Jumat, 24 Februari 2012

Hari Jadi Ke 471 dan Globalisasi

Lilik Rosida Irmawati

Sekapur Sirih
Jembatan Suramadu membentang kokoh, megah, gagah, angkuh, anggun dan memesona. Nama pulau Madura pun turut menjulang tinggi dan dikenal sebagaimana tiang-tiang yang menjulang tinggi, mengalahkan gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran di kota megapolitan Surabaya. Ibarat laron di musim penghujan, gemerlap lampu di sepanjang jembatan Suramadu menebarkan pesona tiada terputus. Berbondong-bondong para wisatawan nusantara berdatangan, mengagumi jembatan pertama terpanjang (panjang mencapai 5,43 kilometer, konon terpanjang ke-15 di dunia) dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia yang diarsiteki oleh putra-putra terbaik anak negeri.
Imbas positif yang dirasakan oleh masyarakat Madura yang berdomisili di pulau Madura maupun orang-orang Madura yang berada diluar wilayahnya adalah memperdekat jarak, mempercepat transportasi dan diharapkan kedepannya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tentunya harapan tersebut bukan hanya isapan jempol semata, walaupun tidak sedahsyat Batam sebagai pioner kota satelit industri, diharapkan industrialisasi di pulau Madura bisa mengikuti perkembangan industri di Surabaya. Dan 4 kabupaten, yakni kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep menjadi daerah yang surplus mampu meningkatkan  pertumbuhan ekonomi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Jembatan Suramadu telah membentang, mau tidak mau, suka tidak suka, ikhlas tidak ikhlas masyarakat di 4 kabupaten yang pada awalnya galau dan khawatir akan dampak dari industialisasi harus tetap membuka tangan lebar-lebar dan merangkul modernisasi sebagai bekal menyambut  era globalisasi.  Karena pada prinsipnya moderninitas memang menjadi sesuatu yang paradoks,  Dalam satu sisi, modernisasi menjadi kekaguman manusia modern, namun dalam sisi yang lain menjadi sebuah  kegalauan. Hal ini disebabkan dalam wujudnya yang lain modernisasi melahirkan nestapa kemanusiaan yang serius dan harus dibayar mahal dalam sejarah kehidupan umat manusia.
Tentunya berbagai kekhawatiran yang muncul dan berkembang akan benar-benar menjadi kenyataan. Nota bene 4 kabupaten yang berada di wilayah Madurta akan hanya menjadi penonton pesatnya sebuah modernisasi apabila mereka hanya duduk berpangku tangan tanpa mempersiapkan diri dengan peningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Sebagaimana diketahui bahwa tanpa kualitas SDM yang berkualitas semua Sumber Daya Alam tidak akan bisa mensejahterakan masyarakatnya apabila pengelolaannya diambil alih tenaga-tenaga trampil yang bukan berasal dari komunitas lokal. Barangkali inilah tantangan terbesar menyambut era globalisasi dengan segala dampaknya. Siapa takut?
Globalisasi, kata tersebut telah demikian menggema dan populer. Globalisasi yang berarti menyebarnya segala sesuatu yang secara sangat cepat ke seluruh dunia dan juga globalisasi dipahami sebagai melokalnya hal-hal yang datang dari luar. Dengan adanya globalisasi tidak ada satupun sekat, setipis apapun yang menghalangi jarak pandang ataupun mensortir pendengaran, semuanya serba terbuka dan transparan. Berbagai aktivitas manusia, hobby, gaya hidup, musik, makanan dan pernak-pernik romansa asmara begitu mudah diakses di belahan dunia manapun, dan kemudian di tiru serta menjadi sangat di sukai serta menjadi gaya hidup di belahan bumi lainnnya.
Semuanya tergantung pada pilihan, apakah akan terseret oleh arus proses globalisasi atau malah memanfaatkan proses globalisasi tersebut? Ibarat dua sisi mata uang, dua pilihan antara membiarkan diri terseret  atau memanfaatkan proses globalisasi? Dalam menghadapi kenyatan tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka, sadar atau tidak sadar, ikhlas ataupun tidak ikhlas, semuanya harus membuka mata hati, membuka diri bahwa modernitas telah menghadang dan harus dijawab pula dengan persiapan diri, baik secara individu, kelompok dan seluruh komponen anak bangsa di Madura untuk bersatu-padu meningkatkan kualitas diri dan kompetisi global.
Refleksi Bersama …
Siapapun akan mengakui bahwa Sumenep mempunyai wilayah terluas dibandingkan  3 kabupaten lainnya. Kabupaten Sumenep yang terletak di ujung timur pulau Madura memiliki luas bagian daratan 1.146,927065 km, dan bagian kepulauan dengan luas 946,530508 km (total luas wilayah 2.093,457573 km2), adapun luas wilayah perairan kurang lebih 50.000 kmdengan panjang pantai 577,76 km. Jumlah pulau yang dimiliki oleh kabupaten ini sebanyak 126 pulau, dengan rincian 48 pulau berpenghuni, 78 pulau tidak berpenghuni, 104 pulau bernama, dan 22 pulau tanpa nama. Bukan hanya itu saja, dari sisi wilayah merupakan daerah yang sangat strategis dalam pengembangan wilayahnya. Hal itu juga ditunjang pula dari sisi historis maupun kultural sebagai kabupaten tertua dan menjadi pusat pemerintahan dari masa ke masa.
Berdasarkan data di atas, tidaklah mengherankan apabila Sumenep mempunyai potensi kekayaan Sumber Daya Alam yang sangat besar. Potensi tersebut bukan hanya pada hasil laut yang mencapai 137.4000 ton/tahun. Tetapi juga potensi sepanjang garis pantai/pesisir sebagai ladang-ladang terbuka untuk budidaya tanaman dengan nilai ekonomis tinggi dan hutan mangrove (hutan bakau). Pesisir yang membentang juga menyimpan panorama elok sebagai tujuan wisata, baik wisatawan manca negara maupun nusantara. Dan juga, julukan kota garam pernah ditrademarkkan karena pabrik garam terbesar pernah berdiri kokoh dan berkibar seantero negeri.
Yang tak kalah menarik dan cukup menghebohkan adalah potensi kekayaan alam yang berupa minyak bumi dan gas alam yang terdapat di sekitar perairan Giligenteng, pulau Karamian kecamatan Masalembu, dan Pagerungan Besar yang sudah dieksploirasi oleh perusahaan pengelola hasil tambang gas dan minyak bumi yang beroperasi adalah Petroleum Beyond Indonesia, Trend Java Sea Blok 4, Mobile Oil, Hudbay Oil International, Dan Santos Oil dengan debit mencapai 350.000.000 MSCF/hari. Sedangkan di blok Maleo diperkirakan memproduksi gas alam sebesar 240.000.000 MSCF/hari. Konon  saat ini juga sudah terdeteksi sumber migas di perairan Ra’as, Pasongsongan dan juga wilayah lainnya di  kedalaman laut yang masih dalam zona eksklusif wilayah Sumenep.
Bukan hanya wilayah pesisir, perairan dan dalamnya lautan, tetapi di wilayah daratan pun potensi di bidang perkebunan khususnya tembakau tidak bisa dipandang sebelah mata. Emas hijau, tembakau produksinya mencapai 13.798 ton/tahun dan sebagai pemasok utama pabrik rokok besar di Jawa Timur. Dengan produksi emas hijau yang tinggi tidaklah mengherankan home industri rokok turut memberikan andil produksi. Industri unggulan lainnya adalah industri batik tulis, industri keris yang terkonsentrasi di desa Aeng Tongtong dan desa Palongan kecamatan Bluto. Sedangkan di wilayah kepulauan, yakni di pulau Ra’as, terdapat sekitar 146 unit usaha industri kerajinan kerang/manik-manik. Produk kerajinan dari Ra’as ini yang memenuhi galeri-galeri seni di pulau Bali, karena dari pulau kecil inilah barang-barang asesoris yang antik, indah dan menarik diproduksi.
Tentunya masyarakat Sumenep wajib bersyukur atas kekayaan Sumber Daya Alam yang dimilikinya, yang demikian fenomenal dan menakjubkan. Semua anugerah dari Sang Pencipta tersebut tidak akan memberikan dampak apapun apabila dalam pengelolaannya hanya dilakukan secara asal-asalan, tidak sistematis dan target utama dari Pemerintah Kabupaten yang notabene sebagai pengambil semua kebijakan serta pemegang master plan pembangunan tidak mampu menggerakkan anak bangsa untuk mengoptimalkan  kadar intelektual, kematangan emosional dan mengembangkan ketrampilan atau skiil yang nantinya memberikan andil besar dalam proses mengeksploitasi dan mengeksploirasi Sumber Daya Alam yang ada.
Pertanyaan besar mengambang dalam cakrawala berfikir kita, harus memulainya dari mana dan siapa? Siapapun akan mengakui bahwa SDM Sumenep jauh berkualitas, dalam artian Sumenep memiliki segudang anak-anak bangsa yang secara  kuantitas dan kualitas jauh lebih unggul, dari Sarjana strata 1 sampai 3, ilmuan, cendikiawan, sejarawan, ahli hukum, pakar pendidikan, pakar komunikasi, agamawan, dan lainnya. Bahkan dari sisi kualitas pengelolaan SDM, khususnya dunia pendidikan Sumenep menjadi rujukan dari berbagai wilayah dalam pengembangannya. Dengan kata lain Sumenep memiliki pundi-pundi emas SDM dan SDA yang  sangat banyak dan dahsyat, yang nantinya pundi-pundi emas tersebut memberikan pencerahan dan mampu membawa masyarakat Sumenep menjadi manusia-manusia unggul, kompeten dan berkualitas dan pada akhirnya membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Sumenep.
Jembatan Emas
Barangkali kita tidak perlu malu kalau mengadopsi karakter bangsa lain yang jauh lebih unggul, semisal Jepang. Karena karakter bangsa tersebut bisa diadopsi tidak bertentangan dengan karakter lokal suku Madura yang secara sosial budaya ekspresif, spontan dan terbuka. Jepang memiliki kultur Bushido, yang menekankan kesetiaan, kedisiplinan tinggi, dan semangat pantang menyerah. Nah, apabila kultur tersebut digabungkan dengan kultur Madura maka akan melahirkan Sumber Daya Manusia yang unggul.
Pertanyaan mengambang di cakrawala pikiran, kita harus memulainya dari mana? Barangkali semua menyatakan persetujuan kalau pembentukan karakter tersebut dimulai dari lingkup keluarga, dari lingkup yang terkecil tersebut kemudian merambat pada jenjang pendidikan yang meliputi pendidikan dasar, menengah dan atas. Sejak dini anak-anak bangsa diperkenalkan dengan lingkungan ekologis, geografis dan topografis. Dengan demikian sejak dini sudah tertanam dalam jiwanya tentang lingkungan dimana dia tinggal, dan tak kalah pentingnya adalah memperkenalkan kekayaan yang dimiliki serta kewajibannya kelak untuk mengeksploirasi dan mengeksploitasi sumber kekayaan tersebut untuk mensejahterakan masyarakatnya.
Jembatan emas mencerdaskan anak-anak bangsa hanyalah melalui pintu pendidikan. Para pakar pendidikan, praktisi pendidikan serta stakeholder pendidikan telah banyak memberikan formula dan strategis pengembangan yang bermuara pada peningkatan kualiatas serta kompetensi. Dan hasilnya? Secara kualitas dan kuantitas telah banyak melahirkan pakar dan ahli dibidangnya, namun dari jumlah mereka yang banyak ternyata belum mampu memberikan pencerahan. Dalam artian out put pendidikan belum mampu mencetak anak-anak bangsa yang terampil dan siap untuk mengeksploitasi dan mengeploirasi sumber kekayaan yang ada di lingkungannya. Skiil anak-anak bangsa sangat minim, dan akhirnya mereka harus keluar daerah untuk mencari penghidupan yang lebih layak dan mapan.
Langkah-langkah apa yang mesti diambil oleh semua komponen di Sumenep? Dan siapa pula yang mesti bertanggungjawab. Bukan waktunya lagi untuk saling menudimg dan menyalahkan serta melempar tanggungjawab. Barangkali moment di Hari Jadi ke- menjadi moment emas untuk bersama-sama memberikan kontribusi pemikiran, jembatan emas pendidikan seperti apa? Semua tahu dan mahfum bahwa di era Otonomi Daarah ini anak-anak suku bangsa yang harus mengelola dan bertanggungjawab pada kemajuan daerahnya. Dan langkah-langkah strategis pengembangan pendidikan seperti apa dan bagaimana yang mesti diambil? Sebagai sumbangsih pemikiran, langkah-langkah strategis pengembangan dibawah ini dapat dijadikan acuan dan rujukan bagi kemajuan pendidikan di Sumenep.
PertamaBadan pendidikan Daerah di Sumenep harus bersungguh-sungguh mengembangkan pendidikan dengan berbagai langkah penataan ulang. Ini tidak hanya menyangkut pengembangan kurikulum dan PBM serta pembinaan suasana dalam hubungan antar pengajar dan siswa, tetapi juga disesuaikan dengan pengembangan wilayah serta penggalangan partisipasi masyarakat.  Kegiatan akademik harus di subsidi, dan juga diusahakan memumpunkan kurikulum dan bahan ajar pada flora dan fauna serta lingkungan setempat, dan pada industri maupun budidaya pertanian, peternakan, perikanan, kelautan di daerah tempat lembaga pendidikan itu berada.
Keduamelakukan demokratisasi pendidikan. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu strategi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Sumenep bukan hanya sebuah wacana saja, tetapi memerlukan rumusan-rumusan serta formula baru. Yang dimaksudkan dalam, “demokratisasi pendidikan” dikaitkan dengan berbagai upaya penyadaran warga negara agar tidak bersikap apatis terhadap urusan-urusan politik, melainkan mereka menjadi warga yang melekpolitik, menjadi individu yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang memadai sehingga mampu berperan sebagai warga negara yang bertanggungjawab dalam mewujudkan kehidupan bersama yang demokratis. Istilah itu juga digunakan untuk menunjuk pada upaya untuk menciptakan kultur sekolah agar bernuansa demokratis. Kultur semacam itu setidaknya diwarnai oleh adanya sikap warga sekolah yang saling menghargai, memiliki kebebasan berbicara, kebebasan mengungkapkan gagasan, kemampuan hidup bersama dengan mereka yang berbeda pandangan, dan adanya keterlibatan semua warga sekolah (termasuk siswa) dalam berbagai urusan kehidupan sekolah.
Demokratisasi pendidikan menunjuk pada upaya terus menerus (berkelanjutan) untuk membuat keseluruhan sistem pendidikan dapat bekerja secara demokratis dan efektif. Konkretnya, demokratisasi pendidikan mempersoalkan upaya untuk menjadikan berbagai kebijakan dan praktik yang terjadi  dalam semua lini dunia pendidikan –sejak perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi-nya – baik pada lingkup makro (nasional maupun regional) maupun mikro (sekolah),senantiasa didasarkan pada adanya partisipasi warga masyarakat (pendidikan).
Ketiga, Pendidikan multikultural sebagai basis kemandirian. Wawasan multikultural adalah cara memandang masyarakat majemuk secara dewasa dan menjadikan  multikulturalitas sebagai modal untuk saling belajar dan memperkuat dalam menghadapi masalah-masalah bersama. Tanpa sikap inklusif ini, maka kemajemukan berkembang menjadi multikulturalisme, yaitu sikap yang menganggap budaya atau kelompok sendiri lebih unggul, multikulturalisme semacam ini menjadi ancaman bagi masyarakat majemuk. Masyarakat modern ditandai, salah satunya, dengan meningkatnya human flow (arus manusia), sehingga lama kelamaan semakin sulit menemukan masyarakat monokultur, kecuali pada suku-suku terasing. Human flow, menjadi kekuatan pendorong perkembangan masyarakat, namun juga menjadi pendorong konflik di banyak masyarakat. Tanpa pengelolaan konflik berkembang menjadi kekerasan.
Wawasan multikultural semakin penting bagi penguatan daya rekat  di masyarakat. Kehadiran wawasan ini  berdampak menguntungkan bagi peserta didik dan masyarakat jika mengacu pada kualitas dengan tetap memperkuat kecakapan empati peseta didik terhadap warga masyarakat yang berbeda budaya. Muatan-muatan mata pelajaran di sekolah bisa menjadi media bagi berlangsungnya passing over (“menembus batas”). Tanpa kesediaan membimbing peseta didik untuk mencapai taraf passing over dalam memahami saudara-saudaranya yang berbeda, pendidikan sekolah akan gagal melahirkan manusia merdeka, yaitu yang berhasil melepaskan diri dari sudut pandang perseteruan dan melihat kehidupan secara lebih obyektif, kritis dan aktif melakukan refleksi atas kegagalan generasi masa lampau. Refleksi ini menjadi penting agar peserta didik menjadi siap untuk mencermati kehadiran dirinya dalam masyarakat yang semakin majemuk.
Dalam hal ini, pendidikan multikultural mengasumsikan bahwa lembaga pendidikan tumbuh dan berkembang dalam masyarakat  majemuk dan menjadikan kemajemukan itu sebagai modal untuk menopang kemandirian sekolah. Secara sistemik, sekolah-sekolah yang kurang mampu mengorganisir sumber  daya menjadi lembaga yang “disantuni” oleh pemerintah, agar menjadi sekolah-sekolah yang dikelola secara kreatif. Peranan Depdiknas perlu lebih diarahkan untuk menjembatani penyediaan infra struktur bagi sekolah-sekolah. Sementara masalah kebijakan kurikuler  dapat diserahkan kepada suatu dewan sekolah di tiap kota/kabupaten, agar lebih efektif menjawab tantangan kemajemukan. Wawasan multikultural dijadikan landasan berfikir dalam kerja, hal ini untuk menjawab permasalahan yang diakibatkan oleh perbedaan suku dan budaya yang belum tergarap secara seksama. Pemberdayaan masyarakat untuk hidup berbangsa belum cukup tangguh untuk menghadapi permasalahan konfliktual yang sangat berbahaya. Pendidikan multikultural diharapkan mampu menjawab tuntutan agar peseta didik menjadi melek etnik dan lebih memahami keragaman keyakinan agama, aliran ideologi, dan ras.
Keempat, pendidikan berbasis pengelolaan sumber daya pesisir, saat ini wilayah pesisir mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, karena telah terlampaunya daya dukung ekosistem pesisir akibat pencemaran limbah domestik, limbah industri, degradasi fisik habitat, erosi dan sedimentasi, kerusakan terumbu karang, konversi mangrove (hutan bakau) yang tidak berwawasan lingkungan, penurunan produksi perikanan, dan semakin sulitnya masyarakat pesisir mendapatkan penghasilan yang memadai, penurunan aset keindahan dan budaya, serta pembangunan daerah pantai yang tidak tepat 
Perlindungan dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang efektif membutuhkan peningkatan kesadaran masyarakat luas, (termasuk didalamnya masyarakat pendidikan) mengenal nilai dan proses ekologi sumber daya tersebut, sehingga akan tumbuh rasa tanggung jawab menyangkut hak dan kewajiban dalam memanfaatkan dan melindungi sumberdaya di wilayah tersebut. Kesadaran dalam pengelolaan maupun perlindungan lingkungan pesisir diwacanakan sebagai suatu paradigma baru dengan menerapkan konsep perencanaan sumberdaya pesisir secara terpadu. Hal ini disebabkan pesisir laut merupakan sumber bahan pangan dan kehidupan. Proses pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja terus berlangsung tanpa diikuti perluasan kesempatan kerja dan produktivitas kerja. 
Pembangunan pesisir membutuhkan paradigma baru, (tentunya ini sangat relevan dengan luas perairan Sumenep kurang lebih 50.000 km2 dengan panjang pantai577,76 km), karena selama Orde baru selain telah memberikan sedikit dampak positif, tetapi justru menyebabkan penurunan dan kerusakan lingkungan. Karena selama ini paradigma yang ada dan berkembang adalah “laut adalah milik negara” sehingga pengelolaannya berada di tangan negara. Masyarakat umum dan masyarakat pendidikan lepas tangan dan merasa tidak ikut memiliki sumberdaya alam tersebut, sehingga mayoritas masyarakat hanya menjadi penonton saja.
Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dimulai dari jenjang pendidikan yang diformulasikan dalam bentuk kurikulum. Karena dengan memandang bahwa sumber daya manusia perlu dikembangkan melalui penguasaan ilmu, sehingga dapat mencapai kemampuan yang maksimal. Manusia mempunyai akal budi, dan kemampuan berfikir yang dapat digunakan untuk mengembangkan imajinasinya secara kreatif sehingga kemajuan dalam kehidupannya dapat diraih. Manusia mempunyai potensi atau kemampuan yang dapat dikembangkan melebihi dari yang dimiliki oleh makhluk lain, ini dibuktikan dengan kreasi-nya dalam bentuk ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban yang digunakan sebagai tumpuan kehidupan sepanjang masa  
Kelima, memberdayakan perpustakaan, fakta memberikan jawaban betapa penting dan riilnya buku sebagai jendela pengetahuan,  betapa penting dan vital peran buku dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Budaya baca harus menjadi sebuah kebutuhan untuk kemajuan pribadi maupun kepentingan umum. Motivasi membaca harus senantiasa diwacanakan oleh para pendidik maupun orang tua, khususnya membaca yang berkualitas. Budaya baca, perpustakaan dan ilmu pengetahuan merupakan tiga serangkai yang berkaitan langsung dengan pendidikan diri pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Fakta tersebut hendaknya memotivasi dan menyadarkan setiap warga negara, terutama masyarakat Sumenep. Dalam hal ini pemerintah daerah hendaknya lebih memberdayakan perpustakaan, baik dalam lingkup daerah, kecamatan, desa, maupun lingkup sekolah. Perpustakaan umum, Perguruan Tinggi, Desa, maupun sekolah hendaknya menyediakan berbagai bahan bacaan yang bersifat edukatif, informatif, tetapi juga menyediakan bahan-bahan bacaan  yang komunikatif, populer dan bersifat rekreatif. Pada dasarnya perpustakaan juga sangat potensial bagi pendidikan non formal dan ajang mencari ilmu.
Penutup
Tentunya menyambut Hari Jadi Tahun ini ada perubahan pola pikir secara komunal dalam pikiran anak bangsa Sumenep. Hari Jadi bukan hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial semata dan hanya mengedepankan kegiatan-kegiatan yang bersifat sementara ataupun hura-hura. Alanglah eloknya apabila ditumbuhkan sebuah kesadaran kolektif bahwa wilayah Sumenep memendan kekayaan dan membutuhkan tangan-tangan terampil untuk mengelolanya. Pada tataran selanjutnya kesadaran itu diimplementasikan dalam bentuk perbuatan dan tindakan untuk memperbaikai ekologi dan menyelamatkan ekosistem, baik di wilayah pesisir dan juga terumbu karang. Tentu saja hasilnya tidak akan bisa dinikmati saat ini juga, tetapi masih menunggu satu generasi.
Dapatlah dibayangkan apabila seluruh kepulauan yang ada di Sumenep memiliki taman-taman koral dan terumbu karang, para ilmuwan, peneliti, ahli lingkungan, para wisatawan mancanegara ataupun wisman tidak akan jauh-jauh pergi ke Bunaken karena jarak tempuh dari pusat ibukota lebih mudah terjangkau apabila mereka mengunjungi Sumenep. Dan juga apabila hutan mangrove (bakau) menghijau sepanjang pesisir, tentunya akan menjadi tempat memijahnya sejumlah ikan, tempat berkoloninya kepiting, tempat penelitian, tempat anak-anak bermain sekaligus belajar, tempat dimana burung-burung datang untuk berteduh. Tentunya ini bukan hanya mimpi di siang bolong karena jumlah pulau-pulau kecil di Sumenep cukup banyak dan berpotensi dikembangkan sebagai pusat penelitian maupun kebudayaan. Semoga.

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda