Senin, 27 Februari 2012

Cita-Cita Anakku, Bukan Koruptor

L. Rosida Irmawati

Saya terkejut ketika anak saya melontarkan pertanyaan, apakah Pakpo (panggilan sayang untuk pakdenya) melakukan korupsi. Saya terdiam dan memandangnya tanpa berkedip, mengekspresikan perasaan tidak suka atas pertanyaannya Kemudian secara spontan saya menjelaskan bahwa Pakpo-nya tidak pernah melakukan perbuatan tercela, apalagi melakukan korupsi. Anak saya tersenyum geli, katanya saya ketinggalan informasi. Kemudian ia memberikan argumentasi tentang kekayaan Pakponya yang di luar batas kewajaran. Untuk seorang PNS (Kep. Dinas Instansi) kekayaan yang dimilikinya  perlu dipertanyakan. Baru menjabat dua tahun, Pakpo mampu membeli rumah serta mobil  terbaru. Disamping itu ketiga anaknya masing-masing mempunyai motor keluaran model terakhir.  Sambil tersenyum saya menggodanya kalau apa yang dikatakannya hanya ungkapan perasaan iri, karena sampai saat ini ia hanya memiliki motor butut.

Tiba-tiba saja pertanyaan anak saya terus menerus menganggu konsentrasi, baik ketika berada di tempat kerja maupun di rumah.  Di rumah saya tak berani mengusik suami dengan pertanyaan konyol yang dilontarkan anak. Karena saya tahu, meskipun ia mempunyai saudara yang mempunyai kedudukan cukup mapan jarang sekali suami saya mau membicarakannya. Suami benar-benar mengambil jarak (hal tertentu), apalagi dalam soal keuangan. Sampai-sampai ia membiarkan anak semata wayangnya bekerja sebagai loper koran untuk menambah uang saku. Kata suami anak harus belajar mandiri dan tidak bergantung pada siapapun.

Suatu sore secara tak sengaja saya mendengarkan pembicaraan suami dengan anak, saya menguping pembicaraan mereka.  Dengan gayanya yang menggebu-begu anak saya melontarkan berbagai persoalan yang sedang hangat dibicarakan oleh banyak orang. Terutama tentang kegagalan para reformis dan semakin merajalela budaya KKN. Saya benar-benar ternganga dan takjub, dari mana ia mendapatkan informasi dan mempunyai pikiran macam itu. Karena setahu saya, anak se-usia dia  (15 tahun) dan masih duduk di kelas I SMU jarang sekali tertarik pada hal-hal yang terjadi di luar lingkungannya.  Ketika berdiskudi dengan sang ayah, anak saya melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, apa yang menyebabkan bangsa Indonesia benar-benar terpuruk, terutama pada tataran rendahnya moralitas, karena menurutnya, di Indonesia merupakan gudang agamawan.

Saya lihat suami mengernyitkan dahi mendengarkan pertanyaan tersebut, tanpa menjawab  suami berdiri dan mengambil sebuah buku di rak. Buku itu dilemparkan pada anak saya sambil bertanya apakah  sudah membacanya. Anak saya menjawab bahwa buku itu sudah dibacanya berulang-ulang, saking seringnya dibaca hampir hafal diluar kepala. Kemudian ayahnya bertanya, apa yang menarik dari tokoh tersebut ? (biografi Umar, sahabat nabi), anak saya menjawab bahwa Umar adalah sosok luar biasa, ekpresif, keras, tak kenal takut, mempunyai kombinasi pribadi yang unik, teguh memegang prinsip, rela berkorban, jujur, adil, amanah dan mengedepankan kaum dhuafa.

Suami saya menambahkan bahwa Umar adalah salah satu sahabat Nabi yang sering dijadikan tokoh panutan dan sering dijadikan contoh oleh para muballig di pengajian-pengajian. Sambil tertawa anak saya menyela pembicaraan suami, katanya, itu tempo dulu ketika sebagian dari para kiai belum terjun ke panggung politik praktis dan belum merasakan nikmatnya uang serta kekuasaan. Suami saya juga tertawa dan membenarkan pendapat anaknya.  Ibarat mata air, anak saya menambahkan, kalau dulu menjadi mata air jernih menyejukkan dan  pelepas dahaga bagi orang  kehausan tapi saat ini mata air tersebut menjadi air bah, melanda dan melumat apa saja yang ada didepannya.

Suami saya terbahak mendengar kalimat sarkastis tersebut, tetapi kemudian terdiam agak lama, karena anaknya menuntut jawaban  dari pertanyaan sederhana yang ia lontarkan, mengapa bangsa kita mempunyai moralitas demikian rendah ?  Sambil tetap tertawa suami balik bertanya kepada anaknya, apa kewajiban umat Islam terhadap Al Kitab ? Dengan tangkas ia menjawab bahwa kewajiban umat Islam terhadap Al-Qur’an adalah membacanya.  Hanya membaca ? Anak saya tergagap mendengar pertanyaan tersebut.  Suami saya menambahkan bahwa ada 4 kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam terhadap Al-Kitab. Yang pertama adalah membaca, kedua menterjemahkan, ketiga menafsirkan  dan keempat adalah menghayati serta mengamalkan.

Namun sangat disayangkan para pemimpin bangsa sampai saat ini belum bisa menggiring dan menyediakan berbagai fasilitas untuk meningkatkan minat membaca, urai suami, hal itu tidak terlepas dari untaian sejarah serta politik yang dijalankan oleh penjajah Belanda. Pada masa penjajahan berbagai aktifitas keagamaan benar-benar dikebiri, bahkan pada masa itu adalah suatu keharusan menggunakan bahasa Arab di berbagai kegiatan keagamaan. Tentu saja politik tersebut dijalankan dalam rangka pembodohan, karena kebangkitan sebuah peradaban dimulai dari kecintaan terhadap bacaan dan ilmu.

Akibat minat membaca dan apresiasi yang sangat kurang terhadap Al-Qur’an maka sebagian dari umat Islam menjadi asing terhadap kitab sucinya sendiri. Al-Qur’an hanya dijadikan benda keramat dan disucikan, sehingga kandungan isi yang ada didalamnya belum dijalankan dengan penuh kesadaran dan kecintaan utuh. Di majelis-majelis taklim materi yang disampaikan cenderung menitikberatkan pada kehidupan akherat. Dimensi sosial kemasyarakatan serta keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan duniawi jarang di sentuh. Akibat dari pemahaman yang sangat sempit terhadap agama yang dianutnya, sebagian dari umat Islam menjalankan kewajibannya hanya sebatas ritual dan lebih menekankan pada simbol-simbol keagamaan.

Anak saya mengkritik jawaban ayahnya yang melenceng dari pertanyaan, suami saya tersenyum dan mengatakan bahwa apa yang diuraikan merupakan sebuah rentetan sejarah yang buahnya dipetik pada masa sekarang. Disamping melaksanakan politik pembodohan, penjajah Belanda (juga Jepang) telah mewariskan suatu  kebobrokan pada sistem pemerintahan serta melahirkan pejabat serta aparat yang mempunyai mental KKN.  Hal itu berlanjut setelah jaman kemerdekaan, pada masa Orde Lama maupun Orde Baru serta semakin subur pada masa reformasi,

Anak saya ngeyel dan tetap menkritik ayahnya, bahwa apa yang disampaikan hanya pada tingkat permukaan saja dan sangat bersifat umum. Faktor apakah yang paling dominan menjadi penyebab rendahnya moralitas  sehingga bangsa Indonesia terpuruk dan berkubang lumpur budaya KKN ?  Saya lihat suami tercenung dengan cercaan pertanyaan yang barangkali diluar jangkauan pemikirannya. Setelah agak lama terdiam suami saya berkata, bahwa faktor yang paling dominan adalah pada manusianya. Sambil tertawa anak saya membenarkan pendapat ayahnya, dan menambahkan bahwa keterpurukan di berbagai bidang  yang dialami bangsa kita penyebab paling utama adalah peran (fakror) pemimpin.

Sedikit mendesak anak saya kembali melontarkan pertanyaan kepada ayahnya. Anak saya berkata bahwa pertanyaannya dikarenakan kelak ia bercita-cita mempunyai sebuah perusahaan penerbitan. Saya lihat ada binar bangga pada sorotan mata suami ketika mendengar pengakuan tentang cita-cita anaknya. (Suami saya bekerja pada sebuah perusahaan penerbitan buku, keduanya kutu buku). Dengan sedikit menggoda suami mengatakan bahwa keinginannya adalah cita-cita seorang kapitalis.  Anak saya tidak tersinggung malahan memberikan jawaban yang membuat bulu kuduk saya berdiri, katanya ia akan menerbitkan buku-buku ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur’an, membayar penulis dengan bayaran tinggi, menerbitkan biografi para Nabi, menerbitkan buku Harun Yahya (idola anak saya) dengan sistem subsidi, dan akan menjualnya murah. Suami terbahak-bahak mendengar penuturan anak saya.

Setelah tawanya reda, suami memberikan gambaran tipikal seorang pemimpin  (pemimpin formal maupun non formal). Seorang pemimpin harus mempunyai kecerdasan, profesional, berkualitas, mempunyai ketajaman (visi, misi) yang jauh. Dengan kecerdasannya seorang pemimpin akan mampu menangkap gelombang dinamika yang terjadi di masyarakatnya serta mampu menyelesaikan berbagai masalah. Tak kalah penting pemimpin harus mempunyai spritual tinggi, keteguhan jiwa dan semangat, serta mempunyai keluhuran moral etika dan akhlak.

Secara tersirat pemimpin lebih mempunyai peluang untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan serta mengangkat harkat dan martabat. Karena berada pada posisi terdepan, karena dengan memegang kekuasaan, sosok pemimpin dapat menolong kesulitan orang lain, dapat melindungi kepentingan orang banyak, dapat bertindak adil, dapat menjadi panutan teladan serta dapat menunjukkan kebenaran. Dengan kata lain pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Pemimpin juga harus paham tentang esensi kekuasaan yang diembannya, kekuasaan yang berada dalam genggaman merupakan sebuah kewajiban dan sebuah amanah. Dengan pemahaman yang mendalam tentang esensi dari kekuasaan, maka ia akan mampu menyebarkan dan mengembangkan sifat-sifat terpuji, keterbukaan, keadilan, tenggang rasa, kebaikan, kemurahan dan kedermawanan.

Setelah mendengar penjelasan suami, anak saya berkata sampai saat ini ternyata banyak (para) pemimpin yang tidak memiliki kriteria tersebut. Kemudian dia menyebut nama Pakpo sebagai contoh, suami saya hanya tersenyum menanggapi. Diakhir perbincangan suami mengatakan bahwa tugas utama pemimpin sebenarnya adalah sebagai pelayan rakyat yang berkewajiban melindungi, mengamankan dan mensejahterakan rakyat. Diam-diam saya menyingkir dengan penuh rasa haru serta diliputi oleh rasa bangga dan bahagia.
Januari 2004

L.Rosida Irmawati
Aktif di LSM Pornama, Sumenep

Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF

0 Komentar ::

Tinggalkan Komentar Anda