Moralitas lokal atau jati diri bangsa di era globalisasi saat ini kurang mendapat perhatian yang serius. Budaya global telah merambah semua sendi kehidupan di semua tataran masyarakat, tak peduli apakah itu di perkotaan maupun di pelosok. Salah satu contoh produk kecanggihan IPTEK adalah kotak ajaib Televisi. Dua puluh empat jam tanpa henti menyajikan tanyangan-tayangan menarik dan membuat enggan para pemirsa beranjak dari tempat duduk. Bukan hanya Televisi membuat orang enggan bersosialisasi sesama, HP dan internet yang muncul belakangan menjadikan dunia semakin sempit, sesempit hamparan taplak meja di pojok ruangan.
Perubahan-perubahan besar terjadi di masyarakat, budaya komunal dan guyub hanya menjadi kenangan yang tersimpan dalam memori. Budaya tradisional yang dulu menjadi ruh kehidupan dalam masyarakat kini telah menjadi budaya yang lebih individualistik, a sosial, terjebak moralitas asing serta kecenderungan terbawa pengaruh materialisme dan pragmatisme. Siapapun, bangsa-bangsa di belahan bumi manapun telah termasuki virus yang namanya budaya global. Tak ada satu pun yang mampu menahannya, karena memang demikianlah sejarah peradaban manusia yang senantiasa bergerak dinamis dan cepat dalam mengisi rongga-rongga jaman.
Alangkah naif apabila kemudian budaya global tersebut diterima mentah-mentah, di kunyah dan kemudian di telan bulat-bulat. Di dalam tubuh semua anak bangsa virus budaya global tersebut kemudian akan berkembang-biak, mematikan imun tubuh, menggerogoti perlahan, seperti penyakit kanker, esteoporosis atau pun penyakit ganas yang lainnya. Secara perlahan dan pasti virus tersebut menyebar, meruntuhkan kekebalan tubuh dan mematikan.
Budaya lokal sebagai satu-satunya imun tubuh bagi budaya global selayaknya mendapat tempat dan dilestarikan serta diperkenalkan kembali kepada pemiliknya. Contoh nyata adalah kesenian tradisional, karena dalam dimensi kebudayaan kesenian tradisional bukan semata-mata produk estetika ataupun berfungsi menelorkan sebuah keindahan semata, bukan hanya estetik saja melainkan kesenian tradisional lahir dari kesadaran utuh masyarakat, baik kesadaran relegius, kesadaran sosial, kesadaran moral, kesadaran estetik maupun kesadaran pedagogik. Kelahiran kesenian tradisional lahir dari semacam kesadaran tersebut, dan jarang sekali kesenian tradisional lahir demi kepentingan entertaiment. Biasanya kesenian tradisional yang berupa nyanyian, musik, pertunjukan, tari, dan sebagainya pada umumnya lahir demi kepentingan ritual, upacara-upacara, pendidikan anak-anak, dan sebagainya. Dalam fungsinya yang begitu luhur dan agung itu, kesenian tradisional sudah selayaknya selalu dijaga keberadaannya agar tidak dilindas waktu dan jaman.
