Minggu, 20 Mei 2012

Puasa Hilangkan Kemunafikan !



Bulan Ramadlan adalah bulan investasi. Dan tentu yang dimaksud ialah investasi kebaikan. Segala kebaikan yang diperbuat mendapat ganjar berkali lipat. Namun hakikat dari ramadlan bukan sekedar orientasi pahala pribadi, ada korelasi yang lebih penting antara ramadlan dengan akar kehidupan sosial masyarakat; yang dalam hal ini kaitannya dengan kehidupan bernegara. Dengan hadirnya bulan penuh rahmat ini, bias yang diimbaskannya dalam penyelesaian problematika krisis multi-dimensi bangsa benar-benar menjadi suatu tuntutan. Ramadlan diharapkan bisa membentuk karakter individu yang dapat membuat seluruh waktu yang tersisa berpredikat ramadlan sepanjang masa. Ini memang harus segera dimulai; dari taraf personal hingga target komunal. Bisakah Sumenep memulainya? Waktulah yang akan menjawabnya. Berikut bincang-bincang El Iemawati dan M Farhan M dari INFO dengan Bupati Sumenep KH. Moh Ramdlan Siraj, SE., MM. Selasa (20/9)
Memasuki bulan Ramadhan 1426 H, masyarakat benar-benar menghadapi keprihatinan  ekonomi nasional. Sejumlah bahan pokok dan kebutuhan vital lainnya mengalami kenaikan. Dalam kondisi seperti ini masyarakat dihadapkan pada kecemasan-kecemasan. Menurut Bapak, apa kebijakan Bapak sebagai pemimpin daerah, bila kenyataan  masyarakat benar-benar terjepit dalam kondisi ini ?

Ee.. begini, sesungguhnya ini faktor kebetulan saja, sebab yang namanya bulan puasa datang setiap tahun, dan kewajiban itu dilaksanakan semestinya bagi para muslim. Hanya saja secara kebetulan untuk tahun ini berbarengan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang kurang baik, dan ini terkait dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan juga terkait pula dengan pemerintah menaikkan harga BBM. Bagaimanapun juga BBM naik karena pemerintah mengambil satu kebijakan mengurangi subsidi BBM. Makanya bagaimanapun ini harus diterima sebagai satu kenyataan oleh masyarakat. Jadi masyarakat harus menerima sebagai suatu kenyataan dan kiranya masyarakat juga memahami kenapa itu mesti terjadi, dan tentu ini diharapkan akan memperbaiki kondisi ekonomi nasional ke depan.
Kalau untuk Sumenep sendiri ?
Ya, bagaimanapun Sumenep merupakan bagian dari nasional kita, ya sama sebab ini keputusan Pemerintah Pusat, jadi sama.
Jadi tidak ada perbedaan yang mendasar ?
Tidak ada, karena semua wilayah di bumi nusantara ini kena dampak itu, ini bersifat nasional
Jadi tidak ada langkah-langkah antisipasi dari Pemerintah Daerah, khususnya Bapak sebagai Kepala Daerah?
Tidak ada..
Jadi semuanya berjalan begitu saja, bergulir, dan mengalir … ?
Langkah apa yang bisa diambil ? Sebab kan begini, semuanya terkait dengan dikuranginya subsidi, maka ada dana konpensasi yang diberikan Pemerintah kepada masyarakat. Dalam hal ini Pemerintah Daerah  sesungguhnya sama sekali tidak ikut campur, sebab bantuan konpensasi ini langsung kepada masyarakat pemanfaat, yang digulirkan dalam bidang pendidikan, kesehatan, raskin, alat kontrasepsi dan lain-lain.
Kalau begitu ada sedikit solusi dari Pemeintah Daearah ?
Pemerintah Daerah oleh Pemerintah Pusat hanya dimintai untuk membentuk unit pengaduan masyarakat dan pemantauan terkait dengan pelaksanaan pendistribusian konpensasi pengurangan subsidi ini.
Ramadhan sebagai bulan pengendalian diri dari nafsu. Ritual puasa ramadhan sebenarnya telah berlangsung sejak jaman Nabi. Menurut Bapak apa refleksi (korelasi) pelakasanaan ibadah puasa wajib bagi umat Islam pasca ramadhan ? Refkeksi ini tentunya berkaitan dengan penegakan hukum di Sumenep ?
Begini, harus dipahami bahwa ibadah ini sesungguhnya adalah mau tidak mau disadari sebagai kewajiban oleh umat. Kewajiban tersebut benar-benar disadari oleh umat bahwa apapun yang diperintahkan oleh Allah SWT bukanlah untuk  kebutuhan Allah, tetapi sesungguhnya merupakan kebutuhan umat itu sendiri. Umat yang butuh, umat yang memerlukan, sebab apa ? Itu dalam rangka kemaslahatan umat itu sendiri. Nah dalam konteks inilah maka tentu terhadap kewajiban-kewajiban itu terkait dengan kebutuhan umat. Apa yang menjadi target inilah yang harus dirasakan oleh umat. Jadi tidak pada ritualnya, tapi kepada dampak dari ritual itu.
Dampak dari ritual pasca ramadhan ?
Ini sangat personal, sangat personal. Anda ibadah, misalnya Sholat maka akan lain respon yang ditemukan di dalam batin.
Ada fenemona ramadhan terkesan sebagai rutinitas belaka, bahkan rutinitas yang berulang-ulang seperti karnaval atau teater yang dangkal. Ketika ramadhan sudah berakhir, kembali pada keadaan semula !
Sekali lagi itu personal. Karena sifatnya personal kan ya ? Kewajiban ini dilaksanakan. Secara ritual sudah dilaksanakan, mestinya setiap person itu mempunyai tanggungjawab pribadi. Apa yang ditemukan, apa yang dirasakan … lha maka dari itu kan sudah jelas bahwa Allah menginginkan dengan itu ya ayyuhalladzina aamanu kutiba ‘alaikumushshiyam kama kutiba la’alladzina min qoblikum la’allakum tattaquun. Dari ayat ini kita dapat mengambil pengertian bahwa ibadah puasa merupakan suatu ibadah yang universal, tidak hanya pada umat ini, tapi juga pada umat-umat sebelumnya..
Maksudnya begini, refleksi dan implikasi dari ibadah puasa tersebut dengan problematika sosial maupun kehidupan kemasyarakatan, ….
Personal, sesungguhnya tetap personal. Karena penegakan hukum ada mekanisme lain, sebab penegakan hukum itu ada aturan, ada pelaksana terkait dengan pelanggran yang dilakukan oknum masyarakat, kan begitu ? Nah, artinya dengan ibadah yang dilakukan ini ada pembentukan pribadi dari oknum masyarakat. Secara personal, kan gitu. Nyatanya seandainya  mau menyadari dan merasakan apa yang dilakukan sebagai wujud pelaksanaan ibadah itukan ada satu rasa kesadaran maupun pngendalian. Nah ini sesungguhnya akan meringankan para aparat penegak hukum. Nah sekarang apakah kemudian ada korelasi atau tidak  dengan tingkat kesadaran ? Tentu ini diharapkan. Kalau juga tidak ada maka terjadi something wrong …. Ada satu yang salah. Jadi masyarakat hanya sekedar rutinitas saja tanpa penghayatan, tanpa berusaha  umtuk menjadikan media pembentukan pribadi.
Khusus kepada aparat ?
Sama saja..!
Karena bersifat personal, mungkin ada upaya Pemerintah Daerah … ?
Dalam hal ini kami memang tidak bisa melakukan rekayasa apa-apa. Sebab ini memang satu ritual yang berjalan karena masyarakat masih menyadari sebagai satu kewajiban kan, maka berjalan dengan sendirinya. Jadi tidak ada rekayasa apapun, model gimana kek, tidak ada.
Maksudnya begini, apakah secara khusus berdampak pada perilaku para aparat, karena ada indikasi atau fenomena yang menjurus pada merebaknya KKN ? Apakah ada langkah-langkah hukum kaitannya dengan ibadah puasa ?
Ya tentu harapannya memang seperti itu, makanya dalam konteks bagaimana memanfaatkan ramadhan ini sehingga menjadi bulan yang dijadikan satu kesempatan untuk membentuk satu kepribadian, bahkan istilah saya adalah kesalehan. Dalam hal ini saya telah menyampaikan surat edaran kepada instansi yang ada, untuk bagaimana di lingkungan kerja masing-masing menciptakan nuansa ramadhan. Misalnya diadakan pengajian pada waktu jeda dari kegiatan rutin, pemasangan spanduk-spanduk sebagai suatu himbauan atau diharapkan para aparatur berpakaian yang islami. Itu sudah kami sampaikan.
Jadi memang pada prinsipnya ibadah puasa adalah ibadah personal yang imbasnya pada ibadah sosial ?
Semuanya begitu, sebab kita kantahu individu-individu inikan bagian kecil dari masyarakat. Jadi apabila individu-individu itu baik maka masyarakat dalam kelompok komunitas tersebut. Makanya semuanya dimulai dari diri sendiri, dari komponen terkecil, diri sendiri, keluarga. Sebab ibadah itu personal.
Kaitannya dengan membangun peradaban muslim yang humanis dan masyarakat madani?
Begini, sesungguhnya kita ingin menciptakan satu kehidupan yang hakiki, tidak semu. Apalagi misalnya dalam konteks kita bukan negara Islam, kangitu. Kita tetap menghormati kebebasan umat masyarakat ini sepanjang itu tidak  dinilai melanggar batas ketentuan hukum positif, hukum negara. Makanya terkait dengan pengalaman agama, sekali lagi bersifat personal, tergantung kepada kesadaran masing-masing. Kewajiban kita hanyalah menyampaikan himbauan-himbauan, sebab kita  juga tidak ingin kondisi kehidupan yang sama, tampak baik tetapi nyatanya terasa adanya satu pemaksaan gitu. Ya kita kan sangat berbahagia manakala masyarakat terutama PNS yang dengan sadar melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya gitu. Sehingga ibadah diharapkan jadi satu proses pembentukan pribadi baik.
Tapi kan ada langkah-langkah alternatif, semisal terapi shok ?
Ya, nyatanya tidak ada satu sistem yaang paten dalam persoalan ini. Sebab medianya hanya dakwah, Nabi pun begitu innaka la tahdi man ahbata wa lakinallah yahdi man yasya’ , yang artinya “engkau Muhammad tidak bisa memberikan petunjuk, menjadikan orang itu baik, siapapun termasuk orang yang kamu cintai. Jadi Allah yang akan menentukan hambanya.
Saat ini sepertinya ada sebuah indikasi melemahnya kepedulian sosial, dan ini berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat yang cenderung egoistik dan materialistik. Lalu bagaimana dengan hal  ini ?
Ee.. begini, apa yang kita tangkap atau kita rasakan bahwa dari satu sisi adalah bahwa perilaku semacam itu dipengaruhi oleh konteks jaman. Sesungguhnya kan begini, pada saat masyarakat satu di antara yang lain sudah saling percaya, maka otomatis kepedulian sosial ini pada saat orang yang katakan punya perhatian kepedulian sosial itu  terjadi, tapi kemudian menjadi sasaran cerca yang itu tidak bisa dipungkiri, sebab itu kanmerupakan respon psikologis.
Apakah butuh suatu figur yang mendorong agar kembali menguat kepedulian sosial ?
Soalnya begini, pada saat masyarakat tidak saling percaya , sesungguhnya kita punya satu kekayaan  budaya gotong royong, tetapi sekarang akhir-akhir ini semakin melemah. Nah mengapa karena  menurut saya antara lain  masyarakat sudah saling percaya diantaranya  sudah mulai berkurang, mulai terkikis, yang ada saling curiga.
Jadi tidak ada langkah-langkah strategis atau katakanlah suatu solusi ?
Ee.. begini, katakan ada orang memberikan  suatu kebaikan, seringkali orang tidak bisa menghargai kebaikan itu, makanya hanya orang yang dengan rasa ketuhanan saja dia tidak akan yang penting saya melakukan, tapi orang secara itukan dia melakukan karena Tuhan juga karena ingin mendapat pengakuan dari orang, kan begitu.
Berarti itu faktor eksternal ?
Ya cobalah kita merasakan itu, pada saat orang kita bantu, dia tidak bersyukur, dia tidak menghargai, ya bahkan menuntut kembali, kok cuma segini, dimana kemudian orang itu simpati ?
Ini ada pandangan yang tidak benar, bahwa orang memberikan kebaikan itu, orang merespon,  menanggapinya sebagai suatu kewajiban. Itukan, sehingga kurang begitu memperhatikan  karena dianggap kewajiban. Saya misalnya,  memberikan kebaikan kepada anda, pada saat memberikan itu karena anda menganggap itu kewajiban, anda kurang  memberikan perhatian kepada saya, seandainya memang begini, kewajiban memang kewajiban, tapi setiap orang melakukan kewajiban  anggap itu sebagai suatu kebaikan. Sesungguhnya saya sudah mencoba mengetrapkan  atau merealisasikan  hal itu, saya sebagai pimpinan mempunyai  staf, mempunyai kewajiban untuk melakukan tugas, setiap selesai melakukan tugas saya selalu mengucapkan terima kasih, karena apa ? sesungguhnya karena kewajiban. Saya wajib menyampaikan terima kasih  karena staf saya melakukan kebaikan.
Berarti dalam konteks ini manusia mempunyai peran masing-masing sehingga kewajiban sudah menjadi rutinitas ?
Nah, mestinya kewajiban sekalipun yang dilaksanakan  oleh orang dan diterima manfaatnya oleh orang lain dia mestinya menghargai sebagai suatu kebaikan, bukan kewajiban. Dalam konteks agama,  segala sesuatu yang dilaksanakan dengan ketulusan, penuh ikhlas akan mempunyai nilai ibadah.

Saat ini penjajahan budaya sudah sangat  mengkhawatirkan, dalam arti pornografi, pornoaksi dan lainnya secara perlahan menjadi racun mematikan, terutama bagi generasi muda. Apakah ada langkah-langkah strategis untuk membendung ataupun memfilter pengaruh tersebut, terutama pada bulan ramadhan ini ?
Ee.. begini ya, hal-hal semacam itu menurut UU adalah sesuatu yang dilarang. Nah, makanya karena kita masyarakat muslim, tanpa ada UU sekalipun maka dengan sendirinya semacam yang sangat membahayakan, yang sangat merusak moralitas akan dihindari. Ya memang bagaimanapun juga peran rumah tangga  sangat besar. Apapun juga secara formal, aparat katakan tidak akan bisa melakukan suatu pengawasan ataupun penindakan  sebagaimana mestinya. Karena pertama, keterbatasan aparat itu sendiri,dan kedua cenderung dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Jadi ini merupakan kerja tim ?
Memang kita perlu membangun jati diri. Kita sebagai orang Indonesia, yang katanya orang Timur,  yang memiliki budaya sangat tinggi, muslim. Nah, tapi kenapa kita begitu rentan ? terpenetrasi dengan budaya-budaya yang sangat merugikan. Kita ambil contoh Jepang, melalui media media masa ataupun elektronika kita dapat melihat dan menyaksikan kultur orang Jepang yang pekerja keras, rajin membaca, menguasai IPTEK dan sangat santun dalam segala hal. Sementara kita gaya hidupnya saja yang terlihat modern, tapi tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam arti kita cuma kulit luarnya saja yang menarik.
Makanya melihat terpaan penetrasi dari luar yang terhadap budaya demikian rupa, kita tidak boleh surut, kita tetap melakukan usaha-usaha pada setiap kesempatan saya sering menghimbau mari kita membangun moralitas ini, kita membangun masyarakat yang handal, dari sisi budaya.
Berarti ada revitalisasi umat ?
Benar. Langkah pertama haruslah menghilangkan sifat kemunafikan, kita harus mengakui borok-borok kita, kita jangan hanya berindah-indah  dalam kata yang nyatanya melakukan perbuatan sangat tercela, yang banyak sekarang kanseperti itu.
Langkah-langkah untuk merevitalissi umat ?
Untuk melakukan revitalisasi hilangkan kemunafikan, dan bagaimana mengobati borok itu. Langkah kedua kita bersama-sama membangun, nah kalau kita sudah menyadari kita berborok jangan kita saling menuding, sama-sama boroknya, bagaimana kita saling menyembuhkan.
Langkah ketiga, apapun yang namanya satu target itu harus pakai frame, pakai bingkai. Sebagai masyarakat muslim kita kembali kepada koridor agama. Ajaran yang berdasar keimanan, ya semuanya kan harus terukur. Nah, dalam hal ini agama sebagai tolak ukurnya..
Apa himbauan Bapak, khususnya kepada rakyat dalam memamsuki bulan Ramamdhan ini, khusunya berkaitan dengan kondisi ekonomi nasional yang akan berimbas terhadap perekonomian masyarakat Sumenep.
Yang pertama saya berharap kiranya ibadah puasa itu dilaksanakan tidak sekedar bersifat seremonial saja, tetapi diupayakan  untuk benar-benar dihayatai bahwa kewajiban puasa  diterapkan oleh Tuhan sesungguhnya bukan Tuhan yang butuh, tetapi manusia yang butuh. Kita memerlukan itu untuk kemaslahatan dan kebaikan kita.  Kemudian yang kedua dengan himpitan kehidupan ini tentu bagaimanapun juga  haruslah diterima  sebagai suatu kenyataan, sebab bagaimanapun juga  sesuatu yang sakit dan menyakitkan, kalau kita menyadari sebagai suatu kenyataan dan kita berusaha memahami mengapa itu mesti terjadi. Sementara memang kondisi  seperti sedemikian rupa maka tentu barangkali akan lebih meringankan. Nah, dalam konteks agama begini, ini suatu musibah, musibah itu harus disikapi dan dihadapi dengan sikap sabar, sebab tidak sabar menghadapi musibah itu  maka akan muncul musibah yang lain, akan semakin berat. Kita tidak akan bisa banyak berbuat dalam hal ini. Makanya kita pasrah, kita menghadapinya dengan rasa pengertian yaitu pengabdian,dan tentu juga dengan doa-doa yang dipanjatkan  di bulan ramadhan yang mustajab, kita mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Sikap sabar, tawakkal  menghadapi berbagai cobaan ini akan membuat kita menjadi manusia yang paripurna. Sebab bagaimanapun, kondisi saat ini adalah realita, adalah sebuah kenyataan.(*)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda