Oleh : El Er Iemawati
Nilai kemanusiaan yang paling utama adalah kemerdekaan, karena kemerdekaan satu-satunya yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Tanpa kemerdekaan manusia tidak mungkin menjalani kehidupannya sebagai manusia. Hal itu disebabkan harga diri setiap manusia justru diukur dengan derajat kemerdekaan yang bisa dikhayati dan dipertahankan oleh manusia. Karena pada hakekatnya setiap individu dilahirkan dalam keadaan merdeka.
Semangat kemerdekaan itulah yang berkobar di setiap dada anak bangsa di bumi nusantara. Sejak kedatangan bangsa kulit putih di wilayah zamrut katulistiwa, memporak-porandakan tatanan sosial masyarakat, menghisap darah rakyat, mencuri, merampok, dan mengeruk kekayaan selama hampir 4 abad. Berbagai bentuk kekejaman, kedzaliman, pemerkosaan, penindasan telah menempatkan posisi derajat kemanusiaan rakyat nusantara pada titik terendah sebagai makhluk ciptaannya. Tak terhitung jumlah nyawa serta pergolakan dan pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat dibawah pimpinan para Raja, Sultan, kaum priyayi dan kaum ningrat. Pergolakan tersebut merata di semua wilayah nusantara, dimulai dari ujung barat pulau Sumatera sampai ujung timur pulau Irian Jaya.
Dalam buku sejarah diriwayatkan, betapa dahsyat peperangan yang telah terjadi sejak abad 16 sampai pertengahan abad 19. Pergolakan yang dilakukan oleh rakyat telah menjadi obor semangat dan menimbulkan pemberontakan merata di wilayah nusantara. Patah tumbuh hilang berganti, patah satu tumbuh seribu. Dari wilayah Sumatera, Imam Bonjol, Teuku Umar, Sisingamangaraja XII, Teungku Cit Di Tiro, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dari Jawa, Sultan Ageng Tirtayasa, pangeran Diponegoro, Pakubuwono VI, Sri Susuhunan, dan lainnya. Dari Bali, Untung Surapati, Kalimantan Pangeran Antasari, dari Sulawesi Sultan Hasanuddin, Kapten Pattimura dan lain-lainnya. Sosok pahlawan inilah yang mencatat tinta emas sejarah
dan menjadi Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Memasuki awal abad 19, perjuangan melalui jalur politik dan pendidikan mulai diperkenalkan oleh tokoh cendekiawan. Perjuangan tersebut melalui pergerakan dan lembaga pendidikan, diantaranya pergerakan Budi Utomo, Sarekat Islam, Masyumi, PNI, Taman Siswa, NU, Sarekat Dagang Islam. Adapun tokoh-tokohnya adalah, H. Samanhudi, H. Oemar Said Cokroaminoto, dr. Soetomo, Ki Hajar Dewantara, KH. Hasyim Asy’ari, Prof. Muhammad Yamin, Sutan Sahrir, H. Agus Salim, KH. Ahmad Dahlan, Dr. Ciptomangunkusumo, Dr. Danudirja Setiabudi, KH. Abdul Wahid Hasyim R.A Kartini dan lain-lainnya. Karena jasa-jasanya para tokoh ini dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional Indonesia.
Setelah Indonesia mampu menyingkirkan kaum imperialis dan menyatakan diri sebagai negara merdeka, perjuangan mempertahankan kemerdekaan masih terus bergolak. Ketamakan bangsa Belanda untuk menguasai kembali wilayah jajahannya masih sangat kuat. Perang-pun berkobar kembali dan ribuan nyawa menjadi tumbal berdirinya Republik ini. Konfrontasi melawan berbagai agresi Militer Belanda tersebut telah melahirkan pahlawan Proklamator, pahlawan Pembela Kemerdekaan Indonesia, pahlawan Revolusi Indonesia, dan pahlawan Nasional.
Dalam sejarah dunia, barangkali hanya negeri di garis katulistiwa ini yang banyak melahirkan tokoh pahlawan. Dengan demikian kemerdekaan yang diperoleh oleh bangsa Indonesia adalah perjuangan seluruh rakyat sekaligus merupakan karunia terbesar yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi, Allah SWT. Kemerdekaan yang dipersembahkan oleh generasi perintis dan pejuang 45, telah membawa bangsa ini menghirup udara kebebasan. Sedangkan warisan mutiara terbaik yang diberikan kepada generasi penerus adalah kerangka landasan penyelenggaraan negara dan pemerintahan berupa Dasar Negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Perjuangan berat para pejuang dan perintis kemerdekaan di masa lampau, sama beratnya dengan perjuangan generasi di masa sekarang. Hal itu disebabkan generasi penerus telah menerima warisan kerusakan yang bersumber dari ambruknya sistem serta tatanan nilai-nilai moralitas. Kerusakan moral tersebut telah ada sejak jaman penjajahan, terutama jaman Jepang. Dan itu terjadi di tataran pemimpin yang berada di kota-kota besar. Kerusakan tersebut bukan hanya mengarah pada bentuk materialisme, tetapi juga penyelewengan terhadap amanah bangsa dan pengerdilan peran pejuang umat Islam. Yaitu dengan jalan membengkokkan nilai sejarah dengan jalan penulisan buku sejarah secara parsial, digunakan untuk kepentingan sesaat serta bergantung kepada kepentingan politik.
Peran umat Islam yang demikian besar tidak dapat di ungkap secara obyektif dalam sejarah. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah minim-nya kalangan umat Islam sendiri dalam mengungkap secara rinci, runtut, gamblang dan obyektif fakta sejarah tentang peran dan andil umat Islam Indonesia dalam kemerdekaan bangsa. Pembengkokan sejarah tersebut dilakukan oleh para elit politik di tingkat atas demi mendukung kepentingan sesaat mereka. Hal itu menyebabkan peran besar umat Islam tidak dapat diketahui oleh generasi muslim.
Walaupun demikian ada dari kalangan ulama yang berhasil mengangkat peran umat Islam dalam bentuk buku, seperti Laskar Hizbullah, oleh KH. Hasyim Latif. Sumbangan Ulama Kepada Bangsa dan Negara, oleh KH. Syafiudin Zuhri, Tri Hizbullah karya Djalal, SH dan Tapak Tilas Laskar Sabilillah, karangan KH. Maskur. Dan satu-satunya buku yang lengkap meng-ekspos peran umat Islam adalah buku yang digarap oleh team Penyusun Buku PWNU Jatim 1995, yang berjudul Peranan Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan.
Pembengkokan sejarah selama ini telah merugikan umat Islam, karena sejarah berdirinya bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran besar umat Islam Indonesia. Di samping itu sejarah Nasional Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah umat Islam di Indonesia. Hal itu berkaitan dengan topik pemilihan topik dalam penulisan sejarah nasional tidak mengkhususkan pada persoalan Islam, menyebabkan fakta tentang peran Islam tidak terungkap karena dianggap tidak relevan. Ditambah pula kekurang-pahaman sejarawan terhadap Islam sebagai ideologi, sehingga terjadi intrepretasi dan imajinasi yang kurang tepat. Pada akhirnya hasil penulisan sejarah kurang mampu mengungkapkan makna hakiki dari sejarah Islam di Indonesia.
Kemerdekaan telah berada dalam genggaman tangan, betapa sulit, betapa pahit, betapa rumit memelihara yang telah tercapai. Hal itu erat kaitannya dengan kondisi dan situasi masa kini. Tantangan yang dihadapi generasi sekarang lebih pelik, karena generasi masa kini dihadapkan pada era industrialisasi dan informasi global. Ekses dari kemajuan IPTEK ternyata mampu menipiskan nilai-nilai kemanusiaan. Apabila tidak diwaspadai, fenomena tersebut akan dapat menghancurkan nilai-nilai kepribadian nasional. Pada gilirannya, eksistensi bangsa Indonesia sebagai negara utuh dan merdeka bisa terancam.
Umat Islam saat ini mempunyai posisi “kunci”, yang menentukan keberhasilan mencapai negara yang makmur, adil dan sejahtera sesuai dengan kalimat mulia yang terdapat dalam pembukaan UUD 45 serta sesuai dengan tuntunan Islam. Keberhasilan tersebut akan tercapai apabila tali ukhuwah islamiah, akhlakul karimah, tulus ikhlas serta tolong menolong dalam hal kebaikan dan taqwa menjadi ruh jihad membangun bangsa. Dengan demikian kaum muslim di Indonesia akan menjadi sosok terdepan dan motivator. Selain itu umat Islam hendaknya memberikan keteladanan dalam menghadapi jaman yang cenderung mengagungkan teknologi dan nilai-nilai sekuler.
Tantangan tersebut akan terjawab apabila umat Islam mau berbenah diri, mengejar ketertinggalan kemajuan lahiriah tanpa mengabaikan nilai-nilai agama. Ketertinggalan di bidang sosial budaya, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dicapai apabila mengembangkan kembali tradisi berfikir dan mengasah otak. Tradisi berfikir dan mengasah otak tersebut pernah ditorehkan oleh umat Islam hingga mampu membangun peradaban yang tinggi. Sehingga umat Islam pada waktu itu menjadi guru bagi bangsa Eropa yang masih terkungkung pada jaman kegelapan.
Tidaklah dapat dipungkiri bahwa mayoritas umat Islam, khususnya cendekiawan muslim di era Otonomi Daerah ini, menjadi barisan terdepan untuk merencanakan seperangkat langkah-langkah konkrit menuju Indonesia yang maju, modern dan berwibawa serta mampu membangun peradaban yang menempatkan nilai moralitas agama dan etika humanisme di atas kemajuan IPTEK.
Sumenep, 12 Juli 2003



0 Komentar ::