Dalam bidang kebudayaan khususnya kesenian dan kesusasteraan, Sumenep dikenal sebagai pelopor dan merupakan kantong budaya, papar budayawan Edhi Setiawan. Beragam kesenian dilahirkan dan kemudian tumbuh subur dan berkembang berabad-abad lamanya. Salah satunya adalah kesenian tradisional Topeng Dalang. Om Edhi, demikian panggilan akrabnya meneruskan penjelasannya. Sebagaimana kesenian tradisional lainnya, Topeng Dalang juga mengalami pasang surut. Pada era tahun 80 sampai 90-an, teater Topeng Dalang satu-satunya teater tradisional yang mampu menaikkan pamor seni tradisi. Melalui tangan dinginnya, Topeng Dalang Madura (Sumenep) mampu menaikkan pamor dengan melakukan pentas melanglang buana ke belahan benua Eropa, Amerika dan Asia. Tepatnya di kota London, Amsterdam, Belgia, Perancis, Jepang, dan New York kesenian Topeng Dalang unjuk gigi di arena teater terkemuka dan mendapat applaus dan sambutan yang hangat. Penampilan seni tradisional tersebut ternyata mampu memikat, memukau, meng-hipnotis dan menimbulkan decak kagum para penonton. Begitu hangat sambutan masyarakat internasional terhadap teater tradisional ini
Walaupun saat ini Topeng Dalang mengalami masa surut, Om Edhi masih tetap berbesar hati dan bangga karena kesenian Topeng Dalang masih mendapat tempat di hati masyarakatnya. Kelompok Topeng Dalang masih tetap ada dan eksis melestarikan, dan masyarakat penikmatnya masih setia menonton, menyayangi dan mencintai Topeng Dalang. Masyarakat pecinta seni tradisi inilah yang turut berjasa membesarkan kesenian Topeng Dalang yang mayoritas terdiri dari masyarakat pinggiran dan pesisir.
Senada dengan penjelasan Om Edhi, ki dalang Daruk dari kelompok kesenian Topeng Dalang Pewaras Dasuk menuturkan bahwa Topeng Dalang masih tetap ada dan eksis, itu dapat dilihat dari job manggung yang diterima. Kelompok kesenian yang dinahkodai Drs. Adi Sutikno ini pada musim ramai tanggapan mendapat job manggung 10 sampai 15 kali dalam 1 bulan. Ini kan menandakan bahwa Topeng Dalang masih sangat diminati dan mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat, tutur Daruk, jadi tidak benar kalau ada yang mengatakan bahwa Topeng Dalang sudah mati suri. Di wilayah Sumenep saja ada 8 kelompok kesenian Topeng Dalang, 3 dari Dasuk, lainnya dari Gapura, Kalianget, Pinggir Papas dan Marengan.
Adapun pada nahkota yang mengomandani kelompok kesenian tradisional Topeng Dalang adalah Drs. Adi Sutikno, Topeng Dalang Pewaras, Suraji kelompok topeng Dalang Perawas, Herman kelompok Topeng Dalang Budi Santoso, Sumaryono kelompok Topeng Dalang Rukun Famili, Daud kelompok Topeng Dalang Se Leter, Sasmito kelompok Topeng Dalang Setia Utomo, dan Akhmad kelompok Topeng Dalang Maduratna. Adapun dalang-dalang yang masih tetap eksis adalah dirinya sendiri, Siman, Sattam, Herman, Sumaryono, Daud dan Durakmat.
Barangkali kalau di perkotaan sudah jarang orang yang nanggapTopeng, karena rata-rata mereka tidak tahan menonton selama semalam suntuk, tutur Daruk, makanya ketika tampil di kota dalam acara-acara manten, atau acara resmi yang diundang oleh lembaga maupun perusahaan tampilan dan cerita dimampatkan dengan pettilan yang hanya berdurasi 30 menit. Pettilan ini hanya diambil satu babak dari cerita utuh yang biasanya tampil semalam suntuk. Dan ternyata tampilan tersebut dapat diterima dengan hangat.
Untuk menyesuaikan dengan perkembangan maka perubahan-perubanhan dilakukan di panggung pertunjukan. Misalnya, tata panggung, tata lampu, dekorasi disesuaikan dengan latar cerita yang dimainkan. Bahkan pada saat penampilan pun cerita tidak lagi terpaku pada pakem teater tradisional, cetus Daruk, untuk lebih menarik penonton cerita tidak lagi terpaku pada cerita-cerita lama semacam pewayangan, tetapi cerita dikolaborasi unsur-unsur teater modern maupun musik yang sedang digemari masyarakat macam dangdut. Apalagi untuk penampilan semalam suntuk, maka Dalang harus lebih kreatif dan inovatif menyajikan cerita.
Para penikmat Topeng Dalang yang masih sangat setia terutama di wilayah pesisir, ungkap Daruk, mulai dari Dungkek, Leggung, Batuputih, Dasuk, Ambunten, Pasean, Ketapang dan Sampang adalah langganan setia dan penonton fanatik. Pertunjukan Topeng Dalang banyak diminati karena di samping sebagai sarana hiburan juga digunakan untuk acara ruwatan karena dianggap sakral. Biasanya acara ruwatan dilakukan tengah malam sekitar jam 2 atau 3 dini hari. Para penonton baik laki-laki dan perempuan betah semalam suntuk menikmati pertunjukan sampai selesai, biasanya mereka berkelompok dengan membawa peralatan semacam tikar. Bahkan banyak yang tertidur dan terbangun lagi kalau misalnya acara itu ada acara ruwatan. Begitu acara ruwatan dilakukan, maka para penonton akan menyaksikan sampi acara terebut selesai. Bahkan pertunjukan Topeng Dalang yang semalam suntuk membantu keamanan, keamanan lingkungan semakin terjamin dan terjaga.
Drs. Adi Sutiknomenambahkan bahwa kesenian topeng merupakan bentuk kesenian teater rakyat tradisional yang paling kompleks dan utuh. Hal tersebut disebabkan dalam kesenian topeng mengandung unsur cerita, unsur tari, unsur musik, unsur pedalangan dan unsur kerajinan. Sehingga bentuk kesenian ini, dianggap paling pas untuk digunakan sebagai media dakwah. Oleh para Sunan dan dalang yang inovatif dan kreatif, tokoh-tokoh baru diciptakan dan alur cerita mengalami perubahan, dari cerita yang syarat dengan bobot filsafat dan filosofi Hindu, diganti dengan tokoh-tokoh dan alur cerita yang mengandung bobot nilai-nilai moral dan nilai-nilai filosofi Islami. Tanpa mengubah tema cerita, yaitu pertentangan dan konflik antara tokoh antagonis dan protagonis. Bahwa kebajikan akan selalu menang melawan kebatilan, kebenaran selalu menang melawan kejahatan.
Tidaklah berlebihan kalau seniman tradisional itu tidak matre, ungkap Adi Sutikno pemimpin Topeng Dalang Pewaras, rata-rata pemain yang ada dalam asuhannya kalau boleh dikatakan adalah seniman murni. Kepuasan bukan diukur dari nominal angka yang mereka terima selesai manggung, tetapi kepuasan yang didapatkan ketika mereka bisa manggung. Dan ia berani bertaruh bahwa semua seniman Topeng Dalang juga punya prinsip yang sama. Bahkan terkadang kalau sepi job, hasil manggung hanya cukup untuk membeli rokok saja. Lebih jauh Adi Sucipto menjelaskan bahwa kelompok yang dipimpinya dapat bertahan sampai saat ini karena mendapat dukungan dan komitmen yang sangat kuat dari semua anggota. Nominal yang didapat dari job sekitar 2 sampai 3 juta, itu pun Pewaras menyediakan panggung komplit dengan pengadaan lampu. Setelah dipotong dengan biaya opersional dan iuran maka yang diterima rata-rata tiap pemain hanya 50 ribu rupiah. Angka yang sangat kecil, ujar Adi tertawa.
Kepuasan batin, itu rahasianya, kata Adi Sucipto, kepuasan tersebut disebabkan mampu menyalurkan bakat yang ada sekaligus dapat menghibur orang lain. Karena rasa sayang jualah yang mampu membuat saya bertahan di seni tradisi, karena penghasilan yang didapatkan dari job-job pementasan tidak mampu menutupi biaya operasional maupun memperbaiki semua peralatan yang ada. Dibutuhkan dana besar, walaupun para pemain yang tergabung dalam kelompoknya turut membantu memberikan subsidi dan ditambah pula dengan hasil iuran, dana tersebut tidak mencukupi. Nah, karena rasa kecintaan pada seni tradisi membuatnya tidak ragu-ragu atau merasa sayang mengeluarkan uang agar roda kelompoknya tetap bertahan.



0 Komentar ::