Kamis, 24 Mei 2012

Terpenting Adalah Proses


 Saat ini banyak sekali yang beranggapan bahwa anak-anak masa kini telah kehilangan masa-masa yang paling membahagiakan. Dunia anak yang seharusnya dipenuhi oleh ketentraman, kedamaian, pelukan kasih sayang baik dari lingkungan keluarga dan masyarakat kini telah mengalami dehidrasi. Dapatlah disaksikan dalam realita kehidupan bahwa banyak sekali anak-anak yang tidak beruntung, dipekerjakan dan menjadi tulang punggung keluarga, menjadi komoditas pedagangan dan dilacurkan, dieksploitasi, dikebiri hak-haknya, dan sejuta derita yang seharusnya tidak dibebankan pada pundak mereka. Bukan itu saja, hak anak terkadang terpasung karena terkadang orang tua menjadikan anak sebagai boneka, sebagai miniatur orang dewasa yang tidak seratus persen berhak mengapai cita.
Hari Anak Nasional yang senantiasa diperingati tidaklah mampu memberikan secercah senyum pada wajah-wajah polos mereka. Kegiatan seremonial memperingati Hari Anak Nasional yang selalu identik dengan perlombaan belum sepenuhnya mampu menyentuh hati dari berbagai kalangan untuk memikirkan nasib dan masa depan anak-anak yang tidak beruntung. Bukankah mereka punya hak yang sama dengan anak-anak lainnya ? Lalu harus bagaimana ?  Untuk mengetahui dari berbagai sudut pandang tentang dunia anak, berikut perbincangan El Iemawati dengan pemerhati pendidikan, Sujono di kediamannya, Rabu, 24/06/2009
Setiap tahun kita selalu memperingati Hari Anak Nasional, pendapat Anda ?
Selayaknya Hari Anak Nasional diperingati tidak hanya sekedr seremonial, tidak sekedar hura-hura atau senang-senang, tetapi harus ada muatan-muatan, harus ada target yang dicapai terutama oleh lembaga-lembaga pendidikan. Tentu kedepan muatannya harus disesuaikan kemana anak-anak Indonesia ini, selayaknya lembaga-lembaga harus sadar anak-anak sekarang ini sangat jauh berbeda dengan anak-anak masa lalu. Artinya, mereka ini dari TK sampai SD sudah siap untuk menerima muatan-muatan materi yang sudah disiapkan dan ditargetkan oleh guru. Namun demikian, semua lembaga harus tahu bahwa anak hanya butuh stimulan, nah rangsangan-rangsangan ini harus mengarah pada pendidikan-pendidikan yang positif.
Esensi dari peringatan tersebut, menurut Anda apa sih ?
Kalau berbibicara tentang esensi, menurut saya ada dua, yaitu tidak terfokus hanya pada masalah umum saja tetapi pada masalah relegius. Dua hal ini harus menjiwai, dua hal ini juga harus saling menghidupi sehingga idealisasi pendidikan  akan tercapai. Sepertinya saat ini kita terjebak, baik orang tua, guru maupun lembaga terjebak pada pendidikan intelektual saja. Padahal kecerdasan spiritual dan emosional sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya, dan ini yang banyak ditinggalkan. Saat ini kita banyak berkiblat bagaimana sukses Amerika, bagaimana sukses Inggris dan kurang menggali potensi bangsa sehingga kita tidak menemukan jati diri pendidikan bangsa kita sendiri. Selayaknya dalam memperingati Hari Anak ini ada visi dan misi yang disampaikan pada anak-anak dengan bahasa yang bisa di cerna oleh mereka. Dan ini merupakan tugas lembaga atau guru-guru yang betul-betul tahu persis kemana anak ini harus diarahkan.
Menurut Anda. Langkah-langkah apa yang mesti dilakukan agar ketiga kecerdasan tersebut tumbuh bersamaan serta sinergi dan integral ?
Ya, saya kira untuk mengintegralkan ketiga kecerdasan tersebut memerlukan Sumber Daya Manusia yang mampu memberikan ketiga hal itu. Peran orang tua juga sangat vital, karena antara guru atau lembaga dan orang tua harus ada kesepakatan, harus ada komitmen dan harus ada kemitraan untuk bersama-sama membimbing anak membangun jati diri, membangun karakter dan mengoptimalkan kecerdasannya. Kalau komitmen ini dibangun dengan kuat maka saya rasa anak-anak kita akan happy, akan enjoy, akan senang dan cinta ketika mereka menuntut ilmu. Rasa senang dan cinta inilah yang benar-benar harus ditanamkan kepada anak-anak kita, karena dengan rasa senang dan cinta maka ketika menuntut ilmu anak-anak bukan hanya sekedar menjalankan rutinitas saja. Penanaman rasa cinta ini akan memembuahkan sebuah kesadaran, bahwa menuntut ilmu itu adalah kewajiban dan ibadah.  Dalam agama kita juga telah disampaikan, bahwa orang yang berilmu derajatnya satu tingkat lebih tinggi daripada orang yang tidak berilmu.
Maaf, selama ini kita hanya mendidik anak-anak hanya sekedar memerintah atau menghimbau atau hanya omong kosong doang tanpa dibarengi dengan langkah-langkah konkrit dan pembiasaan. Contohnya, ketika selalu mengatakan kepada anak-anak bahwa kita mempunyai kewajiban memberikan kelebihan harta kita. Anak-anak kita hafal akan Hadistnya. Mengapa kita tidak melakukan langkah konkrit ? Misalnya, di rumah atau di sekolah anak-anak kita dibiasakan menyisihkan uang jajan untuk dikumpulkan. Dapat mbak bayangkan kalau dalam satu sekolah misalnya mempunyai siswa seratus. Tiap anak terbiasa menyisihkan uang jajan 100 rupiah, dalam 1 hari dana yang terkumpul 10.000 rupiah, satu minggu 60.000 rupiah, satu bulan kalau hari efektif 25 hari maka yang terkumpul 1.500.000. kalau 1 tahun, dua tahun ? Ini misal. Yang saya sampaikan tadi kita melatih anak-anak kita sejak dini untuk menyisihkan uang dan membiasakan bahwa rejeki yang kita punyai sebagian adalah hak kaum yang fakir, miskin dan yang berhak kita santuni.
Dalam artian yang terpenting adalah proses, bukan mengejar nilai akhir ?
Benar sekali, karena dalam proses tersebut sejak dini kita juga melatih anak-anak untuk mampu bekerja sama, mengajak anak-anak belajar berorganisasi, menananamkan kejujuran dan amanah. Kita beri mereka kepercayaan untuk mengelola uang tersebut, dan dana yang terkumpul tersebut kan bisa dipakai untuk menjenguk teman yang sakit, misalnya, untuk membantu siswa yang tidak beruntung atau hal-hal lainnya yang bermanfaat. Nah, saya rasa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dan emosional anak-anak kita dalam kegiatan tersebut sudah terasah. Di sekolah materi pelajaran disinergikan dengan realita dan mengedepankan daya nalar. Misalnya memberikan analogi sesuai nalar tetapi menyentuh hati dan kalbu serta mampu mengasah nilai spiritual.
Kita punya falsafah yang telah di adopsi dan diterapkan oleh negara-negara maju, yaitu kebersihan sebagian dari iman. Namun hal itu belum kita terapkan agar menjadi sebuah kultur. Saya kira, di TK dan SD inilah penerapan kebiasaan tersebut sudah harus tertanam di sekolah. Karena apa ?  Dalam masa-masa seperti itulah penanaman ataupun pembiasaan akan lebih mengena. Kita kan semua tahu, bahwa guru bagi anak-anak merupakan sosok yang sangat mereka sayangi setelah kedua orang tua. Anak-anak seusia TK dan SD lebih patuh dan percaya pada guru dari pada orang tuanya
Berarti harus ada juga tambahan porsi pada bidang tertentu ?
Benar, misalnya porsi pelajaran agama di sekolah hanya 2 atau 3 jam, selebihnya akan diserahkan kepada orang tua. Ironisnya sekarang ini orang tua ini juga hanya setengah-setengah, bahkan tidak peduli dengan pendidikan agama. Nah, untuk mencapai pengoptimalan 3 komponen kecerdasan yang telah dianugerahka oleh Sang Pencipta harus sinergi. Kembali kepada falsafaf Madura, “Bappa’, Babbu’, Guru, Rato.” Artinya, orang tua, guru atau sekolah dan pemimpin (pemerintah) ini harus sinergi. Sekarang ada satu sekolah yang ingin maju misalkan, memanfaatkan potensi wali murid yang sangat luar biasa, menarik sumbangan dan sebagainya, dan ini di tentang oleh beberapa wali murid. Kelirunya pemerintah membuat satu opini pada masyarakat bahwa sekolah itu gratis. Gratis ini penjabarannya tidak jelas, itu apa dan dalam hal apa. Namun terkadang antara ketiga kompnen ini terjadi kontradiktif.
Dan anak-anak yang akan menjadi korban, apakah begitu ?
Benar, apapun alasannya nanti yang akan menjadi korban justru anak-anak. Karena apa ? Pelaku-pelaku pendidikan kurang memahami apa sih ruh dari pendidikan itu sendiri. Baik dari pemerintah, guru maupun orang tuanya, dan ironisnya lagi serta cukup memprihatinkan mereka hanya terjebak pada beberapa mata pelajaran yang diujikan. Banyak dari kita terjebak disana, anaknya dipoles untuk menjadi teknokrat, padahal anak yang jenius itu tidak terbatas pada yang ahli matematika, IPA, Fisika dan bahasa saja. Kita semua harus sadar, pemerintah, guru, orang tua bahwa anak yang dilahirkan sudah dibekali dengan otak yang jenius. Kalau boleh mengutip pendapat dari pakar psikologi, ada 8 kecerdasan dalam diri anak yang bisa dioptimalkan dan sudah tersimpan dalam milyaran sel di otak kanan dan kiri. Dan sampai saat ini kita belum menyediakan sarana prasarana yang memadai untuk pengembangan agar ketiga kecerdasan tersebut integral. Kita terlalu pelit, nah bagaimana bisa mengoptimalkan dari  salah satu kecerdasan kalau tidak ada sarana penunjang ?
Eksploitasi anak oleh orang tua, intinya seperti itu. Pendapat Anda ?
Ya, saya sepakat kalau dikatakan ada eksploitasi pada anak tidak jarang terjadi seperti itu. Kita sering lupa bahwa anak mempunyai dunianya sendiri yang dalam prosesnya seringkali dijejali oleh keinginan orang tua harus jadi apa. Banyak sekali contoh ketika anak-anak sudah di jenjang perguruan tinggi mereka masuk ke perguruan tinggi bukan karena cita-citanya, tetapi karena keinginan orang tua anak harus jadi apa. Apalagi saat ini, orang tua lebih suka membelikan HP untuk anaknya daripada membelikan buku. Dari kecil anak-anak sudah di didik konsumtif. Maaf, itu hak mereka, tetapi ketika sejak kecil anak-anak tidak di ajak, dibiasakan dan di didik untuk mencintai ilmu maka kerugian besar akan menimpa bangsa ini. Sebenarnya kunci pendidikan menurut saya 70 % milik orang tua
Ada anggapan seringkali anak dijadikan miniatur dan dijadikan boneka oleh orang tua, lalu dimana hak anak. Menurut Anda ?
Ini perlu penyadaran, bahwa kecenderungan orang tua sekarang sudah mulai arogansi terhadap anak-anaknya baik pada yang berstatus mapan maupun yang biasa. Kita orang tua, termasuk saya ada kecenderungan telah kehilangan wacama bahwa anak sebetulnya punya hak. Nah pada moment Hari Anak sekarang ini perlu ada satu konsilidasi untuk bersama-sama mengetahui hak anak itu yang bagaimana. Contoh, di TK yang dijejeali untuk saat ini adalah komputer, bahasa, menghitung sebelum anak memasuki sekolah SD. Stimulasi semacam ini, rangsangan semacam ini itu akan berakibat kepada anak ketika dia memasuki SD maka anak tersebut antipati pelajaran yang telah dijejalkan di TK. Hal ini disebabkan karena apa yang sudah ia dapatkan di TK, di SD di ulang, mengulang. Nah, ketika diulang tersebut da kejenuhan dan membuat anak tersebut menjadi bosan. Nah, ketika anak ada masalah di SD berarti anak itu punya masalah di TK, dan itu akan bisa terus berjenjang sampai pendidikan yang lebih tinggi. Nah, rata-rata permasalahan yang saya lihat seperti ini, faktornya dari orang tua.
Nah, harusnya bagaimana ?
Seperti saya sampaikan di awal perbincangan, bahwa orang tua harus berkomitmen dan membangun kemitraan dengan lembaga dimana anak tersebut disekolahkan. Ibarat meniti sebuah jembatan, orang tua bersama guru bersama-sama menuntun anak. Nah, disinilah peran besar orang tua untuk bersama-sama dengan lembaga pendidikan membangun karakter, mengoptimalkan kecerdasan, menjadikannya anak-anak yang santun, berbudi, beretika, mempunyai rasa estetika dan bersama-sama pula menjadikannya manusia dengan moralitas tinggi serta rasa sosial yang tinggi pula.
Kita tahu bahwa potensi berfikirnya setiap anak berbeda, maka mereka memerlukan sentuhan yang berbeda pula. Nah, di era otonomi pendidikan apabila Kepala Sekolahnya, leadernya tidak memiliki orientasi ke depan maka disini akan terjadi penghambatan, akan terjadi stagnas. Nah, untuk tidak terjadi hal-hal itu maka kemitraan itu mutlak diperlukan. Ini yang harus disadari oleh orang tua, karena kalau orang tua pro aktif maka akan berimbas pula pada guru. Dengan demikian guru akan lebih mampu memahami anak, karena input dari orang tua akan memudahkan proses pendidikan. Proses inilah yang paling penting, karena dalam agama yang dikenal hanya mengenal proses, bukan endingnya, bukan dealnya. Jadi proses. Saat ini kita hanya melihat endingnya, sehingga proses terlalaikan. Padahal kalau berbicara proses dilaksanakan dengan benar, apapun endingnya maka akan maksimal
Selain intelektual, yang paling pending dalam mendidik anak itu apa sih ?
Yang paling penting dan utama saya kira adalah pembentukan karakter, karakter building. Dalam hal ini pemerintah harus terjun langsung, menciptakan atau mendirikan lembaga khusus yang membicarakan bagaimana membentuk karakter anak sehingga misi pemerintah, khususnya di Sumenep yang agamis ini karakter anak tidak terabaikan. Hal ini disebabkan bahwa saat ini intensitas orang tua, khususnya ibu mulai berkurang. Anak-anak banyak yang dibesarkan oleh baby sister maupun pembantu, nah, ini yang salah. Sesibuk apapun seorang ibu harus meluangkan waktu untuk mengikuti perkembangan si anak. Kalau hal itu terabaikan, maka anak telah kehilangan hak dari rumah.
Oleh sebab itu saya berharap agar orang tua lebih pro aktif, artinya apa yang dikehendaki oleh sekolah harus di dukung. Yang kedua, pemerintah juga harus, “intervensi” dalam pembentukan karakter. Kalau pembentukan karakter sudah baik, yang lainnya akan mengikuti. Itu pasti. Apakah itu kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosional dan spiritual.



Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda