Ketika Jepang bertekuk lutut pada sekutu serta kondisi negaranya luluh lantak, maka yang pertama kali yang dicari oleh sang Kaisar adalah guru. Dan ternyata, saat ini negara Jepang menjadi sebuah negara maju yang menguasai IPTEK. Kisah tersebut sering dikutip oleh para pejabat pemerintahan kita sebagai pendorong semangat agar mengikuti langkah-langkah negara tersebut dalam alih teknologi serta penguasaan ilmu pengetahuan.
Sepanjang masa, peran serta guru sebagai sosok terdepan pentransfer ilmu pengetahuan pada generasi muda tak pernah lekang dimakan api dan tak pernah pupus diguyur hujan. Oleh karenanya, kualitas sebuah generasi tidak terlepas dari peran serta sosok guru. Guru masa kini harus bagaimana ? Berikut perbincangan EL Iemawati dengan Drs. Moh. Zuhri Saleh, guru PAI SMKN I Sumenep, sosok guru yang mampu menuliskan sejarahnya karena mampu meningkatkan kualitas diri, sehingga terpilih sebagai Guru Berprestasi guru Pendidikan Agama Islam Tingkat I Jawa Timur tahun 2007.
Menurut Anda apakah peran guru tetap sama sepanjang sejarah umat manusia ?
Pada prinsipnya secara universal guru memegang peranan penting, dalam artian secara edukatif mupun administratif dan sebagainya, karena seorang guru langsung berhadapan dengan peserta anak didik. Jadi segala apapun yang terjadi kepada anak didik itu itu merupakan penilain terhadap anak didik. Jadi sekali guru salah melangkah, tentunya pendidikan yang akan kita jalani di masa depan itu tetap akan merupakan kesalahan. Oleh sebab itu seorang guru tidak boleh salah dihadapan siswa. Jadi jangan sampai ada seorang guru mengatakan , eh maaf ini salah, ini tidak dibenarkan. Oleh karenanya seorang guru harus melakukan persiapan, baik di bidang pembelajaran, maupun dalam melakukan interaksi di dalam kelas.
Dalam konteks sekarang bagamaina ?
Sebab menurut pengertian saya, pemahaman mendidik dengan mengejar sangat beda. Karena pendidikan lebih luas jangkauannya daripada pengajaran, pengajaran hanya terjadi dalam lingkup terbatas, sedangkan pendidikan terjadi dimana-mana. Saat ini sepertinya masih belum ada keseimbangan antara keduanya, oleh sebab itu untuk menyeimbangkan kedua komponen tersebut peran serta para guru menjadi sangat penting dan vital. Upaya pengoptimalan materi pada siswa hendaknya dapat mendukung kepada peningkatan anak dalam mencapai tujuan hidup dan masa depannya.
Dalam hal ini predikat guru bukan sekedar bagaimana cara menyampaikan mata pelajaran kepada anak didik, tapi juga harus mampu mengikuti perubahan dan perkembangan masyarakat yang terus akan terjadi secara dimanis. Untuk itu dalam usaha penyempurnaannya dimunculkan sistem pembelajaran seperti KBK, Silabus, KTSP dan seterusnya
Dengan kondisi semacam, itu, kira-kira apa yang menjadi titik terberat agar pendidikan bisa optimal ?
Banyak sekali faktor pendukungnya, diantaranya peran pemerintah, kurikulum serta perangkat-perangkat pengembangan lainnya. Namun yang paling fundamental, menurut saya, adalah sikap daripada seorang guru itu sendiri. Itu masalahnya, karena menurut saya jangan sampai salah dihadapan peserta anak didik.
Dalam artian, walau perangkat lain mendukung namun yang terpenting terletak pada kualitas guru... .
Ya jelas, guru, apapun nama sosok guru tetap memegang peranan penting dan itu berkaitan erat dengan SDM. Jadi bagaimanapun rancangan pemerintah dengan semua pengembangannya, tetapi sumber daya guru sendiri sangat minim, kurang begitu mendukung, saya kira itu akan menghambat tujuan pendidikan yang hendak kita capai.
Langkah-langkah apa yang mesti diambil oleh sosok guru agar kualitasnya meningkat !
Diantaarnya adalah meningkatkan kualitas pribadi dengan didasarkan akan kesadaran pribadi yang tinggi, menuntut ilmu dan menggali sumber ilmu pengetahuan. Dan tak kalah pentingnya para pejabat, khususnya pejabat di lingkungan pendidikan mengadakan sosialisasi, realisasi dan langkah-langkah konkrit yang berhubungan dengan pendidikan anak di semua tingkatan, baik TI, SD, SMP maupun SMA. Sosialisasi dalam berbagai bentuk itu sangat penting, tetapi mungkin karena kekurangan dana, ini mungkin, hal itu kurang mendapat perhatian, dan ini mengakibatkan berbagai informasi tentang pendidikan terlambat datang ke tangan guru
Kira-kira format yang bagaimana agar pendidikan di Sumenep semakin maju ?
Karena daerah Sumenep ini hampir dikuasai oleh semacam santri, baik itu salaf maupun kholaf, dan ini juga berimbang dengan yang umum. Menurut saya, format untuk kabupaten Sumenep ini harus berawal dari pendidik dulu, kemudian tatanan-tatanan yang akan dicapai oleh setiap siswa, tanpa mengesampingkan bahwa setiap anak mempunyai tujuan berbeda. Misalnya, untuk bekal mecari kerja, untuk memperbaiki akhlaq, dan ada juga untuk mangembangkan serta meraih ilmu yang lebih tinggi. Di Sumenep belum ada untuk SMA unggulan, kenapa koq di Pamekasan ada ? Di sana koq bisa menciptakan SMA unggulan ?
Barangkali kesiapan SDM belum matang dan optimal ?
Sebenarnya kalau kita mau, Insya Allah pendidik-pendidik di Sumenep ini mampu, cuman mungkin ada beberapa faktor, faktor waktu dan kesempatan, dan juga kurang adanya koordinasi di pihak-pihak terkait untuk menciptakan sekolah unggulan yang ada di Sumenep. Sebetulnya menurut kami itu bisa, yaitu dengan cara koordinasi dengan sekolah-sekolah lain, sehingga Sumenep tidak ketinggalan dengan wilayah lain. Sampai saat ini Sumenep belum mempunyai sekolah-sekolah unggulan. Seharusnya ada target tertentu yang dicapai, sehingga dapat menyaring beberapa kelebihan anak yang baru keluar dari tingkat SLTP, sehingga anak-anak yang berprestasi tersebut tidak lari ke luar daerah dan tetap menjadi aset Sumenep
Barangkali ada faktor X yang menghambat, atau masih belum berkualitas dan profesional ?
Kalau berbicara kualitas guru, tentunya tidak terlepas dari yang namanya profesional dan proporsional. Terkadang profesional tetapi tidak proporsional. Contohnya, guru ini mengajar bidang ini, tetapi karena kekurangan tenaga pengajar maka guru ini harus mengajar pelajaran ini. Ini kan profesional tetapi tidak proporsional, dan akibatnya ? Tentunya sasaran dan tujuan dari pembelajaran tidak tercapai.
Anda mampu berprestasi, apakah ini sebuah pengembangan dari profesional ?
Sebenarnya prifesionalisme guru itu sudah ada dalam setiap guru, cuman mereka mungkin ada beberapa hal yang sulit dikembangkan secara pribadi, yang pertama. Kedua, faktor siswa yang dihadapi setiapperson guru tidak sama, ada yang sangat cerdas, ada yang cerdas dan ada pula yang, maaf, bodoh. Kondisi semacam itu mungkin sulit untuk mengadaptasikan apa yang dia miliki di waktu melakukan interaksi dengan siswa. Walaupun guru itu SDM nya sudah bagus, tetapi anak didiknya tidak mampu, anak didiknya pasif, saya kira ini merupakan hambatan tersendiri.
Dari berbagai sistem pengembangan pembelajaran yang ada, menurut Anda mana yang paling mampu memberikan kebebasan pengembangan bagi guru ?
KTSP, KTSP yang dikembangkan sekarang sangat membumi, karena KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Misalnya, SMK, maka satuan pendidikan di SMK. KTSP memberikan kebebasan wacana yang lebih luas untuk mengembangkan satuan pendidikan di sekolah itu sendiri. Yang kedua, kalau siswa tidak mampu menerima pesan maka guru benar-benar dituntut unbtuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, bagaimana cara menganalisis pelajaran yang diberikan oleh seorang guru.
Arah profesionalmenya dimana ?
Pertama, guru harus banyak literatur, dan juga siswa harus pro aktif untuk mencari pengertian-pengertian lain yang disampaikan ileh guru, dan juga siswa mengembangkan pengertian lain. Banyak sumber-sumber yang berbeda tetapi tujuannya sama. Dengan demikian letak profesonalnya guru lebih menitikberatkan kepada cakrawala berfikir guru, bagaimana seorang guru benar-benar fit dalam memberikan materi pembelajaran. Keperhatian guru tidak cukup dengan apa yang dimiliki, tapi harus mampu mengembangkan pemikiran-pemikiran baru yang inovatif, agar tidak terjadi, justru pemahaman perkembangan didahului oleh anak didik
Dengan cara bagaimana ?
Dengan upaya meningkatkan kemampuan, baik secara individual maupun komunal. Dan tak kalah pentingnya, dan saya kira ini sangat fundamemtal adalah yaitu penerapan disiplin pada diri sendiri. Disiplin merupakan hal yang prinsip dan fundamental untuk meyakinkan kepada orang lain, bukan hanya disekolah, juga dalam kepentingan-kepentingan lainnya seperti acara-acara dalam forum, taat waktu menghadiri acara serta tepat waktu menyampaikan laporan hasil aktifitasnya kepada yang memberi tanggung jawab.
Barangkali kata kuncinya adalah keasadaran dan tanggung jawab, karena untuk menciptakan kualitas guru memang dibutuhkan kesadaran penuh, karena tuntutan guru adalah sebagai profesi, sebagai profesi, guru dituntut memiliki kualitas untuk mampu mengembangkan sistem nilai. Untuk mencapai tingkat tersebut, ini guru harus mau dididik dan sanggup mendidik.
Kiat-kiat apa yang perlu Anda tularkan kepada rekan-rekan sesama guru ?
Pertama menanamkan kedisiplinan yang dimulai dari diri sendiri, yang mencakup disiplin waktu, disiplin dalam menyampaikan pendapat di sebuah forum. Yang kedua harus mempunyai moralitas dan benar-benar mampu memberikan contoh dan teladan, baik kepada teman sejawat terlebih-lebih terhadap anak didik.
Pria kelahiran Sumenep 46 tahun silam dan berdomisili di Desa Elak Daya Kecamatan Lenteng, sekitar 8 km dari kota Sumenep itu, dalam waktu luangnya banyak dimanfaatkan untuk menulis. Dari proses itulah serta pengalamannya sebagai seorang guru agama telah diterbitkan buku-buku terjemahan seperti Petunjuk Lengkap Tentang Hukum, Pendidikan: Empat Pengetahuan Yang Pokok dalam Islam, Penuntun Praktis Cara Belajar dan Mengajar, Masalah Ibadah: Rukun Islam yang Lima, Bimbingan Doa Beserta Hikmahnya dan lainnya. Dari catatan sejarah sebagai guru, Suhri pernah mengajar di Madrasah Ulum Diniyah (MUD) Pragaan Sumenep (1976), mengabdi di Ponpes Al-Amien, Prenduan (1979-1980), Madrasah Matlabul Ulum Jambu Lenteng Sumenep (1983 – 1984), kemudian sebagai PNS tahun 1985 dan mengajar di SPGN Sumenep sampai tahun 1991, kemudian sampai sekarang mengajar di SMKN Sumenep. |



0 Komentar ::