Bahasa merupakan media komunikasi verbal bagi manusia dalam berinteraksi dengan sesama. Maka tidaklah mengherankan apabila seseorang menguasai bahasa suatu suku atau etnis, maka secara otomatis akan mengetahui dan memahami kultur suatu suku/etnis tersebut. Hal itu disebabkan bahasa yang dimiliki suku/etnis merupakan identitas atau citra sebuah komunitas suku bangsa. Data literatur menyebutkan bahwa bangsa Indonesia memiliki sekitar 762 bahasa daerah, 6 bahasa daerah diantaranya telah punah. Adapun bahasa Jawa menempati urutan pertama penutur terbanyak, di susul bahasa Sunda dan bahasa Madura dengan jumlah penutur lebih kurang berjumlah 6 juta orang tersebar di Madura maupun di beberapa bagian Jawa Timur, seperti Probolinggo, Situbondo, Lumajang, Bondowoso, Besuki dan Jember
Namun saat ini terjadi fenomena yang cukup meresahkan karena penggunaan bahasa Madura mulai ditinggalkan oleh penuturnya. Bahasa Madura mengalami tekanan internal dan eksternal. Dari dalam, yang merupakan bagian dari Politik Bahasa Nasional, mendapatkan perlakuan yang kurang menguntungkan, sehingga pertumbuhannya dan perkembangannya terganggu, atau lebih tepat dikatakan mengkhawatirkan. Dari luar, mendapatkan tekanan dari dunia global. Bahasa-bahasa asing yang masuk daerah, kemudian dijadikan menu wajib di dunia pendidikan menyebabkan ruang gerak bahasa Madura semakin sempit. Kebanggaan pemiliknya kepada bahasa daerah tidak sekuat dulu, karena dianggap tidak prestisius, tidak mempunyai nilai ekonomis dan tidak menaikkan gengsi.
Kecenderungan penurunan jumlah penutur bahasa madura bukan hanya terjadi di level atas tetapi juga telah merambah di level bawah. Berbagai kegiatan formal dan informal semacam rapat-rapat di tingkat RT/RW, pengajian, pertemuan ibu-ibu PKK, arisan dan kegiatan-kegiatan lainnya seringkali mengggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Dengan demikian maka bahasa Madura semakin terpinggirkan karena tidak dibeli ruang gerak kesempatan yang luas untuk berkembang. Begitu juga yang terjadi di level atas, para pemimpin tidak memberi contoh dalam penggunaan bahasa Madura yang baik dan benar.
Faktor di atas bukanlah satu-satunya penyebab menurunnya jumlah penutur bahasa Madura. Adanya perpindahan tempat tinggal, perkawinan antar suku serta keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan menjadi salah satu item menghilangnya memori generasi muda akan bahasa Madura-nya. Kehilangan memori akan kekayaan kosa kata diperparah dengan tidak adanya media yang menjembatan, semacam bacaan berbahasa Madura yang dikonsumsi anak-anak maupun dewasa. Tidak adanya lomba-lomba, penghargaan dan pembinaan bahasa Madura baik di media radio, Televisi maupun media massa. Faktor penyebab tersebut diperparah pula oleh kehilangan figur-figur dan tokoh-tokoh penutur yang terampil dan fasih verbahasa Madura karena tutup usia.
Menghadapi kenyataan di atas, tentunya beribu tanya menyeruak di benak setiap orang. Apakah kedepannya bahasa Madura akan semakin terpinggirkan. Kehilangan penutur atau bahkan akan punah? Data tahun 1980 dari Badan Statistik Pusat jumlah penutur bahasa Madura berjumlah 6.913.977 orang (4,71 % dari jumlah penutur bahasa daerah di Indonesia). Pada tahun 1990 berjumlah 6.792.447 penutur (4,29 %). Data itu menunjukkan bahwa dalam satu dekade jumlah penutur bahasa Madura semakin berkurang, yakni sekitar 121.530 orang. Atau setiap tahunnya berkurang 12.153 orang penutur bahasa Madura (berdasarkan wawancara dengan kepala Balai Bahasa Surabaya, Amir Mahmud, M. Pd). Tentunya data tersebut cukup mengkhawatirkan karena semakin lama jumlah penutur bahasa Madura semakin menurun.
Menurut Prof. Syukur Gazali, diperlukan langkah-langkah konkrit agar bahasa Madura kembali diminati dan dicintai. Secara teknis Pemerintah Daerah harus serius membuat kebijakan, program dan implementasinya yang terkait dengan pembelajaran bahasa Madura. Di samping itu harus ada perubahan yang mendasar dalam hal perilaku guru dan penguasa sekolah terhadap siswa dan kegiatan belajar bahasa Madura di sekolah agar siswa bangga berbahasa Madura dan terdorong secara internal untuk berbahasa Madura
Keberhasilan akan maksimal apabila pemerintah secara serius membuat kebijakan, program, dan implementasi yang terkait dengan pembelajaran bahasa Madura. Tanpa ini, pembelajaran bahasa Madura akan berjalan di tempat. Selain itu harus ada perubahan yang mendasar dalam hal perilaku guru dan penguasa sekolah terhadap siswa dan kegiatan belajar bahasa Madura di sekolah agar siswa bangga berbahasa Madura dan terdorong secara internal untuk berbahasa Madura
Kalau bisa harus ada dalam bentuk peraturan, Perda. Perda yang mendudukkan bahasa Madura sebagai pilihan. Jadi misalnya kalau mereka memang benar-benar menghormati BM sebagai bahasa kebudayaan, mungkinlah apakah itu di dalam salah satu rapat, khusus memakai bahasa Madura, atau mungkin nama jalan yang menggunakan BM. Kalau lewat jalan tindak kalau tidak menggunakan bahasa Madura.
Tapi apakah mungkin dalam kondisi global sekarang ini, apa tidak melanggar hak azasi ?
Tentunya tidak, karena harus diciptakan sebuah kondisi yang bisa membuat orang Madura semakin lama semakin banyak menggunakan bahasa Madura. Semakin diusahakan agar BM itu semakin naik prestisenya.
Apakah butuh seorang figur yang nantinya menjadi patron bagi masyarakat agar kembali mencintai BM ?
Tadi saya sempat berbicara dengan Prof. Mien Rifa’i dan membuat sebuah kesimpulan bahwa mungkin harus ada orang yang terhormat di kalangan orang Madura yang bisa kita ajak ke Gubernur, ke Kanwil agar mereka membuat kebijakan-kebijakan yang bisa menguntungkan bahasa Madura. Itu saja, kalau sudah ada top leader yang bisa mengarah ke sana dan mereka mempelopori, menghidupkan kembali bahasa Madura maka in the long run saya rasa, terjadi itu.
Jadi perlu adanya semacam kongres ?
Bukan, bukan kongres, tetapi peraturan. Memang kongres itu gebyarnya boleh tetapi kalau sekali dan hilang itu tidak ada gunanya, percuma. Menurut saya percuma ada kongres, karena yang penting adalah apakah kalau misalnya ada keputusan di kongres apakah hasil atau keputusan kongres tersebut berdaya mengeluarkan sebuah pernyataan, membuat Gubernur, Kanwil, Kepala Dinas itu membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan bagi bahasa Madura.
Kemudian langkah-langkah apa yang diperlukan agar didengar oleh Pemerintah ?
Tadi saya meminta Prof. Mien Rifa’i kalau mungkin pak Noer kita ajak ke Gubernur, kita ajak ke Kanwil untuk memberikan masukan, untuk menghimbau, apakah mungkin bisa, misalnya mengeluarkan peraturan-peraturan yang menguntungkan pengembangan bahasa Madura. Diantaranya misalnya, memberikan penghargaan kepada pejabat yang bahasa Madura-nya bagus, kemudian menyebarkan seluas-luasnya bacaan, baik bacaan untuk konsumsi dewasa maupun anak-anak yang menarik atau semacam majalah dinding yang di subsidi dan diterbitkan oleh pemerintah dengan menggunakan bahasa Madura yang bagus. Itu artinya memperbanyak inteq itu dalam memori, itu dalam teorinya. Inteq itu masuk kemudian disimpan dalam otak anak. Kalau itu terus menerus dipacu, terus menerus ditubikan secara bertubi-tubi, hasilnya itu akan tampak.
Berarti harus lewat media pendidikan ?
Tadi kan saya sebut sebagai majalah, bahan bacaan atau majalah tempel yang bisa ditempelkan di jalan. Kenapa tidak mungkin kalau pengumuman itu jangan hanya memakai bahasa Indonesia tetapi dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Dengan demikian ada kepedulian dari pemerintah untuk memberdayakan bahasa Madura.
Praktek semacam itu bisa diterapkan dimana ?
Tentu saja pada kantong-kantong wilayah yang mempunyai basis bahasa Madura, bukan hanya pada wilayah Madura tetapi di semua wilayah yang penduduknya mayoritas suku Madura.
Banyak sekali informasi yang masuk dari kalangan guru bahasa Madura tentang kesulitan pembelajaran BM yang cenderung pada tata bahasa, menurut Bapak ?
Itulah yang terjadi, dalam tayangan terakhir di layar di pembahasan seminar tadi, saya tunjukkan bagaimana kita harus bisa menciptakan bahan ajar yang mudah dan menarik. Dan itu sulit, sulit sekali. Kenapa sulit ? Karena yang ada dalam benak penyusun materi bahasa Madura, yang paling mudah menyusunnya adalah tata bahasa. Itu paling mudah, membaca itu paling mudah. Tetapi membuat kegiatan-kegiatan yang menarik itu problem.
Masalah lain juga pada bahan ajar(buku) dan guru yang tidak kompetitif karena bukan khusus guru bidang studi bahasa Madura !
Pak Mustaji pernah membuat buku dengan kurikulum 94, buku pelajaran. Tetapi yang saya bayangkan bukan buku seperti itu. Bahan ajar yang saya bayangkan itu adalah semacam perintah kepada guru untuk menciptakan situasi-situasi yang menarik, seperti bermain. Karena di dalam bermain itu anak diletakkan dalam sebuah kondisi agar menggunakan bahasa Madura, apapun bahasa Madura-nya. Jadi disini tidak lagi berbicara soal benar salah, tidak berbicara soal ada dialek, tidak berbicara soal logat mana, tapi apapun bahasanya asal ber-bahasa Madura. Pada proses pembelajaran ini ada interaksi antara guru dan siswa, siswa menggunakan bahasa tingkat rendah, dan guru berusaha berbicara dengan bahasa Madura tingkat tinggi. Ada interaksi, dan anak-anak diajak secara perlahan-lahan untuk menggunakan bahasa Madura yang baik.
Jadi pola pembelajaran cenderung pada keterampilan ber-bahasa ?
Saya rasa ya, saya rasa ia.
Kemudian agar pengembangan bahasa Madura berhasil, langkah-langkah apa yang mesti dilakukan ?
Keberhasilan akan maksimal apabila pemerintah secara serius membuat kebijakan, program, dan implementasi yang terkait dengan pembelajaran bahasa Madura. Tanpa ini, pembelajaran bahasa Madura akan berjalan di tempat. Selain itu harus ada perubahan yang mendasar dalam hal perilaku guru dan penguasa sekolah terhadap siswa dan kegiatan belajar bahasa Madura di sekolah agar siswa bangga berbahasa Madura dan terdorong secara internal untuk berbahasa Madura.
Pesan-pesan Bapak kepada masyarakat Madura ?
Mungkin yang pertama kepada pemerintah Daerah di wilayah Madura, khususnya Pemerintah Daerah Sumenep tolong dihimbau kepada Pemerintah daerah Sumenep, mungkin bisa mempelopori untuk membuat kebijakan tidak hanya menyiarkan di RRI, karena mungkin tidak banyak orang mendengarkan siaran itu secara intens. Kalau mendengarkan sambil lalu siaran bahasa Madura, bisa-bisa bosan. Barangkali kebijakan lainnya adalah menerbitkan buku bacaan, majalah maupun bulletin yang berbahasa Madura. Disamping itu hendaknya bahasa Madura dijadikan bahasa kedua pada berbagai pertemuan, baik yang formal maupun informal.
Juga saya sampaikan pesan kepada para sesepuh ataupun pembina tim Nabara agar menciptakan pembelajaran yang menarik terutama untuk audiens generasi muda yang disiarkan di media, baik elektronik maupun media massa. Karena apa ? Karena dibina oleh generasi tua, mungkin para pembina tidak bisa mengikuti cara berbicara orang muda. Karena mungkin para pembinanya menganggap bahasa anak muda itu sudah rusak. Apakah tidak mungkin dipertemukan antara generasi tua dan yang muda, dalam pertemuan tersebut kaum muda diajar menggunakan bahasa Madura yang baik dan benar.
Kemudian kepada masyarakat yang kemungkinan besar tidak banyak perhatian kepada bahasa Madura, agar mulai kembali mencintai dan menggunakan bahasa ibu ini. (wawancara: Lilik Rosida Irmawati)




0 Komentar ::