daerah harus betul-betul dibangkitkan, bukan berarti sekarang tidak bangkit, namun saya menginginkan lebih difokuskan lagi pada sumber laut ini, dan Insya Allah dari pemikir-pemikir, ahli-ahli kelautan di Dinas Perikanan sudah banyak. Namun saya tidak melihat gebrakan-gebrakan semacam itu, padahal itu adalah potensi yang sangat luar biasa ketimbang di pertanian. Kalau hanya mengandalkan tembakau itu tidak ada artinya.
Kalau dikaitkan dengan pelayanan publik berarti pelayanan publik Pemkab selama ini belum maksimal ?
Kalau yang namanya pelayanan publik itu tidak akan pernah selesai sampai akhir jaman. Itu pasti, pasti, sehebat apapun sistem yang dilakukan oleh Pemda, sehebat apapun sistem yang dilakukan pemimpin yang akan memimpin Sumenep ini, pelayanan publik ini tidak akan ada puasnya. Tidak akan pernah puas, tergantung kita, kita merasa puas merasakan pelayanan publik ini, tapi tetangga kita tidak merasakan. Tergantung dari sudut mana kita menilai, saya tidak melihat pelayanannya, tetapi saya sebagai orang Sumenep, yang dilahirkan di Sumenep, saya punya kepedulian dan ikut memikirkan di sini ada sumber daya di kelautan, sebetulnya perlu ditingkatkan. Kan sayang sekali kalau di Dinas Perikanan dan Kelautan itu ada ahli perikanan-nya, ada ahli kelautan-nya, dan itu lulusan-lulusan dari universitas atau dari institute yang bonafide, ini kan sayang kalau tidak difokuskan.
Berarti untuk menggali sumber SDA yang bapak sampaikan membutuhkan program terpadu ?
Yang namanya program itu harus terpadu sehingga antara Pemkab dengan masyarakat  harus harmonis. Saat ini saya melihat terjadi ketidakharmonisan antara masyarakat, seperti LSM, LSM semestinya menjadi patner ship dari Pemkab, yang seharusnya tidak hanya mengkritisi, tapi dia harus memberikan satu solusi. Namun saya melihat LSM disini sepertinya hanya mencari kesempatan, maaf tidak semuanya, hanya mencari kesempatan untuk menekan Pemerintah yang nota bene, mungkin ada oknum-oknum yang mencari manfaat di dalam lembaga ini. Padahal LSM harus berfungsi sebagai patner ship,  memberikan solusi-solusi kepada Pemda sehingga bisa bekerja bersama-sama dengan Pemkab. Mestinya LSM juga bisa menciptakan lapangan kerja, bukan mencari kerja. Ini yang saya sayangkan.
Kalau begitu kendalanya dimana, apakah Pemerintah atau masyarakat ?
Kendala bisa juga dari pemerintah, kendala juga dari masyarakat. Kedua instrumen ini saling memiliki kelebihan dan kelemahan, Cuma memang masyarakat merasa tidak puas, katakanlah mereka banyak menagih janji-janji kampanye yang memberikan suatu harapan-harapan kepada masyarakat, namun setelah mereka duduk, mereka memalingkan muka. Contoh kasus, di Talango, dari salah satu anggota dewan mencoba mencari bantuan ke dinas kelautan yang berupa alat-alat penangkapan ikan, antara pengajuan dengan orang yang diajukan ini tidak sama. Artinya disini, dewan sendiri yang berfungsi sebagai pengawas kepada Badan Kelautan seharusnya dia memfungsikan dirinya sebagai yang diharapkan oleh masyarakat. Kalau kita mengatakan masyarakat berarti-kan dewan sebagai wakil dari masyarakat. Saya melihat keduanya mempunyai kelebihan dan kelemahan. Nah, ini katakanlah kadang-kadang satu sisi dewan dalam hal ini sebagai wakil masyarakat, kadang-kadang tidak memfungsikan dirinya.
Saat ini ada gebrakan-gebrakan yang cukup signifikan dari dewan yaitu serap aspirasi, namun saya melihat gebrakan itu tidak bersih, artinya tidak bersih, mungkin karena koleganya tidak mendapatkan proyek, atau koleganya tidak mendapatkan bagian, sehingga membuat satu gebrakan, akhirnya gebrakan semacam ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan oleh masyarakat. Karena apa ?  Kita sudah tidak berbicara dengan hati, kita melihat tidak dengan hati, mendengar sudah tidak dengan hati. Padahal dalam bekerja harus berbicara dengan hati, mendengar dengan hati, atau melangkah dengan hati nurani.
Menurut Bapak kendala semacam itu disebabkan oleh apa ? Cara berfikir, wawasan, wacana masyarakat atau paternalistic yang masih sangat kuat ?
Apa yang ibu sampaikan dari sekian instrumen tadi memang benar semuanya, saya katakan paternalis memang tidak bisa dihilangkan karena paternalis ini  merupakan suatu dogma kepada masyarakat yang tidak bisa dihilangkan. Siapapun yang akan memimpin, yang namanya paternalis ini akan terbawa, apakah itu seorang kyai, apakah itu seorang birokrat, apakah itu seorang profesional. Itu akan terbawa yang namanya paternalis. Paternalis sebetulnya baik, dan itu sebetulnya satu aset yang bisa kita kembangkan, kita manfaatkan untuk menggali satu potensi masyarakat bisa bekerja bersama-sama, untuk mengajak masyarakat bersama-sama itu lebih mudah, ketimbang mereka yang pemikirannya lebih moderat dan demokratis.
Saya yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan paternalis, mempunyai sebuah pemikiran bahwa paternalis bisa dikembangkan asalkan sang pemimpin itu betul-betul bisa melihat, bisa memanfaatkan, bisa mengembangbiakkan secara proporsional, artinya, jangan dengan sifat paternalis dijadikan alat untuk menyombongkan diri sehingga terjadi kultus. Nah, dari kultus ini akan berbalik menjadi kelemahan bagi masyarakat itu sendiri.
Atau barangkali kita masih belum punya figur pemimpin yang ideal ?
Figur itu banyak, apakah itu dari kalangan birokrasi, apakah itu dari kalangan kyai, apakah itu dari kalangan politisi, apakah itu dari kalangan pedagang. Sebenarnya  banyak sosok yang mampu ditampilkan. Masalahnya sekarang kita tidak menemukan sosok pemimpin yang ideal, dari dulu sampai sekarang yang begitu-begitu saja, artinya style ya semacam itu. Sekarang bedanya kan hanya otonomisasi, dalam otonomisasi pola kepemimpinan yang kita rasakan sama dengan yang dulu-dulu. Dan ini yang meresahkan masyarakat, sejak otonomisasi pemimpin menjadi arogan,  katanya orang Madura , “apa ca’na engko sateya.” Artinya pihak tingkat I maupun Pusat tidak bisa intervensi, nah pola-pola semacam ini seharusnya diubah  oleh pemimpin-pemimpin, siapapun yang akan memimpin Sumenep.
Terus kedepannya bagaimana ?
Ke depan tidak bisa kita prediksi, Cuma saya melihat banyak potensi Sumber Daya alam yang sampai detik ini pengelolaannya masih per kelompok=kelompok tanpa adanya satu pembinaan yang betul-betul  solid. Contoh kenapa krupuk Palembang bisa menjajah Sumenep, tapi kenapa produk-produk dari Sumenep tidak bisa menjajah seperti krupuk Palembang ? Nah, pola-pola semacam ini kan perlu adanya satu pembinaan-pembinaan, padahal ada Dinas Perikanan dan Kelautan yang merupakan satu aset . Seharusnya Pemkab memberikan satu perlakuan khusus pada bidang kelautan dan perikanan, karena 2/3 luas Sumenep itu adalah lautan, dan luas semacam itu kalau dikelola secara profesional ditambah pula oleh tersedianya SDM yang banyak maka kita akan mampu menggerakkannya.
Tentu saja untuk menyamakan persepsi pelaku-pelaku, elit-elit di Pemkab Sumenep ini masih sulit. Sulitnya disini karena berbeda pandangan, berbeda kepentingan, berbeda visi. Seharusnya perbedaan-perbedaan tersebut ditinggalkan sehingga kinerja Pemkab ini terhadap masyarakat benar-benar dirasakan. Untuk ke depan saya harapkan Pemkab mampu memberikan satu kesejukan kepada masyarakat. Pemkab dalam hal ini, “seorang Bupati” harus mampu memberikan satu kesejukan kepada semua masyarakat di Sumenep. Dalam hal ini hendaknya tidak memberikan batasan dengan sistem protokoler sehingga mudah ditemui oleh siapapun dan dari kalangan manapun. Dengan tanpa adanya batasan itu maka suara rakyat bisa ditangkap secara langsung, sebab kalau melalui kurir suara itu sudah tidak murni lagi karena ditunggangi oleh berbagai kepentingan.

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

SBI : Smp Negeri 1 Sumenep Membangun Kultur Adiwiyata

 Barangkali analogi yang  paling pas untuk mempresentasikan dunia global saat ini adalah,  “Dunia hanya selebar taplak meja, setiap ujungnya kelihatan”. Dalam hitungan detik, berbagai peristiwa di belahan dunia manapun langsung dapat di konsumsi oleh penghuni di belahan lainnya. Semuanya itu diakibatkan kemajuan IPTEK dan pencapaian peradaban tinggi oleh manusia yang mampu mengoptimalkan kualitas Sumber Daya Manusianya. Tidaklah mengherankan kalau istilah-istilah pasar global, ekonomi global, budaya global telah menjadi menu sehari-hari yang memasuki khasanah kehidupan.
Maka tidaklah berlebihan apabila saat ini dunia keilmuan dan sains menjadi skala prioritas dari berbagai bangsa, terutama negara-negara yang diblokkan dalam negara ketiga. Tak terkecuali di Indonesia,  hal itu disebabkan pintu pertama dan utama dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia hanya dapat ditentukan oleh produk dunia pendidikan. Realita tersebut memacu Pemerintah untuk mengalokasikan dan menggelontorkan dana pendidikan sesuai dengan amanat Undang-undang. 
Alternatif yang dibangun untuk peningkatan kualitas pendidikan adalah program SBI, baik di jenjang Sekolah Dasar, SMP maupun SMA. Sekolah Bertaraf Internasional ini nantinya diharapkan mampu menghasilkan produk pendidikan yang lebih berkualitas, hal ini untuk menjawab tantangan perkembangan globalisasi serta daya saing dengan dunia luar. Untuk saat ini Sekolah Bertaraf Internasional mulai bermunculan dan diminati oleh sejumlah kalangan. Melalui program-program dan proses pembelajaran, plus piranti media pembelajaran yang lengkap maka SBI mempunyai magnet kuat menarik peminat untuk memasuki sekolah SBI. Namun demikian keinginan kuat untuk memasuki SBI terkadang harus tersandung oleh kendala, diantaranya penyediaan anggaran yang tak terjangkau. Sekolah Bertaraf Internasional mematok nominal yang cukup tinggi, dan hal itu tidak terjangkau oleh kalangan yang berpenghasila pas-pasan.
Namun lambat laun SBI ini  mulai merambah di kota-kota kabupaten, Pemerintah Pusat melalui Departemen Pendidikan menggelontorkan anggaran ke semua Kabupaten dan Kota untuk  merintis Sekolah Bertaraf Internasional, baik di SD, SMP  maupun SMU. Target minimal setiap Kabupaten atau Kota mempunyai 1 (satu) sekolah Bertaraf Internasional di jenjang pendidikan dasar, menengah dan atas. Pemerintah Daerah maupun Kota  menyambut hangat  uluran tangan Departemen Pendidikan Nasional ini, tak terkecuali di wilayah kabupaten Sumenep. Untuk jenjang Sekolah Bertaraf Internasional di SMP, SMP Negeri 1 mendapat kepercayaan mengemban tugas sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.
VISI DAN MISI SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL SMP NEGERI 1
Tujuan utama dibangunnya SBI  adalah untuk memenuhi tuntutan perkembangan globalisasi dan daya saing  dengan peningkatan Sumber Daya Manusia, hal itu dipaparkan oleh  H. Nurul Hamzah, M. Pd.  Kepala Sekolah SMP Negeri 1. SMP Negeri 1 merupakan satu-satunya SMP Negeri di kabupaten Sumenep yang ketiban sampur untuk merintis Sekolah Bertaraf Internasional. Pada tahun pelajaran 2008/2009 SMP Negeri 1 telah memulai dengan menampung siswa SBI 1 kelas. Sebenarnya tidaklah berbeda dengan kelas-kelas regular lainnya, papar Nono (panggilan akrab H. Nurul Hamzah, M. Pd.) namun 8 standart nasional pendidikan itu ditambah dengan plus. Jadi ada nilai plus dalam SBI, nilai plus tersebut adalah pengayaan, pendalaman. Pengayaan dan pendalaman itu dengan cara adaptasi maupun adopsi, baik pada kurikulum ataupun hal lainnya yang berkaitan dengan proses pendidikan.
Secara rinci Nurul Hamzah menjelaskan tentang visi SBI SMP Negeri 1 Sumenep, “Cerdas, Terampil, Berwawasan Internasional, Berbudaya, Relegius, dan Berakhlakul Kharimah’. Visi tersebut kemudian dijabarkan dalam indikator  visi sekolah SMP Negeri 1, yaitu ; 1), Terwujudnya SKL SMP yang bertaraf internasional, 2( Terwujudnya standar isi bertaraf internasional, 3) Terwujudnya standar proses bertaraf internasional, 4) Terwujudnya standar tenaga pendidik dan kependidikan bertaraf internasional, 5) Terwujudnya standarsarana dan prasarana bertaraf internasional, 6) Terwujudnya standarpengelolaan bertaraf internasional, 7) Terwujudnya standar keuangan dan pembiayaan pendidikan, 8) Terwujudnya standar penilaian pendidikan bertaraf internasional, 9) Terwujudnya pengembangan budaya dan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat, 10) terwujudnya penataan ruang sekolah yang asri dan hijau, 11) Terwujudnya pengembangan upaya pelestarian lingkungan melalui perilaku yang arif dan bijak, dan 12)  Tertanamnya nilai-nilai relegius dan berahlakul kharimah di kalangan unsur sekolah.
Untuk mewujudkan cita-cita mulia yang tercakup dalam visi dan misi  tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, cetus Nurul Hamzah, tugas pertama yang cukup berat adalah merubah minsed dan pola pikir paradigma lama yang telah tertanan, baik internal maupun eksternal. Secara terus menerus, kontinyu, berkesinambungan dan sistematis perubahan pola berfikir ditanamkan di institusi sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua wali maupun stakeholder. Semua komponen ini diajak untuk meningkatkan kualitas diri dan membuka diri terhadap perubahan yang berlangsung.
Sekolah merupakan sebuah organisasi dimana manusia diasah, diasuh dan diasih untuk menemukan jati dirinya. Dan hasil yang dicapai dalam pendidikan haruslah mampu menyumbangkan kearifan dan membantu anak agar hidup dan kehidupannya bermakna dan mulia. 8 standar  nasional pendidikan tidak akan mampu diterjemahkan dan diimplementasikan kalau tidak mengoptimalkan 3 kecerdasan yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta, Nurul Hamzah menambahkan, meskipun ada kelas SBI dan Unggulan, bukan berarti kelas reguler dianaktirikan. Karena media laboratorium yang dipunyai SMP Negeri 1, baik laboratorium komputer dan IPA tetap dapat diakses oleh siswa.
Saat ini SMP Negeri 1 mempunyai 29 kelas, 2 laboratorium IPA dan 2 laboratorium komputer. Media laboratorium tersebut belum memadai. Untuk kelas reguler secara bergantian dapat menggunakan laboratorium komputer maupun IPA, disesuaikan dengan jadual mata pelajaran. Khusus kelas SBI  disediakan komputer secara khusus, untuk kelas 1 SBI tapel 2008/2009  sarana yang tersedia 17 laktop, 15 untuk masing-masing siswa dan 2 laktop untuk pembelajaran. Nurul hamzah menepis anggapan bahwa kalau masuk SBI setiap anak harus mempunyai 1 laktop pribadi. Kita permudah, Nurul Hamzah menambahkan, meskipun tidak mempunyai laktop anak-anak bisa membawa flasdisk maupun CD. Yang terpenting anak-anak bisa mengakses semua informasi yang berkaitan dengan pembelajaran.
Belajar langsung menggunakan media memang lebih menyenangkan, anak-anak sangat enjoy, tambahnya pula sambil tertawa, karena terkadang anak-anak lebih aktif mengakses semua informasi pendidikan dan tidak mengenal waktu, membuat guru  pendamping malah tertinggal.  Dalam proses pembelajaran yang langsung  bersinggungan dengan media yang konkrit, anak-anak lebih mudah menyerap dan terbiasa mengolah logika dan berpikiran kritis. Hal itu menyebabkan anak-anak lebih berani mengemukakan pertanyaan maupun pikirannya. Dengan kata lain anak-anak lebih maju daripada gurunya. Oleh karenanya guru-guru yang mengajar di kelas SBI harus mempunyai kemampuan plus. Untuk mengimbangi kemajuan yang dicapai oleh siswa di kelas SBI. Semangat yang dimiliki oleh siswa  SBI maupun kelas Unggulan  lebih tinggi daripada kelas reguler, hal itu barangkali disebabkan oleh atribut yang disandang. Padahal tidak ada dikotomi antara kelas SBI, Unggulan maupun kelas reguler dalam penggunaan IT.
OUTPUT YANG DIHASILKAN
Kurun waktu 3 tahun barulah mengetahui out put dari kelas SBI, tetapi dalam masa hampir memasuki 2 semester out put yang dihasilkan di kelas SBI sungguh sangat membanggakan, papar Nurul Hamzah, hal itu disebabkan hasil evaluasi yang dilaksanakan secara internal sekolah mencapai nilai maksimal. Begitu pula hasil evaluasi yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Pendidikan per semester mencapai hasil yang maksimal. SMP Negeri 1 Sumenep menduduki peringkat 22 dari hasil kompetensi SBI SMP seluruh Indonesia. evaluasi ini bukan hanya diterapkan pada anak didik, tetapi juga guru-guru yang mengajar di kelas SBI. Bukan hanya mampu berkompetensi pada nilai semester, untuk lomba-lomba sains maupun olimpiade SBI SMP Negeri 1 Sumenep mampu menunjukkan prestasi yang  sangat bagus, pada lomba OSN tingkat Jawa Timur mampu meraih rangking 2, serta dapat masuk 10 besar tingkat Madura. Dalam satu semester telah mampu menunjukkan peningkatan prestasi yang luar biasa
Out put yang dihasilkan bukan hanya semata-mata berorientasi pada bidang akademik., tetapi juga bidang non akademik sesuai dengan bakat anak yang dimiliki dan ingin dikembangkan oleh setiap siswa. Dan yang paling urgen disini  adalah pembangunan kultur yang mengarah pada kultur Adiwiyata. Dalam Pada prinsipnya anak-anak diajak untuk tidak sekedar berwacana, tetapi langsung dalam bentuk implementasi dengan langkah-langkah konkrit, papar Nurul Hamzah. Berkaitan dengan kultur Adiwiyata bukan hanya sekedar membangun imej sekolah bersih, hijau dan rindang tetapi bagaimana Adiwiyata menjadi sebuah daya. Oleh karenanya ada beberapa hal indikator yang dilakukan. Pertama, meningkatkan atau mengembangkan kebijakan-kebijakan sekolah yang berkenaan dengan persoalan wiyata yang dimasukkan dalam sebuah peraturan dan tata tertib. Kedua mengembangkan kurikulum, dalam hal ini adiwiyata dimasukkan dalam kurikulum.
Ada tiga pilihan pengembangan yang bisa dilakukan, yaitu dengan cara integrasi, dengan monolitik dan lintas  mata pelajaran. Untuk SMP Negeri 1 pengembangan yang orientasinya menjadikannya sebuah kultur, maka adiwiyata ini dimasukkan  ke dalam mata pelajaran muatan lokal. Langkah konkritnya dengan mengatur sebuah kebijakan, contoh sampah, kata Nurul Hamzah, setelah dilakukan sosialisasi tentang pentingnya kebersihan dan sampah, anak-anak diajak berkomitmen untuk menjaga kebersihan di lingkungannya sendiri. Setelah komitmen tersebut disepakati kemudian dibuat dalam bentuk SK Kepala Sekolah. Pemahaman itu ditanamkan dan juga diikuti oleh sanksi, setiap anak yang membuang sampah sembarangan maka sanksi yang harus dilakukan adalah mencari sampah sebanyak 20. Ini memberikan efek jera dan sebagai salah satu bentuk shok terapi.
PERAN SERTA PEMERINTAH
Nurul Hamzah bersyukur, bila dibandingkan dengan beberapa daerah lain Pemerintah Kabupaten memberikan perhatian dan support luar biasa. Setelah melakukan pendekatan dan proses prosedural, dana shering yang diajukan oleh pihak sekolah mendapat respon dengan turunyya alokasi dana tersebut. Sudah 2 kali SMP Negeri 1 menerima dana dari APBD, yang pertama sebesar 160 juta, dan yang kedua sebesar 120 juta. Dana tersebut dikelola langsung oleh UPT  SMP Negeri 1, sedangkan dari pihak pemberi dana hanya memantau pelaksanaan dana tersebut dalam bentuk monitoring dan evaluasi.
NURUL Hamzah menambahkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, perlu adanya mediator yang dapat menjembatani dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Sehingga menghasilkan satu konsep dan strategis yang matang serta aspek-aspek lain yang mampu menjadi pendukung utama dalam meraih keberhasilan pendidikan.
Tentu saja, untuk menghasilkan konsep bersama diperlukan kebersamaan. Terutama dari pihak jajaran Birokrasi Pendidikan. Legeslatif dan masyarakat. Karena dari kelompok masyarakat inilah, aspirasi yang bergulir di kalangan masyarakat dapat di serap.  Sehingga produk yang dihasilkan, akan mampu meningkatkat mutu pendidikan. Dalam jangkauan yang lebih luas, pendidikan merupakan pintu utama dalam pembentukan Sumber Daya Manusia yang handal. Maka tidaklah berlebihan semua komponen bangsa berharap banyak kepada institusi pendidikan sebagai garda terdepan, sebagi prajurit terdepan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia.








Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

Prospek : Rumput Laut Sangat Luar Biasa


Konon, Sumenep merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang mempunyai potensi SDA terbesar. Mungkin kalau ditawarkan ke Jepang, mereka sangat mau dan interest sekali, mungkin barang Jepang di bawa ke sini, dan Jepang tidak mau membawa apa-apa. Analogi tersebut bukanlah hanya sebuah isapan jempol semata. Potensi bukan hanya pada sumber minyak dan gas semata, hasil laut, pariwisata, tetapi pada pantai membujur memanjang yang menawarkan tangan-tangan dingin untuk menghijaukan-nya dengan tanaman budidaya rumput laut.
Potensi tersembunyi dan membutuhkan penanganan yang serius tersebut dipaparkan oleh pengusaha muda, Helmy Said El Fauzi, asal Pakandangan Bluto dalam bincang-bincang santai dengan reporter Info, El Iemawati, Rabu, 31/01/07.
SDA, khususnya sumber laut di Sumenep sangat besar sekali untuk dieksploitasi, spesifikasi Anda bergerak di bidang yang mana dari sekian potensi sumber kelautan yang ada ?
Kita bergerak di bidang hasil laut dengan spesifikasi produk jenis rumput laut, yaitu jenis eseoma cotoni, jenis ini memang paling banyak dibutuhkan oleh pasar, termasuk pasar  ekspor yang di situ memang  termasuk jenis nomor satu. Jenis rumput laut ini ada beberapa macam, diantaranya eseoma cotoni, spinusum, dan gracalia, ini semua adalah budi daya yang dikembangkan.
Untuk budi daya ini berapa lama petani bisa memanen hasilnya ?
Standar masa tanam ini yang diminta dengan standar masa tanam usia 45 hari untuk jenis eseoma cotoni, dan juga jenis spinusum sekitar 30 sampai 40 hari. Ini adalah standar mutu maksimal 45 hari. Jadi masa panen adalah 45 hari.
Bagaimana  Anda melihat potensi rumput laut ini bisa berkembang di Sumenep yang memiliki  pantai cukup panjang ?
Kebetulan barusan kita mengikuti pertemuan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Sumenep yang juga dihadiri oleh Dinas Kelautan wilayah Surabaya, dan Jakarta. Pertemuan membahas soal itu, ternyata Madura itu, khususnya Sumenep paling bagus di seluruh Indonesia dalam hal infra struktur. Dari alur hulu sampai hilir sangat paling siap, nah kalau bicara kualitas sebenarnya kualitas rumput laut Madura bagus, apabila dibandingkan dengan wilayah lain. Nomor satu adalah NTT, nomor dua dari Sulawesi dan Madura nomor tiga. Cuma disini kita perlu pembinaan khusus tentang masalah rumput laut ini. Kenapa ? Karena perlakuan dari petani itu sendiri yang mengakibatkan, yang sampai sekarang imej tentang rumput laut Madura ini masih negatif.
Perlakuan-perlakuan petani, maksudnya bagaimana ?
Misalkan dari kita panen sebelum usia yang standar dibawah 45 hari sudah di panen, nah ini sangat kompleks permasalahannya. Artinya dari standar ekspor itu banyak sekali kita abaikan, pertama adalah yang paling menentukan itu adalah masa tanam, itu memang diharuskan 45 hari. Kedua adalah standar kadar air 35 %, kadar garam 2 %.
Menghadapi kondisi di lapangan seperti itu bagaimana mengatasinya, dalam hal ini Pemerintah daerah ?
Sementara dari pihak Pemerintah ini sudah ada pembinaan-pembinaan secara teknis, namun disini adakalanya kurang koordinasi antara pemerintah dengan pengusaha termasuk juga pasar luar negeri. Kita harus sepakat untuk mempelajari itu, karakter permintaan-permintaan yang diminta oleh Bayer. Karena beda karakter Bayer satunya dengan Bayer lainnya beda. Seringkali terjadi di Madura ini begitu kita mau menentukan standar ada yang punya kepentingan di situ untuk mendapatkan barang dengan menurunkan standar, dengan dibeli harga murah. Kembali kepada permasalahan yang sangat esensial ini adalah petani sangat membutuhkan dana. Misalkan contoh, kenapa petani mau panen sebelum masa 45 hari ? Karena mereka sangat ingin cepat mendapatkan uang sehingga tidak memperhatikan kualitas barang, termasuk juga kadar air, pengeringannya dibikin cepet  sehingga tidak mencapai standar. Dan di situ betul-betul sangat ditentukan oleh ekonomi, ingin cepat-cepat memperoleh uang.
Menghadapi permasalahan seperti itu solusinya apa ?
Barusan juga kami sampaikan dalam forum komunikasi di Dinas, lha ini satu-satunya ada semacam solusi yang diberikan oleh Dinas. Jadi kembali ke permasalahan awal adalah faktor ekonomi sehingga tidak mengkondisikan hasil standar ini ada kucuran dana berupa kredit lunak untuk para petani dan pembudidaya rumput laut di Sumenep khususnya, sehingga mereka kita harapkan bisa memperhatikan dari mutu rumput laut tersebut.
Bagaimana Anda melihat prospek budi daya rumput laut ini kedepan ?
Kalau kita bicara prospek untuk makro saja pasar luar negeri sangat luar biasa, sampai sekarang kita belum bisa memenuhi target  mereka. Sampai detik ini kita sangat kesulitan memenuhi target permintaan dari pasar Cina, maupun pasar Hongkong, kita belum memenuhi. Dengan kata lain sangat prospek sekali tersedianya pasar. Tugas kita untuk semakin mengembangkan termasuk meningkatkan produksi dari rumput laut sendiri. Nah, hasil rumput laut Sumenep ini hasil terbesar di Jawa Timur, untuk Jawa Timur. di banding NTT, Sulawesi. Kalau penataan infra struktur lebih bagus Sumenep.
Tentunya infra struktur harus dilengkapi dengan SDM yang handal pula, bukankah demikian ?
Saya kira tinggal penataan saja, kesiapan-kesiapan itu sudah ada dari infra struktur yang ada, tinggal penataan. Ini kita harapkan dari pihak pemerintah untuk bisa menata baik dari pembinaan secara teknis ke petani selaku pembudidaya, yang kedua juga di tata niaganya, itu sangat penting. Karena disampaikan oleh direktur  investasi di Jakarta itu bahwa betul-betul di Sumenep itu paling siap, tinggal kita yang menata. Kita selaku pengusaha disini berharap banyak dari pihak pemerintah untuk bisa mengkoordinir ini.
Kendala-kendala yang dihadapi ?
Kembali pada masalah final lagi, saya sudah sampaikan tadi bahwa di Madura ini yang sangat saya sayangkan dari tata niaganya. Tata niaga di Madura saja, contoh, di Madura ini sangat unik, dari petani sampai ke eksportir ini masih melalui mata rantai  4.
Konkrit-nya ?
Artinya begini, misalkan dari petani dijual lagi ke pengepul 1, pengepul 1 menjual lagi ke pengepul 2, pengepul 2 ke pengepul 3, pengepul 3 ke pengepul 4, pengepul 4 masih dijual ke eksportir. Jadi terlalu banyak mata rantai sehingga tidak memberikan nilai tambah kepada petani. Lha ini yang saya harapkan bisa memotong mata rantai 2 saja sudah bagus. Yang terjadi di daerah-daerah lain itu cukup 2 mata rantai.
Langkah-langkah konkrit untuk memotong mata rantai tersebut ?
Kita sampaikan permasalahan itu, kenapa sampai terjadi begitu ? Karena faktor final, misalkan dari pengepul 1 mampu untuk men-cover pendanaan sehingga dia ke pengepul 2 untuk penalangan dana. Nah, yang kedua tidak mampu men-cover lagi, baru naik ke pengepul 3, pengepul 3 baru ke 4, ini kendala final saja, misalkan 1 pengepul bisa men-cover itu dan petani sudah dalam artian secara ekonomi mampu maka dengan sendirinya putus mata rantai yang ketiga dan keempat ini. Sehingga cukup dua mata rantai saja. Nah hal ini akan memberikan nilai tambah pada pihak petani.
Apa yang Anda lakukan sebagai pengusaha  untuk memutus mata rantai ini, apa memberikan suntikan dana ?
Kalau dari pihak pengusaha, khususnya saya adalah mencari dan memberikan pasar dan juga memberikan sistem pembayaran dikondisikan untuk bisa cash and carry. Kita sudah berupaya, memang awal-awal kita ekspor keluar negeri itu sistemnya memang agak susah. Kita sudah mulai sekarang ini untuk mengupayakan payment sistemnya agar bisa cash. Awal-awal itu untuk merintis memang menghutangkan mereka, bayar PP 50 %, 50 %-nya setelah barang sampai, yang memakan waktu sekitar satu bulan. Perjalanan kapal saja 15 hari, masih inspect barang di pabrik makan waktu 5 hari. Nah jatuhnya itu 1 bulan, nah Alhamdulillah saya sudah bisa mengkondisikan pihak Bayer memberikan payment sistem lebih bagus.
Menurut Anda, apakah Pemerintah Daerah sudah men-cover dan meng-akomodir kepentingan petani rumput laut ?
Saya kira kepedulian pemerintah Sumenep sudah bagus, pembinaan secara teknis termasuk juga bantuan berupa pinjaman kredit segala macam sudah jalan. Saya rasa tinggal mengembangkan saja, minimal menambah jaringan-jaringan pembudidaya. Nah yang sudah saya lihat ini berupa kelompok-kelompok pembudidaya termasuk juga di kepulauan masih belum tergarap. Saya berharap untuk pembinaan semacam  itu jangan hanya dilakukan di Sumenep daratan, saya pakai istilah daratan adalah sentra rumput laut  yang ada di Dungkek, Talango, Saronggi maupun Bluto, jangan terfokus pada daerah ini. Justru potensi terbesar adalah di daerah kepulauan. Kalau bicara produksi, total produksi  di kepulauan adalah 60 % dari total produksi di Sumenep
Ini menandakan bahwa budidaya rumput laut  akan mampu mengangkat perekonomian masyarakat pesisir ?
Benar, kalau kita melihat pasar ekspor-nya, di dunia ini  nomor 1 supleyer terbesar adalah  Filipina, di Filipina dalam kondisi sudah tergarap 90 %. Nomor 2 adalah Indonesia, namun Indonesia masih belum tergarap sekitar 80 %, artinya baru 20 % lahan yang masih bisa dipakai. Nah, ini sangat berpeluang besar untuk meningkatkan produksi, karena Indonesia menurut data yang ada masih 20 % yang tergarap. Sehingga sisa 80 %, dan Insya Allah akan lebih bagus lagi dari Filipina kalau penanganannya dari managemen pengelolaan dan  SDM dan SDA-nya maksimal dan optimal.
Negara mana saja yang pernah Anda kunjungi dalam upaya menembus pangsa pasar ?
Kita datang ke Hongkong selaku Bayer disana, dan yang kedua saya sudah ekspansi di Xiamen  terus Ouzo juga di Zizi di Tiongkok. Disana pangsa pasar dan pabrik aslinya ada di kota-kota tersebut untuk pengolahan rumput laut. Di Xiamen saja itu sentra industri rumput laut, kita sudah bisa komunikasi dengan tiga pabrik yang di situ level-nya ada yang  medium, dan ada yang besar. Dari kapasitas produksi saja kita belum bisa memenuhi, 1 pabrik membutuhkan bahan 600 ton/bulan, ada yang 1000 ton/bulan
Apakah produk dari Madura mampu memenuhi kebutuhan tersebut ?
Kita belum mencapai 10 %, belum mencapai 10 %. Nah, ini sangat disayangkan karena potensi sangat luar biasa,  kita belum bisa memanfaatkan potensi SDA yang ada, termasuk juga SDM. Kita harus bisa bersatu untuk membangun kebersamaan dari masing-masing pihak, baik pembudidaya, baik leader-nya, eksportir-nya. Saya harap untuk saling koordinasi dalam upaya membangun dan meningkatkan produksi rumput laut di Madura, khususnya di Sumenep
Langkah-langkah yang Anda lakukan apakah bisa memotong mata rantai sistem yang ada ?
Jadi dari kapasitas pabrik tersebut sangat besar dengan potensi pabrik itu kita harapkan yang awalnya kita dulu merintis masuk pasar mereka kita memakai broker, nah Alhamdulillah sekarang kita bisa langsung masuk  pabrik, artinya dengan konsekuensinya adalah nilai harga lebih bagus, harga jual lebih bagus. Nah, ini juga harus dibarengi dengan barang-barang yang kita bawa memenuhi standar mereka. Ini standar umum yang mereka pakai adalah kadar air 35 %, usia tanam 45 hari, dan kadar garam 2 %. Itu standar ekspor yang harus kita pakai.
Harapan-harapan yang perlu Anda sampaikan, baik kepada pihak Pemerintah maupun masyarakat petani ?
Yang saya harapkan dalam jangka panjang, kita ingin sekali membikin semacam asosiasi di situ untuk memudahkan komunikasi antara berbagai pihak, baik pihak dinas selaku pembina di Sumenep juga pengusaha termasuk juga pembudidaya, disini nelayan. Dengan asosiasi itu, kita punya sarana komunikasi atau forum yang bisa setiap saat bisa mengkoordinasikan antara pihak pembudidaya, pengusaha termasuk dinas. Disitu ada satu visi yang sama sehingga kita akan bisa meningkatkan produksi dan kualitas juga. Dengan demikian kita bisa membangun Madura ini akan menjadi pulau garam dan pulau rumput laut, sebutan itu akan menjadi trade mark pulau Madura.


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF