Selasa, 21 Februari 2012

ESQ Peduli Pendidikan Menggabungkan Multikecerdasan

Oleh Damanhuri Zuhri
Dengan menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, ESQ Peduli Pendidikan mendidik guru menjadi paripurna. Jarum jam masih menunjukkan pukul 06.30. Satu demi satu para guru Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Dasar (SD), dan Taman Kanak-Kanak (TK) mulai berdatangan di Padepokan Pencak Silat di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Para guru yang berasal dari wilayah Jakarta, Bekasi, dan Tangerang itu tengah mengikuti program pelatihan selama tiga hari (20-22/12) yang digelar oleh ESQ Peduli Pendidikan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta. Acara yang dibuka oleh kepala dinas Dikmenti DKI Jakarta, Margani M Mustar, ini merupakan pelatihan angkatan ke-9 dan diikuti oleh sekitar 450 guru. Menurut Margani, pelatihan ini sangat penting mengingat suksesnya suasana belajar di dalam kelas membutuhkan suasana psikologis yang baik. ''Proses belajar mengajar di kelas tidak akan berhasil dengan baik kalau suasana psikologisnya kurang baik,'' katanya.

Guru yang senang dan ikhlas mengajar, kata Margani, dengan sendirinya murid juga akan senang dan ikhlas belajar. Suasana psikologis memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kualitas hasil pembelajaran. Sebesar 70 persen suasana psikologis memberi dampak pada suasana belajar di kelas. Itulah sebab-nya seorang guru dituntut tidak hanya memiliki kecer-dasan individu (intelektual), melainkan juga harus memiliki kecerdasan emosional dan spiritual. Ketiga-nya merupakan modal untuk menjadi seorang guru yang paripurna. ''Dia pandai, tahu ilmunya, dan tahu apa yang diajarkan. Dia juga ikhlas mengajarkan ilmunya. Kalau ini tercipta insya Allah kualitas pendi-dikan akan baik,'' tandas Margani.

Program kerja sama pelatihan khusus untuk para guru yang sudah berlangsung selama tiga tahun ini menda-patkan dukungan dana dari para alumni ESQ. Menu-rut pembina ESQ Peduli Pendidikan, Anna Rohim, lahirnya ide pelatihan ini berawal dari semangat para alumni ESQ yang ingin berbuat sesuatu setelah mengikuti pelatihan ESQ. ''Dikatakan dalam pelatihan itu, kalau kita mengaku orang yang beriman dan bertaqwa, maka tidak cukup disimpan di dalam dada. Namun, harus dinyatakan dalam tindakan nyata,'' tutur Anna Rohim. ''Akhirnya kami memilih memberikan training secara cuma-cuma kepada para guru.''

Mengapa harus memilih guru? Anna mengatakan bahwa para alumni ESQ sangat yakin bahwa guru merupakan ujung tombak pendidikan yang nantinya akan menghasilkan generasi pemimpin bangsa. Pelatihan itu, kata dia, ibarat orang yang meniup balon kemudian dilepaskan begitu saja dan terbang kemana saja. Hal senada juga disampaikan oleh Lea Irawan, Sekretaris ESQ Peduli Pendidikan. Semula, kata dia, sempat terbetik pikiran untuk melatih para sopir, karena seringnya terjadi kecelakaan di jalan raya yang banyak memakan korban. ''Tapi, akhirnya pilihan itu jatuh kepada guru,'' tuturnya.

Anna juga menegaskan, melalui pelatihan ini, mereka ingin menggabungkan ketiga kecerdasan yang masih terpisah-pisah yang dimiliki seorang guru agar menjadi guru paripurna. ''Dan itu yang harus mereka tularkan kepada murid-murid.'' Ia mencontohkan, ada seorang murid yang pintar secara intelektual, dan secara emosional juga mudah beradaptasi dengan masyarakat di lingkungannya. Namun, secara spiritual anak itu tidak cerdas. Dalam pertumbuhannya, anak tersebut nantinya akan menjadi berbahaya karena tidak diback-upoleh spiritual yang baik. ''Nah, tugas guru di sekolah yang harus mengarahkan dengan bekal yang didapat dari training ESQ itu,'' tandasnya.

Anna juga menjelaskan, ketika sudah menjadi alumni ESQ, seseorang akan merasakan kenyamanan di dalam hatinya yang bukan berupa materi. Dia bilang, ''Ada keikhlasan di dalam hati. Apabila orang lain berbuat salah, langsung kita maafkan. Hal-hal yang kami rasakan inilah yang mendorong untuk menularkan kepada orang lain''. Baik Anna Rohim maupun Lea Irawan tak menampik apa yang mereka terima dari training ESQ sangat berdampak dalam kehidupan. Mereka rata-rata mempunyai prinsip hidup yang sama. Salah satu yang didapat dari ESQ, aku mereka, adalah selalu ingin memberi. ''Dengan memberi, bagi kami sangat membahagiakan.'' Tak hanya Anna dan Lea. Fahmi Santoso (38), salah seorang peserta training ESQ Peduli Pendidikan Angkatan IX mengungkapkan rasa bahagianya bisa mengikuti kegiatan itu. ''Setelah mengikuti training, saya merasakan pendekatan diri kepada Allah terasa lebih kuat. Karena, kita semua akan kembali kepada-Nya. Bahkan, saya dapat mengenal siapa diri saya sebenarnya,'' tuturnya.

Guru SMA 39 Jakarta ini juga mengaku semakin mantap untuk menyampaikan pelajaran kepada murid-murid terutama bidang studi fisika yang digelutinya. ''Subhanallah ternyata teori Alquran yang dijabarkan secara universal sama dengan teori yang diajarkan secara metafisis,'' tandas Fahmi yang sudah mengajar selama 15 tahun ini. Ungkapan senada dipaparkan Dede Mulyani (40), kepala sekolah TK Bina Ilmu Parung, Bogor. Ia mengaku mendapatkan pelajaran, wawasan, dan pengalaman yang sangat besar manfaatnya untuk mendidik anak-anak di lingkungan TK Bina Ilmu.

''Mudah-mudahan program ESQ Peduli Pendidikan yang melatih para guru ini akan terus terwujud dan semakin banyak guru TK dan SD yang diikutsertakan,'' papar Dede yang sudah 20 tahun lebih menjadi guru TK.      

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda