Di mata suku lain imej, stigma, stereotipe suku Madura senantiasa digambarkan sangat buruk. Gambaran semacam itu disebabkan pengalaman sosial ketika bersinggungan dengan perilaku orang-orang Madura yang ada di rantau, dan banyak dari mereka bekerja di sektor-sektor yang keras persaingannya.
Untuk melihat gambaran yang utuh dan berimbang, Prof. Dr. A. Latif Wiyata memaparkan dari dua sudut pandang yang berimbang, apa dan bagaimana sebenarnya orang Madura.. Di sela-sela kesibukannya yang padat pada acara Kongres Kebudayaan Madura di hotel Utami, menyempatkan diri berbincang-bincang dengan reporter Info, El Iemawati. Berikut hasil perbincangan-nya.
Secara sosiologis kultural, bagaimana sebenarnya watak orang Madura ?
Ya, orang-orang Madura seperti etnis-etnis yang lain, mempunyai karakteristik yang dianggap negatif ada yang dianggap positif, gitu. Itu saya kira tidak berbeda, cuman mungkin dalam implementasi-nya dalam kehidupan sosial itu antara etnis yang satu dengan etnis yang lain berbeda penekanannya. Misalnya, ada etnis dengan nilai budaya yang lebih menekankan menghindari konflik, bukan berarti tidak konflik, dia memendam konflik. Tapi karena Madura lebih ekspresif dan spontan, kadang-kadang konflik itu keluar begitu saja tanpa ada suatu filter, begitu. Sehingga kesannya pada yang belum paham secara sosial budaya yang sebenarnya. Begitulah sebenarnya watak orang Madura, keras segala macam. Sebenarnya itu cara mengungkapkan yang spontan.
Lha memang disini faktor posisi seseorang dalam strata sosial itu berpengaruh. Artinya begini, dalam penelitian saya, konflik-konflik kekerasan di Madura yang biasa dikenal dengan carok itu pada umumnya mempunyai latar belakang strata sosial bawah. Dimana dia sama sekali kurang akrab dengan penggunaan bahasa-bahasa halus.
Bagaimana Bapak melihat yang diluar Madura, yang ekspansi, exodus ataupun perantau. apa nilai kemaduraan mereka masih kental ?
Saya akan berbicara secara umum saja bahwa semua orang yang merantau, katakan begitu, dari etnis manapun itu memang cenderung mengelompok. Secara sosiologis memang sebagai upaya sosial security, sebagai keamanan sosial untuk menghadapi kelompok mayoritas, satu. Yang kedua, juga keamanan sosial mereka dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, dimana ada bantuan segala macam dari kerabat tetangga dan kenalan. Artinya semua orang dari kelompok budaya manapun, etnis manapun ketika keluar dari induknya atau merantau cenderung mengelompok. Begitu juga dengan orang Madura. Nah, pengelompokan itulah yang membuat mereka tetap menjaga, “tetap memelihara” nilai-nilai budaya yang asal.
Dengan carok ? Kalau bicara carok versi media seringkali malah terjadi di luar Madura. Fenomena apakah ini ?
Diluar Madura, di luar pulau Madura ? E … mungkin lebih sering di Madura sendiri. Memang ada semacam varian carok, menurut saya, dari penelitian saya cukup jelas bahwa carok itu dilakukan oleh laki sama laki, antara orang laki. Kedua karena dipermalukan, malo bukan todhus, beda antara malo dengan todhus. Jadi dipermalukan, dalam bahasa Madura merasa malo sehingga tadha’ ajina. Nah perasaan semacam itu yang membangkitkan amarah yang seringkali diungkapkan secara spontan. Itu yang membedakan dengan yang lain. Biasanya terjadi di kelas bawah, karena di situ peranan penggunaan bahasa itu penting. Jadi bahasa itu tidak sekedar alat komunikasi tetapi juga merupakan alat meng-evaluasi.
Peran bahasa dengan budaya carok, konkrit-nya bagaimana ?
Begini, para pelaku carok di Madura itu lebih banyak orang dari kelas bawah yang akrab dengan bahasa mapas, bahasa bawah yang tidak tinggi dan tidak halus. Karena dengan bahasa mapas orang itu mudah mencaci-maki dan segala macam, tapi dengan bahasa halus itu ada semacam filter. Kita tidak mungkin mengumpat dengan bahasa halus. Nah, di situ akhirnya muncul ketersinggungan, segala macam, masalah kecil akhirnya menjadi besar. Kemudian ada karakteristik sosial budaya Madura yang spontan, keterkaitan-nya di situ. Bukan hubungan kausalitas, tapi ada keterkaitan, relasional, gitu,
Banyak yang menilai bahwa sisi gelap oreng Madura terlalu dieksploitasi oleh pihak luar. Apa memang benar demikian ?
Boleh … boleh saja itu, karena memang kadang-kadang suatu kelompok masyarakat ingin merasa lebih dari yang lain. Salah satu upaya yang paling mudah itu merendahkan orang lain, bukan ber-prestasi. Jadi ada cara untuk menaikkan taraf atau gengsi sendiri itu bisa dengan cara prestasi hingga orang merasa mengakui kelebihan orang itu atau merendahkan orang itu. Itu yang paling gampang, tanpa upaya lain langsung direndahkan, dirinya otomatis terangkat. Nah, pada umumnya memang ada kecenderungan dalam konteks inilah maka imej negatif Madura menjadi semakin berkembang. Jadi ingin merendahkan Madura.
Dalam arti “merendahkan Madura” ?
Iya, kadang Madura itu dianggap suatu kelompok masyarakat yang berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain yang secara kultural sudah dianggap dominan culture. Mempunyai kultur adi luhung segala macam, padahal nilai-nilai budaya itu sebenarnya adi luhung bagi pendukungnya. Jadi tidak bisa dinilai oleh pendukung lain. Nah, itulah sikap-sikap etnosentris yang sangat berbahaya.
Atau mungkin ada latar belakang sejarah sehingga etnis Madura mempunyai imej, stigma yang demikian buruk di mata etnis lainnya … .
Banyak faktor, secara historis ada, secara kultural ada, ekonomi ada, politik ada. Ya kalau kita mau bicara lebih jujur, Madura kan selama ini dibawah bayang-bayang Mataram, dibawah Singosari, semuanya-lah, gitu, sehingga selalu merasa ter-sub-ordinasi terus. Nah, ini penting disadarkan bahwa kita tidak harus tenggelam dengan itu, kita harus bangkit dari marginalisasi itu. Orang Maura sendiri yang harus sadar itu, dan sekarang saya kira putra-putra Madura sudah banyak yang boleh dikata tidak kalah prestasinya dengan etnis-etnis lain.
Sisi positifnya banyak kalangan memberi label, trade mark kepada orang=orang Madura, mereka katakan orang Madura sangat relegius. Kalau menurut Bapak. “relegiusnya” itu dimana ?
Itu sama saja dengan yang tadi keras, kan ? Tidak semua orang Madura relegius, karena makna relegiusitas itu harus dipahami benar. Apakah hanya sekedar bersarung, berkopiah itu sudah merupakan pertanda atau simbolisasi relegiusitas seseorang, yang penting bagaimana memaknai dan memahami relegiusitas itu dalam keseharian. Saya harus hai-hati disini, memang pada umumnya hampir seratus persen beragama Islam, begitu ya ? Dalam bahasa sederhananya bahwa orang Madura Islam, tapi apakah Islam itu betul dipahami secara substantive, normatif, atau hanya sekedar simbol-simbol ? Kalau saya melihat fenomena di pedesaan terutama, di daerah-daerah barat yang penduduknya banyak bekerja ke luar negeri, mereka ada kecenderungan untuk menunjukkan keberhasilan dengan cara membangun mesjid. Mesjid banyak sekali, tapi hampir tidak semuanya itu dipakai.
Nah, itu saya tidak mengatakan sebagai indikator bahwa Islam semakin semarak di situ, tidak, itu sekedar simbolisasi kesuksesan. Karena orang Madura mayoritas Islam, mesjid yang paling mudah diterima, yang paling mudah dicerna, dan paling mudah diakui sebagai lambang kesuksesan. Mungkin kalau agama lain, maka simbol-simbol agama lain yang akan dibangun. Karena mayoritas Islam, dan Islam dekat dengan orang Madura. Nah, untuk meraih makna kesuksesan yang sesuai dengan kehidupan orang Madura, maka simbol-simbol agama Islam itu yang dibangun, gitu. Dia kan mungkin berbeda ya, kalau dia membangun rumah mewah atau beli mobil, tapi maknanya bagi lingkungan sekitar berbeda kalau dia membangun mesjid. Dalam konteks ini bukan merupakan semakin tingginya kadar relegius mereka, itu perlu didalami lebih jauh. Saya melihat kepada ada latar belakang sosial budaya yang mendasari
Mungkin kedua sisi tersebut merupakan suatu modal pembentukan Sumber Daya Manusia Madura yang ber-kualitas dan kompetensif, apabila dikaitkan dengan jembatan Suramadu dan industrialisasi. Orang Madura harus bagaimana ?
Orang Madura seperti masyarakat yang lain punya nilai-nilai positif, itu yang harus dikembangkan. Industrialisasi dan masyarakat modern juga kan mempunyai nilai-nilai positif, yang saya yakin banyak yang sesuai, gitu ya. Memang yang tidak sesuai tidak perlu kita tiru, kan ? Misalnya, kedisiplinan, menghargai waktu itu kan merupakan salah satu menurut pakar masyarakat modern indikator-indikator itulah yang harus ada pada masyarakat modern. Nah, Madura akan ada, Madura juga punya filosofi semacam itu, “lakona lakone, kennengnganna kennengngenne”. Kan artinya itu tertib, disiplin, menghargai teman. Itu saja diterjemahkan ke dalam nilai-nilai budaya Madura, jangan terlalu apriori dengan ini.
Harus diakui bahwa budaya paternalistic masih sangat kuat, apa ini bukan suatu hambatan menghadapi tantangan ke depan ?
Sistem paternalistic atau materialistic itu saya kira bukan suatu faktor yang sangat signifikan untuk menghambat kemajuan perkembangan suatu masyarakat. Saya kira tidak, Madura tampaknya memang patrialis, patriarchate, tapi kalau kita lihat misalnya di buku saya itu, ada tanean lanjeng, sistem perkawinan yang matri lokal dan uxsury lokal, itu cenderung pada matriarchate, gitu ya. Jadi anak perempuan sangat di protek dengan bagus, dilindungi, dan segala macam gitu. Bahkan menantu datang ke rumah mertua, menantu laki datang ke mertua perempuan. Berarti di situ kan yang dominan keluarga perempuan, Cuma banyak yang melihat sisi lain memang banyak sisi-sisi kehidupan yang memperlihatkan masyarakat Madura itu sangat matrialchal. Misalnya Kerapan, itu urusan laki-laki, bukan urusan perempuan, gitu.
Untuk membangun budaya Madura tak terlepas menumbuhkembangkan lagi unsur bahasa. Nah, di wilayah Madura kan beragam, maksudnya dialek dalam bahasa sangat beragam. Bagaimana upaya menyamakan visi dan misi agar tidak terjadi kontradiksi dan saling membenarkan dialek ?
Soal dialek saya kira tidak perlu dipersoalkan, justru itu merupakan varian dan kekayaan. Jangankan bahasa Madura, bahasa Inggris pun ada dialek Inggris, ada dialek Amerika, dialek Australia, gitu. Kenapa harus dipersoalkan ? Maka dari itu kongres yang diadakan saat ini banyak manfaat ke depan, penyadaran dan refleksi diri pada Madura sendiri tentang dirinya, budayanya, masyarakatnya, bagaimana ke depan. Jangan sampai terjebak pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, yang sangat kontra produktif perkembangan Madura ke depan.
Saya sebenarnya kan lahirnya di Parsanga, kalau orang mendengar bahasa Madura saya tidak percaya bahwa saya orang Sumenep, karena bahasa Madura saya sudah campuran Pamekasan, campuran Bangkalan, jadi itulah Madura.
Obsesi-obsesi Bapak dengan adanya kongres itu apa ?
Saya mempunyai harapan besar dengan adanya kongres itu, kita mempunyai kesempatan yang bagus untuk refleksi diri, gitu ya. Apa sih kita sebenarnya ? Kenapa orang luar begini ? Jangan orang luar yang harus berubah, kita sendiri, orang Madura sendiri. Sehingga hal-hal yang perlu dibicarakan bersama itu menjadi sesuatu yang positif untuk Madura ke depan. Itu yang penting, tentunya dalam dua hari tidak bisa mencakup dalam semua hal, terlalu naïf, paling tidak ada butir-butir, point-point penting yang bisa kita kembangkan nanti. Yang bisa dicapai dua hari, ya dua hari dulu, nanti berkembang lagi
Tapi ini kan memerlukan background atau komitmen yang kuat, katakanlah dari pemerintah daerah atau birokrasi ?
Ya, saya tidak mau mengatakan bahwa kita harus tergantung pada birokrasi
Masalahnya ?
Ya harus kepada semua elemen masyarakat Madura yang mengaku Madura. Birokrasi itu kan lembaga lain. Kalau di dalam birokrasi itu ada orang Madura dan mengaku Madura dan ada peduli kepada Madura, otomatis merefleksinya. Bukan birokrasi itu hanya sekedar wadahnya saja, tetapi orang Madura-nya ada dimana
Dalam arti keterikatan dan ketergantungan itu tidak kepada institusi ?
Tidak, tidak kepada institusi birokrasi, tetapi kepada kemaduraan orang Madura yang sangat peduli kepada Madura dimanapun ia berada. Syukurlah kalau bisa ia menggunakan birokrasi-nya



0 Komentar ::