Akhir-akhir ini semua berita di media elektronika dan media massa menyajikan berita yang senatiasa membikin hati jutaan rakyat, khusunya rakyat yang tidak beruntung deg-deggan. Berita yang menggoyahkan iman para pedagang dan kaum berduit, yaitu dengan cara memborong berbagai kebutuhan, entah untuk di timbun atau di simpan untuk diri pribadi. Dan pas kenaikan harga BBM dilakukan, maka pedagang akan meraup untung banyak, dan kalangan berduit meraup keuntungan karena berbagai harga kebutuhan melambung. Sedangkan rakyat yang hidupnya terhimpit, ngos-ngossan, menggigit jari dan menitikkan air mata.
Walaupun masih dalam pertimbangan dan belum mendapatkan respon dari DPR, dan bahkan ada bebarapa elemen mayarakat yang menolak, dampak rencana Pemerintah Pusat telah terasa. Perlahan namun pasti harga-harga semua kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Dan itu menyebabkan rakyat yang kurang beruntung, “miskin” mulai tidak mampu membeli bahan kebutuhan pokok. Dan Pmerintah Pusat pun menggulirkan program, seperti program-program tahun sebelumnya, subsidi diberikan kepada masyarakat miskin dalam bentuk tunjangan keuangan, yang diistilahkan BLT.
Berita-berita tersebut tiap hari dikonsumsi oleh ratusan juta rakyat Indonesia, bukan hanya ditonton oleh orang-orang yang beruntung hidupnya, “kaya”, tetapi juta oleh jutaan kaum miskin dan papa. Berita tentang kesulitan hidup, tentang kemisikinan, tentang rakyat miskin yang hanya makan nasi karak, tentang busung lapar tentang anak-anak dari kalangan miskin yang maal gizi, tentang anak-anak miskin yang menjadi korban dipekerjakan sebagai pengemis, bahkan tentang gadis-gadis mereka yang dijual (trackfliking) dan dijadika pekerja seks. Semuanya menjadi head line berita, semuanya menjadi berita news menghiasi layar kaca.
Dalam hitungan menit berita-berita tersebut menjadi bahan konsumsi, dan karena telah menjadi santapan menu sehari-hari, maka berita-berita tersebut akhirnya tidak meninggalkan jejak sedikit pun dalam memori. Tak satu pun berita tersebut membekas dalam hati dan jiwa dan meninggalkan berkas untuk dipikirkan. Emangnya gue pikirin ? Barangkali kalimat tersebut sering terlontar di mulut kita, karena memang demikianlah hidup di jaman hedonis yang menggiring manusianya lebih egois dan individualistik.
Mengapa dan mengapa ? Pertanyaan itu sering mengambang dan hanya melintas di cakrawala waktu, mengapa hati dan jiwa menjadi tumpul ? Apakah ini disebabkan kita tidak pernah mau berfikir tentang keadaan ini ? Tidak pernah mau berfikir tujuan dan penciptaan ? Tidak pernah mau berfikir tentang segala sesuatu yang ia lihat di sekitar ? Mengapa tidak pernah memikirkan tentang keadaan sekitar ? Tentang kemiskinan, kebodohan, kemelaratan, keterbelakangan yang melanda bangsanya ? Mengapa ? Barangkali jawaban yang sering terlontar adalah, “Capek deh !”
Oleh karenanya, meskipun mengkonsumsi berita-berita menyedihkan, memiriskan hati dan merindingkan bulu roma tidak akan berdampak sedikitpun. Karena perasaan dan pikiran telah menjadi tumpul. Mengapa pikiran tumpul ? Karena akal pikiran telah tumpul, dan itu desebabkan karena kita tidak pernak mau berfikir secara logis segala sesuatu yang terjadi di sekitar. “Kondisi lalai”, akan mempengaruhi sarana berfikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya, tulis Harun Yahya dalam salah satu bukunya yang berjudul, Deep Thingking. Apakah analisa tersebut benar adanya ? Tentu jawabannya ada dalam benak kita masing-masing.
Berfikir tidak membutuhkan waktu, tempat atau kondisi khusus. Seseorang dapat berfikir ketika sedang berjongkok di toilet membuang hajat, ketika berjalan di jalan raya, ketika sedang bergandengan mesra dengan kekasih, ketika mengendarai motor dan mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, nonton Televisi, ataupun ketika sedang menyantap makanan. Tentunya berfikir dalam hal ini bukan hanya memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan keadaan lingkungan sekitar. Dan ketika sedang menonton Televisi, menyaksikan problematikan rakyat yang masih dikungkung oleh kemiskinan strukturak dan kultural, kebodohan dan keterbelakangan, mengapa sampai terjadi demikian ? Apakah penyebabnya ?
Berfikir serius dan lebih mendalam, apa sebenarnya yang terjadi ? Apa penyebabnya, dimana akar permasalahannya ? Mengapa kita diam berpangku tangan ? Dan harus memulainya dari mana ? Siapa yang harus memulainya ? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan terjawab apabila kita tidak terbiasa berfikir secara mendalam dan menggunakan akal pikiran yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta. Karena kebanyakan dari kita beranggapan bahwa dapat mengelak dari tanggung jawab dengan menghindarkan diri dari berfikir, dan mengalihkan akal untuk hal-hal yang lain. Dengan melakukan yang demikian, maka akan berhasil melepaskan diri sendiri dari beragam masalah.
Bukankah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan adalah masalah sosial ? Masalah bersama yang harus ditanggung renteng bersama untuk menuntaskan ? Bukankah bukan hanya tanggungjawab Pemerintah, atau pemimpin formal dan informal ? Contoh nyata tentang kebersamaan dan komitmen telah ditunjukkan oleh bangsa asing, Jepang, Korea, Malasyia. Dalam waktu yang relatif sama ketika merdeka, mereka mampu bangkit dan mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Sedangkan kita masih tetap berkutat di tempat karena hanya bangga menetek kejayaan masa silam.
Selayaknya mulai sekarang kita benar-benar berfikir dan memikirkan secara mendalam berita-berita yang selalu hadir di layar kaca, kemudian merenungkan dan memikirkannya secara mendalam. Apa yang harus dilakukan untuk menolong mengentaskan mereka dari keterpurukan dan meringankan beban mereka. Ajaran agama kita, Islam mengajarkan untuk berbagi dalam bentuk infak dan shodaqoh. Dengan melakukan hal itu secara terorganisir, maka hasil yang didapatkan akan sangat luar biasa. Misalkan, dalam satu desa berpenduduk 500 jiwa, kalau tiap hari setiap jiwa menyisihkan uang sebesar 100 rupiah, dalam 1 hari akan terkumpul (500 x Rp 100) = 50.000 rupiah, dan apabila genap satu bulan, maka uang yang terkumpul sebesar (Rp 50.000 x 30 hari) = 1.500.000 rupiah. Angka yang fantastik. Bentuk infaq dan shodaqoh bisa dalam bentuk jimpitanberas, setiap kali ibu-ibu mau menanak nasi, mereka menyisihkan 1 (satu) genggam beras, dan beras-beras itu kemudian dikumpulkan. Dalam satu bulan, maka hasil dari jimpitan tersebut bisa disalurkan kepada yang berhak menerima. Andaikan dalam satu wilayah mampu mengorganisir infaq dan shadaqoh, kemudian hasil tersebut disalurkan kepada masyarakat wilayah itu juga. Alangkah indahnya.
Kultur tersebut juga harus diwacanakan sejak dini dan ditanamkan serta didoktrinkan pada anak didik. Kita harus memulainya dengan langkah-langkah konkrit dan memulainya dari hal-hal yang kecil, hal-hal kecil yang nantinya akan mampu mengantarkan dan membentuk anak-anak didik menjadi pemimpin yang sejati. Karena mengacu pada konsep kepemimpinan dalam spiritual Islam, sebagaimana diriwayatkan oleh Hadist, “Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggungjawab terhadap kepemimpinan itu.” Sejak dini anak-anak diajarkan untuk menjadi seorang pemimpin. Yang pertama adalah menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, dengan demikian dalam jiwa dan benak anak-anak tertanam nilai-nilai kepemimpinan. Dengan bisa memimpin dirinya sendiri, anak-anak akan lebih bertanggungjawab dan belajar mengendalikan diri.
Dokrin ber- infak, atau gerakan itu kita namakan GERAKAN GEMAR INFAK (GGI), bukanlah sebuah kemustahilan apabila semua ber-komitmen menyuburkan Gerakan Gemar Infak ini melalui anak-anak didik. Secara matematis dapat dihitung berapa pemasukan yang didapatkan. Misal, siswa di SDN X berjumlah 200 anak. Infak yang diberikan oleh anak sebesar Rp 100 (seratus rupiah), maka akan muncul nominal setiap hari : (200 x Rp 100) = Rp 20.000. Bila hari efektif setiap bulan adalah 25 hari, maka angka keuangan infak adalah : (25 x Rp 20.000) = Rp 500.000. Dan nominal yang akan terkumpul dalam 1 (satu) tahun adalah : Rp 500.000 x 12 = Rp 6.000.000 (enam juta rupiah)
Sebuah angka yang cukup fantastik, tentu angka tersebut akan semakin membengkak (besar) dari tahun ke tahun. Dengan memiliki modal dan melalui dana tersebut lembaga pendidikan secara perlahan dapat membenahi fasilitas yang dibutuhkan, misal pengadaan laboratorium Bahasa dan IPA, pengadaan perpustakaan, Studi banding, maupun membantu anak-anak yang kurang mampu, membantu pengobatan siswa sakit, pengadaan komputer dan lainnya. Langkah kecil tersebut bisa kita mulai dengan menanamkan kebiasaan ber-infaqsejak dini. Dokrin itu kita tanamkan setiap hari di telinga anak-anak, dengan lembut setiap pagi kita berbisik, “Sayang, sudahkah hari ini kamu menyisihkan uang 100 rupiah unuk infaq ?”.
Ketika bisikan itu setiap hari kita lakukan, maka akan menjadi sebuah dokrin yang tertanam kuat. Dan nantinya dalam proses pematangan dan perkembangan jiwanya, dokrin itu akan tetap menjadi nyanyian indah dan menyejukkan sepanjang hayat. Ibarat menanam kembang, kebiasaan infaq yang ditanamkan sejak dini akan menjadi sebuah media bagaimana nikmatnya ber- “Amar Ma’ruf, Nahi Munkar”. Gerakan Gemar Infaq ini dapat kita wujudkan sebagai salah satu bukti kepeduliaan serta tumbuh dari sebuah kesadaran atas keterpururkan saudara kita sesama muslim yang terpelanting akibat kurang pedulinya diri kita untuk ber-infaq.
Dalam hitungan tahun apabila gerakan ini berhasil maka yang muncul di layar kaca sebagai berita aktual dan terkini bukan lagi berita-berita yang didominasi tentang kemiskinan, melainkan adalah angka-angka fantastis di organisasi masyarakat dan lembaga pendidikan tentang kuangan yang mereka kumpulkan. Kebanyakan mereka kelebihan dana, atau barangkali memasang iklan untuk ditawarkan, YANG INGIN BEASISWA, SILAHKAN HUBUNGI KAMI !



0 Komentar ::