Minggu, 20 Mei 2012

Prospek : Rumput Laut Sangat Luar Biasa


Konon, Sumenep merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang mempunyai potensi SDA terbesar. Mungkin kalau ditawarkan ke Jepang, mereka sangat mau dan interest sekali, mungkin barang Jepang di bawa ke sini, dan Jepang tidak mau membawa apa-apa. Analogi tersebut bukanlah hanya sebuah isapan jempol semata. Potensi bukan hanya pada sumber minyak dan gas semata, hasil laut, pariwisata, tetapi pada pantai membujur memanjang yang menawarkan tangan-tangan dingin untuk menghijaukan-nya dengan tanaman budidaya rumput laut.
Potensi tersembunyi dan membutuhkan penanganan yang serius tersebut dipaparkan oleh pengusaha muda, Helmy Said El Fauzi, asal Pakandangan Bluto dalam bincang-bincang santai dengan reporter Info, El Iemawati, Rabu, 31/01/07.
SDA, khususnya sumber laut di Sumenep sangat besar sekali untuk dieksploitasi, spesifikasi Anda bergerak di bidang yang mana dari sekian potensi sumber kelautan yang ada ?
Kita bergerak di bidang hasil laut dengan spesifikasi produk jenis rumput laut, yaitu jenis eseoma cotoni, jenis ini memang paling banyak dibutuhkan oleh pasar, termasuk pasar  ekspor yang di situ memang  termasuk jenis nomor satu. Jenis rumput laut ini ada beberapa macam, diantaranya eseoma cotoni, spinusum, dan gracalia, ini semua adalah budi daya yang dikembangkan.
Untuk budi daya ini berapa lama petani bisa memanen hasilnya ?
Standar masa tanam ini yang diminta dengan standar masa tanam usia 45 hari untuk jenis eseoma cotoni, dan juga jenis spinusum sekitar 30 sampai 40 hari. Ini adalah standar mutu maksimal 45 hari. Jadi masa panen adalah 45 hari.
Bagaimana  Anda melihat potensi rumput laut ini bisa berkembang di Sumenep yang memiliki  pantai cukup panjang ?
Kebetulan barusan kita mengikuti pertemuan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Sumenep yang juga dihadiri oleh Dinas Kelautan wilayah Surabaya, dan Jakarta. Pertemuan membahas soal itu, ternyata Madura itu, khususnya Sumenep paling bagus di seluruh Indonesia dalam hal infra struktur. Dari alur hulu sampai hilir sangat paling siap, nah kalau bicara kualitas sebenarnya kualitas rumput laut Madura bagus, apabila dibandingkan dengan wilayah lain. Nomor satu adalah NTT, nomor dua dari Sulawesi dan Madura nomor tiga. Cuma disini kita perlu pembinaan khusus tentang masalah rumput laut ini. Kenapa ? Karena perlakuan dari petani itu sendiri yang mengakibatkan, yang sampai sekarang imej tentang rumput laut Madura ini masih negatif.
Perlakuan-perlakuan petani, maksudnya bagaimana ?
Misalkan dari kita panen sebelum usia yang standar dibawah 45 hari sudah di panen, nah ini sangat kompleks permasalahannya. Artinya dari standar ekspor itu banyak sekali kita abaikan, pertama adalah yang paling menentukan itu adalah masa tanam, itu memang diharuskan 45 hari. Kedua adalah standar kadar air 35 %, kadar garam 2 %.
Menghadapi kondisi di lapangan seperti itu bagaimana mengatasinya, dalam hal ini Pemerintah daerah ?
Sementara dari pihak Pemerintah ini sudah ada pembinaan-pembinaan secara teknis, namun disini adakalanya kurang koordinasi antara pemerintah dengan pengusaha termasuk juga pasar luar negeri. Kita harus sepakat untuk mempelajari itu, karakter permintaan-permintaan yang diminta oleh Bayer. Karena beda karakter Bayer satunya dengan Bayer lainnya beda. Seringkali terjadi di Madura ini begitu kita mau menentukan standar ada yang punya kepentingan di situ untuk mendapatkan barang dengan menurunkan standar, dengan dibeli harga murah. Kembali kepada permasalahan yang sangat esensial ini adalah petani sangat membutuhkan dana. Misalkan contoh, kenapa petani mau panen sebelum masa 45 hari ? Karena mereka sangat ingin cepat mendapatkan uang sehingga tidak memperhatikan kualitas barang, termasuk juga kadar air, pengeringannya dibikin cepet  sehingga tidak mencapai standar. Dan di situ betul-betul sangat ditentukan oleh ekonomi, ingin cepat-cepat memperoleh uang.
Menghadapi permasalahan seperti itu solusinya apa ?
Barusan juga kami sampaikan dalam forum komunikasi di Dinas, lha ini satu-satunya ada semacam solusi yang diberikan oleh Dinas. Jadi kembali ke permasalahan awal adalah faktor ekonomi sehingga tidak mengkondisikan hasil standar ini ada kucuran dana berupa kredit lunak untuk para petani dan pembudidaya rumput laut di Sumenep khususnya, sehingga mereka kita harapkan bisa memperhatikan dari mutu rumput laut tersebut.
Bagaimana Anda melihat prospek budi daya rumput laut ini kedepan ?
Kalau kita bicara prospek untuk makro saja pasar luar negeri sangat luar biasa, sampai sekarang kita belum bisa memenuhi target  mereka. Sampai detik ini kita sangat kesulitan memenuhi target permintaan dari pasar Cina, maupun pasar Hongkong, kita belum memenuhi. Dengan kata lain sangat prospek sekali tersedianya pasar. Tugas kita untuk semakin mengembangkan termasuk meningkatkan produksi dari rumput laut sendiri. Nah, hasil rumput laut Sumenep ini hasil terbesar di Jawa Timur, untuk Jawa Timur. di banding NTT, Sulawesi. Kalau penataan infra struktur lebih bagus Sumenep.
Tentunya infra struktur harus dilengkapi dengan SDM yang handal pula, bukankah demikian ?
Saya kira tinggal penataan saja, kesiapan-kesiapan itu sudah ada dari infra struktur yang ada, tinggal penataan. Ini kita harapkan dari pihak pemerintah untuk bisa menata baik dari pembinaan secara teknis ke petani selaku pembudidaya, yang kedua juga di tata niaganya, itu sangat penting. Karena disampaikan oleh direktur  investasi di Jakarta itu bahwa betul-betul di Sumenep itu paling siap, tinggal kita yang menata. Kita selaku pengusaha disini berharap banyak dari pihak pemerintah untuk bisa mengkoordinir ini.
Kendala-kendala yang dihadapi ?
Kembali pada masalah final lagi, saya sudah sampaikan tadi bahwa di Madura ini yang sangat saya sayangkan dari tata niaganya. Tata niaga di Madura saja, contoh, di Madura ini sangat unik, dari petani sampai ke eksportir ini masih melalui mata rantai  4.
Konkrit-nya ?
Artinya begini, misalkan dari petani dijual lagi ke pengepul 1, pengepul 1 menjual lagi ke pengepul 2, pengepul 2 ke pengepul 3, pengepul 3 ke pengepul 4, pengepul 4 masih dijual ke eksportir. Jadi terlalu banyak mata rantai sehingga tidak memberikan nilai tambah kepada petani. Lha ini yang saya harapkan bisa memotong mata rantai 2 saja sudah bagus. Yang terjadi di daerah-daerah lain itu cukup 2 mata rantai.
Langkah-langkah konkrit untuk memotong mata rantai tersebut ?
Kita sampaikan permasalahan itu, kenapa sampai terjadi begitu ? Karena faktor final, misalkan dari pengepul 1 mampu untuk men-cover pendanaan sehingga dia ke pengepul 2 untuk penalangan dana. Nah, yang kedua tidak mampu men-cover lagi, baru naik ke pengepul 3, pengepul 3 baru ke 4, ini kendala final saja, misalkan 1 pengepul bisa men-cover itu dan petani sudah dalam artian secara ekonomi mampu maka dengan sendirinya putus mata rantai yang ketiga dan keempat ini. Sehingga cukup dua mata rantai saja. Nah hal ini akan memberikan nilai tambah pada pihak petani.
Apa yang Anda lakukan sebagai pengusaha  untuk memutus mata rantai ini, apa memberikan suntikan dana ?
Kalau dari pihak pengusaha, khususnya saya adalah mencari dan memberikan pasar dan juga memberikan sistem pembayaran dikondisikan untuk bisa cash and carry. Kita sudah berupaya, memang awal-awal kita ekspor keluar negeri itu sistemnya memang agak susah. Kita sudah mulai sekarang ini untuk mengupayakan payment sistemnya agar bisa cash. Awal-awal itu untuk merintis memang menghutangkan mereka, bayar PP 50 %, 50 %-nya setelah barang sampai, yang memakan waktu sekitar satu bulan. Perjalanan kapal saja 15 hari, masih inspect barang di pabrik makan waktu 5 hari. Nah jatuhnya itu 1 bulan, nah Alhamdulillah saya sudah bisa mengkondisikan pihak Bayer memberikan payment sistem lebih bagus.
Menurut Anda, apakah Pemerintah Daerah sudah men-cover dan meng-akomodir kepentingan petani rumput laut ?
Saya kira kepedulian pemerintah Sumenep sudah bagus, pembinaan secara teknis termasuk juga bantuan berupa pinjaman kredit segala macam sudah jalan. Saya rasa tinggal mengembangkan saja, minimal menambah jaringan-jaringan pembudidaya. Nah yang sudah saya lihat ini berupa kelompok-kelompok pembudidaya termasuk juga di kepulauan masih belum tergarap. Saya berharap untuk pembinaan semacam  itu jangan hanya dilakukan di Sumenep daratan, saya pakai istilah daratan adalah sentra rumput laut  yang ada di Dungkek, Talango, Saronggi maupun Bluto, jangan terfokus pada daerah ini. Justru potensi terbesar adalah di daerah kepulauan. Kalau bicara produksi, total produksi  di kepulauan adalah 60 % dari total produksi di Sumenep
Ini menandakan bahwa budidaya rumput laut  akan mampu mengangkat perekonomian masyarakat pesisir ?
Benar, kalau kita melihat pasar ekspor-nya, di dunia ini  nomor 1 supleyer terbesar adalah  Filipina, di Filipina dalam kondisi sudah tergarap 90 %. Nomor 2 adalah Indonesia, namun Indonesia masih belum tergarap sekitar 80 %, artinya baru 20 % lahan yang masih bisa dipakai. Nah, ini sangat berpeluang besar untuk meningkatkan produksi, karena Indonesia menurut data yang ada masih 20 % yang tergarap. Sehingga sisa 80 %, dan Insya Allah akan lebih bagus lagi dari Filipina kalau penanganannya dari managemen pengelolaan dan  SDM dan SDA-nya maksimal dan optimal.
Negara mana saja yang pernah Anda kunjungi dalam upaya menembus pangsa pasar ?
Kita datang ke Hongkong selaku Bayer disana, dan yang kedua saya sudah ekspansi di Xiamen  terus Ouzo juga di Zizi di Tiongkok. Disana pangsa pasar dan pabrik aslinya ada di kota-kota tersebut untuk pengolahan rumput laut. Di Xiamen saja itu sentra industri rumput laut, kita sudah bisa komunikasi dengan tiga pabrik yang di situ level-nya ada yang  medium, dan ada yang besar. Dari kapasitas produksi saja kita belum bisa memenuhi, 1 pabrik membutuhkan bahan 600 ton/bulan, ada yang 1000 ton/bulan
Apakah produk dari Madura mampu memenuhi kebutuhan tersebut ?
Kita belum mencapai 10 %, belum mencapai 10 %. Nah, ini sangat disayangkan karena potensi sangat luar biasa,  kita belum bisa memanfaatkan potensi SDA yang ada, termasuk juga SDM. Kita harus bisa bersatu untuk membangun kebersamaan dari masing-masing pihak, baik pembudidaya, baik leader-nya, eksportir-nya. Saya harap untuk saling koordinasi dalam upaya membangun dan meningkatkan produksi rumput laut di Madura, khususnya di Sumenep
Langkah-langkah yang Anda lakukan apakah bisa memotong mata rantai sistem yang ada ?
Jadi dari kapasitas pabrik tersebut sangat besar dengan potensi pabrik itu kita harapkan yang awalnya kita dulu merintis masuk pasar mereka kita memakai broker, nah Alhamdulillah sekarang kita bisa langsung masuk  pabrik, artinya dengan konsekuensinya adalah nilai harga lebih bagus, harga jual lebih bagus. Nah, ini juga harus dibarengi dengan barang-barang yang kita bawa memenuhi standar mereka. Ini standar umum yang mereka pakai adalah kadar air 35 %, usia tanam 45 hari, dan kadar garam 2 %. Itu standar ekspor yang harus kita pakai.
Harapan-harapan yang perlu Anda sampaikan, baik kepada pihak Pemerintah maupun masyarakat petani ?
Yang saya harapkan dalam jangka panjang, kita ingin sekali membikin semacam asosiasi di situ untuk memudahkan komunikasi antara berbagai pihak, baik pihak dinas selaku pembina di Sumenep juga pengusaha termasuk juga pembudidaya, disini nelayan. Dengan asosiasi itu, kita punya sarana komunikasi atau forum yang bisa setiap saat bisa mengkoordinasikan antara pihak pembudidaya, pengusaha termasuk dinas. Disitu ada satu visi yang sama sehingga kita akan bisa meningkatkan produksi dan kualitas juga. Dengan demikian kita bisa membangun Madura ini akan menjadi pulau garam dan pulau rumput laut, sebutan itu akan menjadi trade mark pulau Madura.


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda