EL Iemawati
Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupi-mu, tiada topan tiada badai kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Penggalan lagu Koes Plus tersebut sangat populer di era tahun 70-an. Tapi itu hanya sebuah nostalgia saja, karena apa yang digambarkan syair di atas pada saat ini jauhlah berbeda. Saat ini dalam hitungan detik dapatlah disaksikan di media elektronika potret kehidupan rakyat (terutama yang berada di garis bawah kemiskinan) yang kembang kempis, sengsara, dan merana. Di samping itu ketimpangan dan penyakit sosial semakin menyeruak di permukaan, menenggelamkan budi pekerti, etika dan moralitas yang dijunjung demikian tinggi.
Tiba-tiba sebuah kesadaran menyeruak di benak, gejala-gejala apakah ini ? Mengapa bangsa yang katanya kaya raya, gemah rimpah loh jinawi, santun, berbudi pekerti, bermoral terpuruk demikian dalam. Analogi apakah yang paling tepat menggambarkan kondisi bangsa ini ? Apakah ini sebuah karma ? Sebuah hukuman akibat kelalaian semua anak bangsa ? Terutama para pemimpin yang telah menyelewengkan amanah ? Atau para penyelenggara pemerintahan yang tamak, korup, super ego, nepotis dan materialistis ? Atau kepada seluruh anak bangsa yang apatis, egois, materialis dan hedois ? Ataukah pada rakyat miskin, baik yang miskin secara struktural maupun kultural ?
Pertanyaan beruntun itu mengambang melintasi cakrawala, menembus ruang dan waktu. Mengapa kita semakin miskin ? Terutama rakyat yang nota bene penghuni terbesar nusantara ini ? Secara kultural dan struktural kemiskinan itu telah menjadi bagian kisah perjalanan panjang . bagaimana mereka akan ter-entas dari kemiskinan itu kalau akses untuk mendapatkan peluang tersebut sangat sempit, bahkan buntu ? Adalah sebuah impian apabila anak yang cerdas terlahir dari keluarga kurang mampu dapat menggapai cita-cita dan impian. Atau si fulan yang miskin mampu mendapatkan pengobatan dengan baik dan penuh perhatian ? Inilah sebuah realita yang sangat pahit, dan harus ditelan bulat-bulat. Sebuah realita sekaligus kesaksian, betapa miskinnya kita.
Akibat kemiskinan tersebut segala sesuatu yang berkenaan dengan pelayanan publik telah menjadi komoditas. Ya sebuah komoditas. Mulai dari yang paling kecil di lingkungan kerja, lingkungan pendidikan, lingkungan pelayanan publik, mencari pekerjaan, masuk di Perguruan Tinggi favorit, menjadi Polisi, Tentara, Bidan, dokter, pejabat, bahkan juga menjadi guru. Proses komoditas tersebut demikian membudaya dan sulit dilacak atau pun ditelusuri. Ibarat penyakit kanker ganas, menggerogoti secara perlahan dan mematikan.
Akibat kemiskinan yang membudaya, tanpa rasa bersalah banyak sekali oknum tanpa malu mengambil sesuatu yang bukan hak-nya. Bukan nyolong terang-terangan, tetapi dengan cara memalsu, mark up dan menggelembungkan data. Bahkan simbol-simbol (termasuk agama) menjadi alat ampuh untuk mengelabui dan mensyahkan laku perbuatan dholim. Dan anehnya perilaku semacam itu telah menjadi sebuah pembenaran umum. Pejabat misalnya, akan di pandang sebelah mata kalau tidak mampu menunjukkan keberhasilannya menumpuk harta benda dan kemewahan.
Akibat kemiskinan mental dan hati nurani dapat disaksikan pada saat masyarakat di rundung nestapa, ketika harga-harga mulai melambung naik, yang berduit berlomba memborong barang-barang kebutuhan, dan banyak dari pedagang menimbun barang. Akibat miskin keimanan penyakit sosial merajalela, perbuatan biadab menjadi hal biasa, dan akibat kemiskinan ilmu maka menjadi umat yang terbelakang, dan terpecah-belah. Kemiskinan mendekati kekufuran, bahkan pepatah mengatakan, “orang bodoh menjadi makanan orang pintar.”
Miskin harta belum tentu miskin jiwa, dapatlah disaksikan dalam realita kehidupan sehari-hari komunitas masyarakat menengah-kebawah adalah masyarakat yang hangat, peduli, penuh perhatian dan mempunyai jiwa sosial tinggi. Sifat inilah yang mestinya ditumbuh-suburkan, dikembangkan serta disebarkan di semua kalangan, sehingga menjadi sebuah budaya. Budaya kaya, kaya hati, kaya kasih sayang, kaya kepedulian, kaya iman, kaya ilmu, kaya pengetahuan, dan kaya perjuangan. Dan kekayaan tersebut menjadi media ampuh untuk memberantas kemiskinan, baik kemiskinan struktural maupun kultural.




0 Komentar ::