Jumat, 24 Februari 2012

Kadis Pendidikan Sumenep: Guru, Tingkatkan Kualitas Keilmuan

Dalam era Otonomi Daerah, otonomi pendidikan sekarang sebenarnya lebih terkait dengan soal kemampuan masyarakat  pendidikan di daerah dalam mengidentifikasi dan mendistribusikan kewenangan untuk mengatur urusan-urusan tertentu dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah. 

Artinya, mengidentifikasi urusan-urusan pendidikan mana sajakah yang semestinya menjadi kewenangan birokrasi pemerintah daerah, dan sekolah sehingga tercipta kondisi yang paling kondusif bagi terwujudnya peningkatan mutu pendidikan di daerah

Lebih lanjut, dalam pedoman pelaksanaan otonomi daerah, disebutkan secara eksplisit bahwa kewenangan Pemerintah Daerah Dati II di bidang pendidikan meliputi, antara lain : menyusun Dan menetapkan petunjuk pelaksanaan pengelolaan TK, SD, SLTP, SMU, SMK; menetapkan kurikulum muatan lokal; mengadakan buku pelajaran pokok; melaksanakan akreditasi; dan melaksanakan kerja sama dengan luar negeri. Dengan kata lain, menurut ketentuan perundang-undangan, penentu otonomi pendidikan adalah Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota.

Terkait dengan itu, perlu ada upaya serius di kalangan masyarakat pendidikan di daerah untuk mencari formula yang pas dalam merumuskan urusan-urusan yang menjadi kewenangan masing-masing. Dan untuk menjawab bagaimana ke depan pendidikan di Sumenep di bawa, serta upaya peningkatan mutu yang nantinya akan membawa Sumenep menjadi kota pendidikan. Berikut bincang-bincang El Iemawati dengan Kadis Pendidikan Sumenep, H. Masuni …..        
           
Secara makro upaya yang dilakukan Disdik dalam upaya peningkatan mutu pendidikan?

Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Sumenep ada beberapa faktor yang perlu dibenahi atau perlu ditingkatkan, yang pertama dari faktor pelayanan, faktor pelayanan yang dilakukan oleh dinas pendidikan kepada para guru. Jadi pelayanan harus maksimal karena guru mertupakan ujung tombak keberhasilan dalam hal pendidikan kepada anak didik.  

Yang kedua, para guru harus meningkatkan kualitas keilmuannya, karena memang di tuntut sebagai tenaga profesional di bidangnya. Guru merupakan tenaga profesional dan telah dilegitiminasi dengan pemberian sertifikat serta pemberian insentif tunjangan sertifikasi. Dengan menerima tunjangan tersebut diharapkan para guru meningkatkan kualitasnya dalam proses belajar mengajar dan juga meningkatkan kualitas keilmuannya. Harus  ada nilai tambah bagi para guru penerima tunjangan sertifikasi, jangan sampai tidak ada perubahan apapun. Karena peran utama para guru adalah mendidik yang bukan hanya mencerdaskan tetapi juga bagaimana anak-anak kita ke depan menjadi generasi yang beriman, berilmu serta mempunyai karakter dan kepribadian.  Di era globalisasi ini tugas para guru memang semakin berat, tetapi tugas itu akan menjadi ringan apabila landasan kerja kita adalah ibadah

Dan tak kalah pentingnya yang ketiga adalah peran orang tua yang akan turut menentukan keberhasilan pendidikan, yang nantinya secara makro akan meningkatkan mutu pendidikan di kabupaten yang kita cintai ini. Motivasi para orang tua kepada putra-putrinya serta membangun kemitraan dengan pihak sekolah juga faktor yang menentukan. Pola kerja sama yang harmoni dari berbagai pihak, khususnya dari komponen Dinas Pendidikan, komponen sekolah, yaitu para guru, siswa-siswinya, para orang tua akan memberikan dampak yang sangat signifikan. Saya berharap ke depan kolaborasi tiga komponen itu akan mampu meningkatkan muru pendidikan di Sumenep

Masalah efektifitas, efesiensi maupun standarisasi kayaknya masih belum tercapai sehingga secara makro belum mampu meningkatkan mutu pendididkan?

Kami terus berusaha, sekarang kan dalam hal peningkatan kualitas para guru sudah dicanangkan sekolah S 2 beasiswa dari pemerintah. Kemarin kami telah memberangkatkan 18 guru untuk mengikuti tes S 2, itu kami tempatkan di luar negeri maupun di dalam negeri. Pengiriman para guru tersebut adalah salah satu upaya pemerintah dalam peningkatan kualitas guru. Selain itu juga dikembangkan kegiatan-kegiatan lain yang bekerjasama dengan akademisi-akademisi di daerah maupun di luar daerah dengan membuka jurusan S 1 bagi para guru yang belum standar dalam hal kualifikasi ijazahnya. Dan ini merupakan tuntutan profesi dimana nantinya guru harus mempunyai gelar S 1.

Khusus untuk Sekolah Bertaraf Internasional, baik di tingkat SMA, SMP maupun SD guru-gurunya harus memenuhi poersyaratan-persyaratan khusus, dimana para gurunya minimal S 1, bisa bahasa Inggris dan Kepala Sekolah S 2. Makanya kedepan harus ada pemikiran-pemikiran dari Pemerintah Daerah bagaimana para gurunya sudah harus memenuhi persyaratan. Ketika tidak memenuhi standar dan persyarata, maka akan menemui hambatan dalam pengembangannya. Nantinya ke depan, kami akan mengkalkulasi berapa guru yang memenuhi persyaratan dan siapa yang tidak memenuhi

Langkah-langkah konkritnya spesifikasi SBI?

Langkah konkritnya nanti kami akan mengevaluasi secara jelas dan detail ke lapangan bagaimana kondisi guru yang ada di SBI ini, ketika nanti ada kekurangan akan merekrut. Kemarin telah diberangkatkan 18 orang guru tingkat SMP dan SMA, dan kemungkinan kedepannya untuk SD nantinya juga akan dilaksanakan

Menurut Bapak persoalan-persoalan pendidikan yang paling riil itu dimana?

Yang pertama adalah sarana fisik, ketika sarana fisik tidak memenuhi persyaratan maka akan memperngaruhi dalam proses belajar mengajar. Saat ini yang menjadi PR bagi kami untuk mendata ulang masalah tanah, banyak sekali protes yang berkaitan dengan status tanah. Tidak tahu bagaimana sejarahnya sehingga ada sekolah yang di tutup dan siswanya belajar di luar karena ada klaim dari pemilik yang merasa bahwa itu tanah hak miliknya. Tentunya masalah tersebut harus kami prioritaskan untuk penyelesainnya agar tidak mengganggu proses belajar mengajar

Yang kedua berkaitan dengan kualitas guru, ke depan bagaimana kualitas guru ini lebih ditingkatkan lagi baik dari segi keilmuan maupun lainnya. Kami rasa pemerintah telah memberikan injeksi kesejahteraan kepada para guru, khususnya tunjangan sertifikasi. Tentunya harus ada timbal balik dari semua para guru untuk meningkatkan kompetensi diri serta kualitas keilmuannya. Kalau para guru di semua tingkatan mau mengembangkan potensi diri otomatis akan memberikan nilai tambah dalam proses pentransferan ilmu ke anak didik. Dan tentunya ketika para gurunya berkualitas, kompetem dan profesional maka prestasi anak didik akan terangkat dan mencapai hasil yang maksimal

Kualitas guru harus benar-benar menjadi perhatian serius dari Pemerintah Daerah. Dan juga tidak kalah penntingnya kami sebagai pelayan jangan sampai para guru ini disibukkan dengan hal-hal lain, hak-haknya harus dipenuhi tepat waktu. Contoh, masalah kepangkatan guru harus dilakukan oleh TU, jangan sampai guru itu mengurus kepangkatan sendiri, ini sudah ada petugasnya. Juga hak-hak masalah gaji, honor jangan sampai ada pemotongan-pemotongan, ini harus diterima utuh oleh guru

Dari iventarisir sementara apakah sarana dan prasarana untuk semua jenjang pendidikan sudah mencukupi

Untuk SD masih banyak yang rusak dan perlu ada perhatian khusus, kalau SMP dan SMA kami rasa cukup baik dan nantinya tinggal pembenahan-pembenahannya saja, atau rehab berat dan sedang. Tetapi sekolah-sekolah di desa kan jumlah murid yang ada itu minimal sekali, kita kan membangun gedung sekolah yang sesuai dengan rasio muridnya. Kadang-kadang ada sekolah yang muridnya sedikit

Khusus untuk kesediaan guru tampaknya di wilayah Sumenep akan kekurangan guru, ini berdasarkan bahwa jumlah guru yang purna tugas cukup banyak. Upaya-upaya selanjutnya bagaimana ?

Kami sekarang sudah mengadakan pendataan para guru, dimana untuk mengetahui tingkat kualitas guru atau sejauh mana guru itu melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar. Dalam hal ini apabila terdapat guru-guru yang kurang nantinya akan dianalisa atau akan kami laporkan kepada Bupati untuk mengadakan perekrutan CPNS guru terurtama yang terjadi di kepulauan dan juga di daratan.

Barangkali ada sinegri dengan lembaga lain di luar Diknas?

Kalau sekolah di pedesaan kita punya saingan dengan Madrasah Ibtidaiyah, banyak sekolah di desa muridnya yang minim bahkan kosong. Makanya perlu adanya satu pendekatan dengan Kantor Kementerian Agama kabupaten bagaimana  nantinya nisa  shering berkaitan dengan siswa-siswi madrasah Ibtidaiyah. Bentuk kerjasama dan sinerginya nanti akan kami rumuskan bersama, salah satunya siswa MII itu pagi masuk ke SD, sorenya masuk ke MI. kita usahakan nantinya ada kerjasama dengan kantor Kementerian Agama

Output siswa karena adanya kualitas guru, nah kedepannya harus bagaimana agar kualitas guru secara besamaan bisa meningkat?

Ke depan nantinya kami akan menugaskan para pengawas, para pengawas harus maksimal untuk mengetahui tentang metode, cara, pendekatan yang paling aktual dalam proses belajar mengajar. Jadi ke depan guru tidak asal mengajar, harus punya konsep-konsep yang bagus sesuai dengan materi pembelajaran untuk mengetahui kualitas guru ini pengawaslah yang nantinya akan menilai, ketika nanti diketemukan bahwa kualitas itu kurang maka akan diadakan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan peningkatan tersebut

Mengajar sebenarnya sama dengan menjual sebuah produk, yaitu produk pendidikan atau ilmu. Dalam memasarkan perlu managemen, perlu cara dan strategi agar jualan kita menjadi laku. Ini yang harus benar-benar dipahami oleh para guru dan lembaga pendidikan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Bagaimana sebuah produk akan laku kalau dalam memanegemen, memasarkan dan strategi penjualnnya salah? Tentunya para guru sebagai ujung tombak harus bener-benar bisa merubah minsed-nya, contoh kecil dalam setiap dekade selalu ada perubahan kurikulum yang mengacu pada konsep-konsep terbaru kemajuan dunia pendidikan maupun pengajaran. Ada teknik, metode dan pendekatan-pendekatan baru sesuai dengan konteks kemajuan jaman. Contoh, informasi apapun saat ini langsung bisa di akses di internet, nah kalau muridnya saja sudah ngenet dan melanglang di dunia maya, eh . … gurunya malah gaptek

Sepengetahuan kami, dalam upaya meningkatkan kompetensi guru Diknas jarang sekali mengadakan diklat untuk. Nanti ke depan kami akan merangcang konsep dan menganggarkan untuk diklat para guru, tenaga fugsional dalam rangka meningkatkan kualitas guru itu sendiri. Insya Allah mulai tahun 2012 kalau disetujui oleh DPR. Nah, nantinya kalau gurunya berakhlah, berilmu, berkarakter, berkepribadian, kharismatik maka akan disegani oleh anak didik dan dalam pentransferan ilmu akan lebih berhasil

Sekarangkan bukan hanya mengoptimalkan kecerdasan, tetapi harus sinergi dengan pembentukan karakter. Seharusnya apa yang mesti dilakukan?

Ya, barangkali yang tidak kalah pentingnya adalah pengoptimalan yang seimbang dan bersamaan antara kecerdasan intelektual, emosional dan spritual. Kalau ketiga ranah tersebut dilakukan bersamaan maka kedepannya akan terlahir anak-anak yang cerdas, berilmu, beriman, mempunyai karakter dan berkepribadian. Barangkali kita mulai dari pembiasaan-pembiasaan sejak anak mulai duduk di pendidikan formal. Kebiasan-kebiasaan yang sepertinya kecil dan remeh tetapi akan membawa dampak besar di kemudian hari. Contohnya, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, kebiasaan berpamitan ketika keluar ataupun masuk ke rumah, kebiasaan mengucapkan salam ketika masuk dan keluar ruangan belajar, kebiasaan mengucapkan terima kasih dan juga meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Hal-hal kecil inilah yang harus menjadi perhatian sebagai salah satu pembentukan karakter dan kepribadian

Tentunya untuk mencapai kesana diperlukan langkah-langkah kongkrit, khususnya dengan masyarakat. Langkah Dinas Pendidikan sendiri bagaimana?

Langkah konkritnya kami akan melakukan rapat-rapat koordinasi untuk mengembangkan MBS. Kedepannya MBS harus segera disosialisasikan dan menghimbau dengan sangat kepada kepala UPT Pendidikan di kecamatan-kecamatan dan satuan-satuan pendidikan agar segera mengaplikasi masalah MBS. Dengan terjalinnya kerjasama dan kemitraan dengan para orang tua wali murid maka kualitas mutu pendidikan secepatnya akan mencapai hasil maksimal

Harapan Bapak kepada para guru?

Khusus untuk para guru hendaknya melaksanakan tugas sesuai dengan tugas keahliannya sebagai tenaga profesional, jagalah pola pikir yang bagus, landasi memberikan ilmu dengan niat ibadah serta jadilah uswatun hasanah sehingga menjadi sosok yang tetap di contoh, ditiru dan diteladani baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakatnya

 (Pewawancara: Lilik Rosida Irmawati)

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda