Moment Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke tahun ini bisa jadi menjadi moment yang sangat relevan dalam membaca fenomena kebudayaan Madura. Kebudayaan (budaya) Madura dengan segala konstelasinya yang selama ini makin dijauhi oleh masyarakat , etnik Madura, merupakan persoalan tersediri yang perlu mendapat perhatian serius, dan bahkan menjadi urgen sebagai salah satu pembangunan di Sumenep. Dalam memperhatian fenomena ini reporter Info El Iemawati sempat mewawancarai budayawan Madura, D. Zawawi Imron di kediamannya, sebagai berikut.
Saat ini sepertinya terjadi penurunan perhatian terhadap kebudayan, dan ini disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya tidak adanya kepedulian pemerintah maupun partai politik. Apa memang demikian yang terjadi ?
Ya sebenarnya Gus Mus itu waktu datang ke Sumenep pada Pebruari yang lalu, beliau menyampaikan kebudayaan itu sekarang ini dikalahkan oleh yang namanya politik dan ekonomi. Karena yang diaanggap penting oleh orang-orang itu adalah politik dan ekonomi. Otomatis kebudayaan kurang mendapat perhatian, jangankan dengan kebudayaan misalnya, dengan kesenian salah satu cabang dari kebudayaan kurang diperhatikan. pembinaan lebih dititikbertakan pada olehraga. Itu berarti bahwa pada saat sekarang kaum budayawan itu dan seniman harus berjuang dengan sungguh-sungguh dalam bidang kebudayaan, khususnya kesenian. Dan saya kira ini baguslah, dengan demikian para seniman dan para budayaan menurut saya tidak perly tergantung, jadi dia harsu berjuang sendiri, mandiri, bahu membahu. Kalau ada orang yang memperhatikan, kita anggap teman seperjuangan, dan yang belum bisa membantu, dan anggap sebagai calon-calon yang kita harapkan untuk bias membantu di bidang kebudayaan nanti.
Itu kan secara makro, nah mikronya bagaimana di era Otonomi Daerah ini ?
Ya otomoatis kalau secara makro begitu, maka otomatis secara mikro mikro juga bisa terjadi yang demikian. Walau di beberapa daerah masih ada orang-orang yang berjuang di bidang kesenian dan kebudayaan, Dan ini saya kira karena Kesenian dan kebudayaan itu perjuangan kemanusiaan, perjuangan hati nurani, jadi tidak harus dibiayai oleh siapapun. Afdolnya memang harus ada biaya, ada bantuan. Tapi tidak ada bantuan pun ya tetap harus berjuang, karena ini perjuangan kemanuasiaan. Salah satu diantara perjuangan dari kebudayaan itu bagaimana dalam memanusiakan manusia, manusia agar bisa kreatif, agar hidup di dunia ini bisa rukun dan damai, mmengutamakan akal sehat, dan dengan akal sehat itu kita bias hidup saling hargai-menghargai satu dengan yang lain. Karena di dalam kebudayaan itu ka ada kesepakatan bahwa antara manusia yang satu dengan yang lain itu harus hidup berdampingan secara damai dan saling bantu membantu.
Bagaimana pendapat Anda tentang budaya lokal yang saat ini mulai dipinggirkan ?
Tidak ada istilah yang dipinggirkan, jadi perhatian sajalah yang kurang. Mungkin orang-orang tanpa bermaksud meminggirkan kebudayaan dan Kesenian. Tapi karena yang utama adalah politik dan ekonomi, tanbpa bermaksud untuk menyingkirkan kebudayaan akhirnya kurang mendapat perhatian
Menurut Anda apa yang akan terjadi dengan kondisi semacam ini, khususnya untuk generasi muda ?
Itu berarti dibutuhkan pejuang-pejuang yang gigih di bidang kebudayaan sehingga muncul nanti eksponen-eksponen yang mau berjuang. Pejuang tidak harus di manja, nyatanya dada di beberapa daerah muncul, misalnya orang yang tidak dibantu oleh siapapun, dia muncul tiba-tiba menjadi pelukis, menjadi penyair, menjadi novelis, cerpenis, tanpa dibantu oleh siapapun. Itu karena memang mereka berjuang ingin menghargai kehadirannya ini.
Upaya apa yang mesti dilakukan untuk menguatkan budaya lokal di Sumenep yang mendapat legitiminasi sebagai kota budaya ?
Ya kalau memang ada dana dibantu, baik dari pemerintah atau pun dari siapapun. Secara umum memang harus ada semacam alokasi dana dari pemerintah daerah sendiri untuk bisa dipergunakan di dalam membina kebudayaan, terutama yang masih belum berdaya. Saya sendiri karena memang tidak dibesarkan oleh bantuan-bantuan, jadi tetap berjuang ada bantuan dan tidak ada bantuan tetap berjuang, dan Insya Allah akan berhail
Legitiminasi yang melekat sebagai kota budaya apa memang demikian adanya, bagaimana kalau Anda bandingkan dengan daerah lain yang memiliki legitimasi sama ?
Ya perlu ditingkatkan, tapi memang ada kebudayaan-kebudayaan yang ada di Sumenep ini yang tanpa bantuan siapapun msih hidup, cotohnya Saronen. Siapa yang membantu ? Ludruk, misalnya, siapa yang membantu ? Atau Hadrah ? Tapi karena memang kebudayaan itu diperlukan oleh masyarakat dan mampu memberikan hiburan kepada masyarakat akhirnya bisa hidup ditengah-tengah masyarakat dan tanpa bantuan dari siapapun, karena memang mereka bisa mandiri. Saya berharap kesenian-kesenian yang lain bisa mandiri seperti ini tanpa ketergantungan kepada siapapun, termasuk kepada pemerintah.
Tapi kan harapan-harapan seperti itu tetap ada ?
Kalau memang ada bantuan atau dana, baguslah, dan ini kalau sudah menyangkut masalah dana, masalah ekonomi karena saya memang sejak dulu tak begitu tergantung kepada bantuan-bantuan itu sehingga saya tidak mengerti tentang bantuan-bantuan itu bagaimana. Karena itu seninam itu sendiri harus mandiri, harus mampu menampilkan eksistensinya. Ada bantuan atau tidak ada bantuan dia harus berjuang kalau memang mau memilih mau jadi seniman, sama juga dengan sebagian orang-orang desa yang memilih menjadi petani, peternak. Mereka tidak tergantung kepada siapapun, mereka bertani, beternak, menyiram tembakau, tapi mereka masih bisa hidup. Bahkan kalau mereke rugi pun, masih tetap eksisi, masih tetap mandiri. Pada tahun yang akan datang saya harus sukses, saya harus berhasil. Jiwa mandiri semacam itu sangat menjadi penting dan itu harus dimiliki oleh seniman.
Untuk Sumenep sendiri bagaimana agar kebudayaannya semakin menguat ?
Ya, memang barangkali yang perlu dipikirkan pendidikan kesenian di sekolah, misalnya. Bagaimana bentuknya, saya kurang tahu, saya bukan praktisi, serahkan kepada ahlinya, kepada ahli kurikulum.
Apa perlu memasukkan dalam proses pembelajaran, misalnya di muatan lokal ?
Ya, dan itu dibutuhkan pengajar yang ahli dibidangnya yang mengajar kesenian. Yang mengajar, ya aharus sarjana kesenian, yang mengajar melukis ya harus sarjana pendidikan seni. Dengan demikian apa yang diajarkan di sekolah itu benar-benmar sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan dari atas
Dalam artian proses pembelajaran itu secara terus menerus dan instens ?
Ya, karena kebudayaan itu perjuangan yang harus kontinyu, begitu ditinggalkan sedikit dia akan mengalami kolaps.
Bagaimana Anda melihatnya untuk Sumenep sendiri yang menyandang gelar Kota Budaya ?
Saya tidak bisa menilai, ya karena anda tahu ya, dari satu bulan kehidupan saya hanya 10 hari di Batang-Batang, itu pun tidak di Sumenep, kalau di Batang-Batang saya hanya menulis dan melukis, untuk urusan-urusan pesantren. Jadi saya tidak begitu tahu masalah-masalah begitu
Menurut Anda, apa yang mesti dilakukan supaya kekayaan budaya lokal yang dimiliki Sumenep itu tetap lestari !
Ya, kita mohonlah kepada pemerintah, kita mohon kepada DPR supaya lebih peduli, yang namanya kebudayaan dan kesenian itu juga dianggap penting, tidak kalah pentingnya dengan politik dan ekonomi. Dan itu artinya untuk memberikan jati diri lokalitas masyarakat Sumenep, kalau di Bali itu kan sudah jelas, mulai dari rumah itu ada aturan, tidak boleh membangun rumah tanpa desain yang ditur oleh yang namanya Perda. Kita datang ke Bali, terasalah bahwa rumah sampai di dalam kota pun masih terasa kekhasan kebalian. Disini karena memang belum ada aturan-aturan yang seperti itu maka sulit ditemui rumah-rumah model Suemenep yang anggun dan bagus. Bukan tergusur, artinya orang-orang membangun tidak berdasarkan desain-desain lokal yang ada. Sebenarnya bisa kalau ada pengusaha yang mau membangun real estate, ya diusahakan bagaimana bangunan ciri-ciri khas Sumenep Madura masih tampak. Baik dengan konsep Tanean Lanjang, baik bentuk atap rumahnaya, atau bagian-bagian tertentu yang menjadi ciri khas dari budaya Sumenep.
Setiap merayakan hari jadi, Pemerintah Kabupaten merayakan penuh gebyar dan tentunya menghamburkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan untuk pengembangan kesenian masih kurang insten dan responsif. Apa pendapat Anda mengenai kondisi semacam ini !
Sebenarnya pemerintah sekali-kali ada perhatianlah ! Contohnya pernah membuat buku sejarah Sumenep, saya kira itu. Kemudian ada pembuatan buku kesenian Sumenep, bahkan anda sendiri tanpa bantuan siapapun bisa menulis buku Berkenalan Dengan Kesenian Tradisional Madura. Jadi sebenarnya saya lihat kesenian di Sumenep ini masih berjalan, apalagi barusan pada bulan Maret Sumenep menjadi tuan rumah Kongres Kebudayaan Madura. Bahkan di RRI juga diadakan seminar tentang Madura. Saya kira kesenian Sumenep akan tetap bisa dikembangkan di masa akan datang. Ya memang ada lagu-lagu Madura, khususnya lagu anak-anak banyak yang hilang karena tidak didokumentasi.
Barangkali pada saat ini yang tidak kalah pentingnya mendokumentasi beberapa kesenian Madura baik dari seni tradisii, baik dalam bentuk CD, dalam bentuk tulisan. Jadi pada saat yang akan datang kita bisa melakukan penelitian secara murah, misalnya Perguruan-perguruan Tinggi yang ada di Madura ini yang ada kaitannya dengan budaya untuk mahasiswa yanga mau skripsi dianjurkan menulis skripsi yang ada kaitannya dengan lokalitas. Itu sangat bagus, misalnya Perguruan Tinggi Agama, penelitian pesantren di suatu tempat, kemudian yang lain, tentang Mamaca, baik tentang lagu dari Mamaca, atau naskah sastra dari Mamaca yang sebagian besar berbahasa Jawa, itu diteliti saya kira bagus. Dan itu biayanya murah, tak perlu bantuan dari siapapun.
Harapan Anda kedepan ?
Saya kira masyarakat perlu arif lah ! Saya tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, tolong ini di tulis ! Saya tidak perlu menyalahkan siapa-siapa ! Tapi perlu ada dialog antara seniman, pemerintah, anggota legeslatif. Bagaimana mengembangkan kebudayaan dan kesenian Sumenep ini ke depan. Saya kira dialog-dialog seperti itu akan sangat bagus sekali, tanpa harus menyalahkan siapa-siapa ! Sekali lagi tanpa harus menyalahkan siapa-siapa ! Kalau ada kesalahan, sayapun mungkin turut ikut merasa bersalah. Itu lebih arif, sebab membangun daerah ke depan ini tidak bisa hanya bertengkar, menyalahkan terus menerus ya, kita perlu kerendahhatian. Dan itu budaya Sumenep yang sebenarnya. Tidak ada yang merasa hebat, semuanya memang mengabdi kepada Tuhan sekaligus berbuat baik untuk Sumenep. Siapa yang sempat berbuat.
Saya berharap di moment Hari jadi ini harus ada semangat-semangat baru. Kita bukan hanya memperingati, kalau dulu Araia Wiraraja itu sudah hebat, sudah bisa menjadi adipati di Sumenep, turut mendirikan kerajaan Majapahit. Sekarang kita harus berfikir, apa yang bisa kita sumbangkan untuk Indonesia ke depan ! Kalau Aria Wiraraja bisa berbuat untuk Majapahit yang luas wilayahnya lebih luas dari Indonesia. Nah, kita sekarang dengan Hari Jadi ini kita berfikir apa yang mesti kita sumbangkan untuk Indonesia. Bukan hanya untuk lokalitas, tetapi membangun kesadaran nasional, kesadaran berbangsa bertanah air.
.



0 Komentar ::