Selasa, 21 Februari 2012

Jejak-Jejak Sejarah

El Iemawati

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh para sejarawan, bahwa Sumenep nama sebuah kabupaten di ujung timur Madura ini merupakan salah satu kawasan yang terpenting. Sejarah mencatat, Sumenep yang berada di kawasan Madura dinilai paling dini dan mampu membangun sebuah pemerintahan. Pangeran Notokusumo I, yang berkuasa pada paruh abad 18 menggiatkan pembangunan di Sumenep. Pada masa itulah kraton Sumenep dibangun. Selain kraton, Notokusumo I juga beriniiatif membangun mesjid kerajaan. Liau Piango, sang arsitek pembangunan kraton ditunjuk sebagai kepala pembangunan mesjid. Seperti halnya ciri arsitekur kraton, hasil pembangunan masjid mencerminkan perpaduan dari berbagai anasir kebudayaan.

Bukan hanya itu, kompleks pemakaman raja-raja Sumenep beserta keluarganya yang dikenal dengan Asta Tinggi merupakan hasil inisiatif Pangeran Notokusumo I.  Asta Tinggi juga dibangun oleh arsitek dari Tionghoa yang bernama Ka Seng An. Peninggalan Notokusumo I  memberikan gambaran yang utuh dan gamblang, sekaligus menegaskan bahwa betapa penting dan majunya kawasan Sumenep dalam sejarah Madura.

Bahkan disinyalir usia kota Sumenep hampir setua usia Majapahit, ini berdasarkan  ditetapkannya hari jadi Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269. Penetapan hari jadi tersebut merujuk pada peristiwa dilantiknya Aria Wiraraja sebagai adipati (bupati) Sumenep oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Aria Wiraraja adalah sahabat Raden Wijaya yang ikut berperan aktif dan ikut serta mendirikan Majapahit. Peran Aria Wiraraja bukan hanya ikut mendirikan Majapahit, tetapi juga bahu membahu dengan Raden Wijaya ketika mengusir bala tentara Tar-tar dari Mongolia.

Yang sangat menarik dalam sejarah kerajaan di Sumenep, adalah berperannya sosok perempuan dalam dinasti politik. Raden Ayu Tirtonegoro merupakan satu-satunya perempuan yang bertahta di singgasana. Sepanjang sejarah kerajaan Sumenep, Raden Ayu Tirtonegoro adalah satu-satunya perempuan Madura yang mampu meraih kedudukan tertinggi, sebagai raja. Sebelum wafat Raden Ayu Tirtonegoro berwasiat, jika ia sudah wafat dan Bindara Saod juga wafat, maka Somala yang menjadi penguasa berikutnya. Somala merupakan anak dari Bindara Saod dengan istri pertamanya. Setelah Somala benar-benar menjadi raja, Somala mengunakan gelar Panembahan Notokusumo I. pada masa pemerintahan Nootokusumo I inilah, pembangunan di Sumenep digiatkan. Hasil dari pembangunan tersebut sampai saat ini masih dapat ditelusuri jejak-jejaknya, yaitu Keraton Sumenep, Mesjid Agung serta kompleks pemakaman Asta Tinggi.

Pada masa itu kemajuan yang dicapai bukan hanya di bidang pembangunan maupun pemerintahan, dalam bidang kebahasaan-pun dialek Sumenep dikenal sebagai dialek yang paling halus. Maka tidaklah mengherankan apabila dialek Sumenep dijadikan bahasa Madura standar, dan dalam perkembangannya bahasa dialek Sumenep kemudian diajarkan di sekolah-sekolah sampai kini. Dan dalam bidang kesusasteraan, berbagai hasil karya sastra semacam sastra lisan (foklore), pantun, syi’ir, macopat, sampai saat ini masih tetap hidup. Sebagian masih eksis dicintai oleh para penikmatnya, dan sebagian lagi telah menghilang dari memori karena tidak terdokumentasikan secara baik.

Dalam bidang kebudayaan khususnya kesenian dan kesusasteraan,  Sumenep dikenal sebagai pelopor dan merupakan kantong budaya. Beragam kesenian dilahirkan di wilayah Sumenep, dan kemudiam tumbuh subur dan berkembang sampai beradab-abad lamanya. Yang paling tersohor adalah seni pertunjukan Kerapan Sapi, .sejak kelahirannya di paruh abad 15 sampai saat ini tetap menjadi aset budaya yang tetap hidup di hati masyarakatnya. Begitu pula dengan Sapi Sono’, sejak kelahirannya yang konon juga bersamaan dengan Kerapan Sapi sampai detik tetap menjadi aset budaya yang tetap disenangi, dicintai dan digeluti dengan ketulusan oleh masyarakat tradisional. Kurun waktu panjang 5 abad bukanlah waktu pendek, namun Kerapan Sapi maupun Sapi Sono’ tetap dicintai oleh masyarakatnya, dan seni ini tak mampu menggeser budaya-budaya asing yang datang menyerbu dari berbagai arah.

Kecintaan, ketulusan yang dimiliki oleh suku Madura mempertahankan aset budaya lokal laik diacungi jempol. Hal itu dapat dicermati dengan tetap tumbuh suburnya berbagai kesenian tradisional. Kesenian Topeng Dalang, Shintung, Silat Ghul-ghul, Macapat adalah salah satu dari sekian kesenian tradisional yang tetap digeluti dengan penuh ketulusan hati. Dengan adanya berbagai kesenian yang tetap tumbuh subur dan eksis memperahankan keberadaannya, tak berlebihan apabila Sumenep mendapatka julukan sebagai kota budaya.

Dari waktu ke waktu, julukan sebagai kota budaya yang dilekatkan pada Sumenep belum mengalami pergeseran. Di kawasan Madura,secara fisik dapat dilihat bahwa Sumenep masih tetap mempertahankan pamornya sebagai kota is the best. Sarana dan prasarana, baik itu perkantoran, jalan, lembaga pendidikan, kesehatan dan lainnya berdiri megah bukan hanya di lingkungan perkotaan, tetapi merambah hampir di semua pelosok. Inilah salah satu indikator sebuah keberhasilan dan kesuksesan. Pelan namun pasti masyarakat luas dapat menikmati hasil pembangunan. Bukan hanya menikmati sarana fisik, tetapi berbagai informasi mudah di akses, berbagai sarana telah dipersiapkan oleh Pemerintah Daerah supaya masyarakat semakin melek, semakin pintar dan cerdas dan mampu membaca situasi dan kondisi dunia yang semakin mengglobal.

Dalam sebuah perjalanan sejarah, usia 739 tahun bukanlah usia seumur jagung. Rentang waktu usia tersebut sudah sangat matang dan dewasa.apabila dianalogikan dengan usia manusia, usia tersebut sudah dalam tataran dewasa, matang baik secara emosional, intelektual maupun spiritual. Tentunya kematangan dan kedewasaan tersebut dapat ditunjukkan  oleh semua anak suku Madura, khususnya masyarakat Sumenep. Tapi apakah memang demikian adanya ?

Dalam catatan sejarah perjalanannya, Sumenep pernah mengalami masa-masa kejayaannya.  kejayaan ukir kayu, kejayaan tenun dan batik, kejayaan kesenian, kejayaan home industri perahu dan juga kejayaan  para pelaut yang mampu melanglang buana sampai ke batas negara lain. Bahkan konon, reng  Madhura adalah sosok yang  sangat ulet, pantang menyerah dan penuh optimistis, maka tak mengherankan mereka berani merantau untuk mengubah nasib. Dan ternyata, perantau-perantau tersebut sukses. Nilai-nilai semangat perjuangan tersebut semestinya mampu memberikan inspirasi sekaligus nutrisi bagi sebuah perjalanan, karena saat ini disinyalir semangat yang pernah melambungkan masa-masa kejayaan tersebut mulai surut.

Konon, saat ini semangat kecintaan terhadap budaya lokal mulai luntur dan perlahan memudar. Memudarnya rasa sayang, rasa cinta tersebut disebabkan generasi muda tidak mengenal, tidak merasakan dan tidak bersinggungan langsung. Mereka jauh dari budayanya, karena memang sejak dini tidak diperkenalkan. Bahkan dari segi penutur bahasa, setiap tahunnya grafik pemakai bahasa Madura semakin menurun. Data statistik menunjukkan setiap tahun bahasa Madura kehilangan penuturnya secara drastis, padahal bahasa daerah merupakan citra daerah. Kalau sudah kehilangan bahasa, maka mudah sekali budaya-budaya lainnya memudar.

Yang lebih memiriskan, banyak dari anak-anak muda dari kalangan intelektual (mahasiswa) yang menghilangkan jati dirinya sebagai reng Madhura, tentu saja yang menjadi sebuah pertanyaan, mengapa hal itu sampai terjadi ? Rasa percaya diri (PD) tidak tumbuh dalam dada mereka, karena generasi muda sangat miskin, miskin budaya. Memori otak mereka tidak sedikitpun menyimpan data-data tentang keagungan, keluhuran dan nilai-nilai adiluhung yang terkandung dalam simbul-simbul dari berbagai karya sastra. Siapa yang mesti dipersalahkan ?

Tentunya saat ini tugas berat pentransferan budaya lokal menjadi tanggung jawab bersama. Harus ada langkah-langkah yang terpadu, terus menerus, berkesinambungan dan sistematis. Pengenalan kembali selayaknya di mulai sejak dini dan secara berkesinambungan diajarkan di sekolah. Bukan hanya dalam bentuk teoritis, tetapi juga dalam bentuk praktek. Aset budaya lokal tidak boleh sampai menghilang dari memori generasi muda, karena aset inilah yang nantinya akan menentukan jati diri sebagai bagian kekayaan khasanah budaya nasional. Bahkan Presiden Rebupblik Indonesia, yang lebih di kenal dengan SBY pada tahun 2005 dan tahun 2006 mencanangkan sebagai tahun budaya dan seni nusantara.

Dan tentunya suku bangsa Madura tidak ingin menetek pada kejayaan masa lalu, tetapi menyongsong sendiri dengan kekuatan dan menorehkan sendiri tinta emas sejarahnya. Kalau pada abad 13 sudah berdiri kadipaten dengan dilantiknya Aria Wiraraja, pertengahan abad 15 terlahir Kerapan Sapi dan Sapi Sono’, paruh abad 18 Pangeran Notokusumo I mewariskan karya agung Masjid Jamik, dan juga Sultan Abdurrahman sebagai tokoh yang dikenal luas baik nasional maupun internasional, lalu apa yang diberikan oleh generasi sekarang kepada generasi penerusnya ?

Tak ada salahnya menoleh sebentar  dan membuka lembaran lama untuk menelusuri kembali jejak sejarah masa lalu. Dari napak tilas penelusuran tersebut, nantinya dijadikan sumber informasi, sumber inspirasi dan semangat untuk mengukir sendiri tinta emas sejarah. Dan itu akan terbukti apabila dapat menghasilkan karya besar dan mewariskannya kepada generasi penerus.    


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

1 Komentar ::

Napak tilas yang mengasikkan

Tinggalkan Komentar Anda