Selasa, 28 Februari 2012

Mari Bersama-Sama Membangun

Wabup Sumenep : Ir. H. Soengkono Sidik, S. Sos, M. Si.

Pagi itu, jam menunjukkan pukul delapan. Sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati, dengan wajah sumringah namun masih terlihat kelelahan diwajahnya, bapak Ir. H. Soengkono Sidik, S. Sos, M. Si.Wakil Bupati terpilih dengan santainya menemui kami. Dengan santainya Wabup terpilih bercerita tentang perjalanan panjang kariernya sampai terpilih menjadi Wabup Sumenep periode 2010/2015. Membuka penuturannya, beliau bercerita bahwa pertama kali diangkat sebagai Pegawai Negeri di Jember dengan menduduki jabatan sebagai Kabid. Bidang fisik prasarana, setelah lima tahun bertugas kariernya menanjak karena beliau kemudian diangkat menjadi kepala PUD Bondowoso. 

“Saya bertugas di Bondowoso selama kurang lebih delapan setengah tahun, dan pada tahun 1994 saya di mutasi sebagai kepala PUD Sumenep menggantikan bapak Bambang pada waktu itu, “ paparnya, “Kalau dihitung sampai saat ini saya mengabdi di Sumenep hampir 17 tahun. Jabatan yang pernah saya pegang adalah kepala PUD, kepala Bina Marga, Asisten Pembangunan & Keuangan, dan yang terakhir jadi kepala BAPPEDA. Jadi sangat luas sekali tugas-tugas yang pernah saya lakukan di tiga kabupaten itu”. Lebih jauh beliau menuturkan bahwa jabatan-jabatan yang pernah diemban oleh beliau merupakan amanah, “Jabatan itu kan amanah, amanah itu bukan untuk diri sendiri tetapi untuk masyarakat luas, kita mengabdi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan juga menjadi pelayan masyarakat.”

Ketika disinggung tentang impiannya atau cita-cita masa kecil apakah memang ingin jadi Wabup, beliau tersenyum simpul serta menjawab tidak. Menurut beliau selama menjabat kepala Bappeda, beliau banyak berkecimpung bersama, srudi banding bersama, duduk satu meja dengan KH Busro Karim yang kala itu menjabat sebagai ketua DPRD dua periode. Pada masa-masa itu tidak pernah terpikir kalau akhirnya saat ini antara keduanya terjadi satu kesatuan untuk membangun Sumenep. “Teman-teman dari PDI Perjuangan mengajak saya untuk bersama-sama membangun Sumenep lima tahun ke depan dipasangkan dengan pemenang hasil konvensi PKB, yaitu KH Busro Karim.” Dan kemenanganpun diraih, pasangan Abu Siddik mampu mendulang suara dan menempatkan keduanya pada posisi puncak. Soengkono pun menambahkan, “Jadi kami siap untuk mendampingi dan membantu KH Busro dalam lima tahun ke depan.”

Pada intinya pembangunan dan hasil pembangunan harus benar-benar dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat, tambah Soengkono, dan beliau menambahkan tujuan beliau jadi Wabup adalah untuk mengabdi kepada masyarakat, itu yang pertama. Kedua, ada program program yang betul-betul untuk masyarakat, denggan prinsip, visi, misi membangun desa menata kota. Beliau mengharapkan masyarakat desa betul-betul diberdayakan untuk pembangunan, karena kalau dari titik awal pembangunan di desa maka otomatis masyarakat desa akan bisa mengenyam pembangunan yang ada dan otomatis dia akan terlibat di dalam pembangunan, dan itu akan meningkatkan dari masing-masing pendapatan masyarakat desa. Tentunya dengan keterlibatan itu masyarakat desa akan lebih mampu berkiprah dalam pembangunan dengan harapan kesejahteraan mereka bisa terwujud

Lebih jauh Wabup terpilih ini menuturkan, ”Ada kesaman visi dan misi antara kami, KH Busro dan partai pendukung, yaitu dengan super mantapnya, isinya kalau kita bahas tentang masalah kesejahteraan masyarakat, pembangunan, birokrasi yang profesional dan juga pemberdayaan masyarakat di dalam upaya peningkatan optimalisasi SDA yang ada itu hampir sama dengan KH Busro. Makanya kami dengan KH Busro menjadi satu kesatuan untuk membangun Sumenep dengan visi, misi yang sudah kita sepakati, dengan super mantapnya. Itu memang program yang memihak kepada masyarakat. Yang pertama masalah ekonomi kerakyatan dengan berbagai program dan kegiatannya itu ada. Yang kedua masalah pengelolaan SDA yang memihak kepada lingkungan dan masyarakat lokal, ketiga masalah pembangunan wilayah kepulauan. Istilahnya agar kepulauan tidak tertinggal jauh dngan wilayah daratan, makanya ada program khusus untuk membangun kepulauan. Yang keempat baru pendidikan dan kesehatan. Kelima adalah infra sturktur kebutuhan dasar masyarakat yang ada di pedesaan dan sebagainya baru kemudian reformasi birokrasi.”

Ketika disinggung tentang skala prioritas lima tahun kedepan, beliau menuturkan. “kita mempunyai program membangun desa menata kota, di desa A ini apakah yang dibutuhkan ? O, ternyata peternakan, ya itu yang akan kita lakukan nantinya di dalam membangun desa tersebut, termasuk program pemberdayaan masyarakat yang selama ini sudah berjalan sejak gubernur pak Karwo masih menjadi Sekda itu ada program PAM DKP, CPS Mandiri dan sebagainya, itu yang akan kami lakukan. Pemerintahan SBY ini kan juga ada program PNPM Pola Mandiri Pedesaan, perkotaan. Itu kan memang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, masyarakat berkompetisi untuk membangun, selain membangun dia juga mengusulkan program, menikmati programnya, kerja dapat income tambahan dan sebagainya. Kebanggaan dia merasa diorangkan, itu yang kami harapkan.”

Tentang pembagian tugas antara Bupatii dan Wakil Bupati, Wabup Soengkono mengatakan bahwa sudah ada yang mengatur. Lebih jauh beliau menjelaskan, “Itu sudah ada Undang-undangnya, yaitu Undang-undang 32, di sana sudah ada pembagian tugas, kalau tidak salah dari pengawasan, untuk koordinasi masalah instansi vertikal dan sebagainya, termasuk masalah sosial budaya, masalah kepemudaan, peranan wanita itu sudah ada tupoksinya. Tapi kami sebagai Wakil Bupati otomatis membantu Bupati di dalam melaksanakan tugas itu. Jadi kalau memang ada tugas yang kami lakukan, ya tetap ada koordinasi dengan bupati, tidak langsung mengambil keputusan. Kita dalam satu koridor, kita merupakan satu kesatuan, kita ada semacam koordinasi yang baik di dalam pelaksanaan tugas sesuai dengan tupoksinya masing-masing, termasuk mungkin tugas-tugas yang lain yang diberikan pada kami oleh bupati. Setiap pelaksanaan yang kami lakukan sesuai dengan tupoksi, kami akan melakukan koordinasi dengan bupati, untuk istilahnya di dalam menyeleaikan masalah-masalah yang ada di kabupaten Sumenep, termasuk pembangunan dan sebagainya.”

Di akhir perbincangan, Wabup Soengkono berkata, “Masyarakat jangan jadi penonton dan harus berkiprah di dalam pembangunan, baik pembangunan fisik maupun dalam upaya peningkatan kualitas SDM.” Karena menurut beliau pembangunan Sumenep ke depan tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari semua komponen masyarakat. “Jangan-jangan belum-belum sudah di demo dan sebagainya. Jadi kita harapkan lokasi Sumenep kondusif” Lebih jauh Wabup Soengkono mengharapkan. Agar masyarakat menciptakan kondisi yang kondusif. Kondisi tersebur merupakan syarat utama, karena kalau hanya mengandalkan APBD II tidak akan maksimal. Nantinya dibutuhkan dana-dana lain, misalnya dari propinsi, dari pusat maupun pihak ketiga. “kalau situasiya nggak kondusif, bisa-bisa penanam modal tidak akan berdatangan.Program-program kami nantinya akan disosialisasikan dan akan dilaksanakan penuh keterbukaan dan transparan.” (lilik Rosida Irmawati)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda