Oleh : Lilik Rosida Irmawati, S. Pd.
Generasi demi generasi telah berlalu. Angkatan demi angkatan silih berganti, mereka tampil dan telah menyelesaikan tugas sejarahnya, hingga mengantarkan bangsa Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan. Peran pemuda yang demikian besar dapat dilihat apabila membuka kembali lembaran sejarah. Pemuda melalui zaman yang berbeda telah menunjukkan potensi dan kemampuannya. Para pemuda selalu tampil, turut aktif sekaligus menjadi pelopor terdepan dalam setiap babakan kelahiran sebuah “Angkatan”.
Sejarah mencatat angkatan 28 merupakan puncak prestasi yang mengagumkan dari para pemuda. Karena pada bulan Oktober 1928 inilah, tonggak sejarah lahirnya semangat kebangsaan serta persatuan dan kesatuan bangsa diikrarkan. Sumpah Pemuda. Dalam rentang waktu yang berbeda lahirlah angkatan 45, angkatan 66 dengan segala proses perjuangannya. Bahkan ketika kekuatan orde baru runtuh, para pemuda (khususnya mahasiswa) menjadi pelopor terdepan, menguraikan cengkeraman gurita raksasa, memapas sebuah bangunan piramida .
Pemuda merupakan penerus, pewaris dan penanggungjawab masa depan sebuah bangsa. Oleh sebab itu kejayaan suatu bangsa, gambaran masa depan suatu bangsa akan bisa dilihat dari peran para pemuda masa kini. Tantangan yang dihadapi pemuda adalah menjadi “pelaku pembangunan”. Karena para pemuda (generasi muda) harus siap menjadi pelaku-pelaku pembangunan dengan sikap kemandirian, ketaqwaan, pendidikan dan keterampilan serta pengalaman yang cukup.
Tentu saja setiap generasi mempunyai problem yang berbeda dalam memasuki periode perjuangannya. Di era informasi global dan arus industrialisasi ini, masalah yang dihadapi pemuda adalah : (1).Menurunnya jiwa idealisme dan patriotisme (apalagi dengan bergulirnya Otonomi Daerah), (2).Kurangnya lapangan pekerjaan dan kesempatan kerja, (3) Meningkatnya kenakalan remaja serta penyalahgunaan narkotika dan psikotropika
Data demografis Indonesia menunjukkan bahwa pemuda sebagai bagian terbesar dari total penduduk Indonesia sekitar 79,79 juta jiwa atau kurang lebih 37 persen. Merujuk pada data Renstra Kementerian Pemuda dan Olahraga 2005-2009, sebagian besar pemuda berasal dari kelompok berpenghasilan rendah yang dari sektor pendidikan mengakibatkan mereka drop out dan akhirnya melahirkan kualitas SDM pemuda rendah dan sulit bersaing dalam persaingan di tingkat nasional maupun internasional.
Data demografis Indonesia menunjukkan bahwa pemuda sebagai bagian terbesar dari total penduduk Indonesia sekitar 79,79 juta jiwa atau kurang lebih 37 persen. Merujuk pada data Renstra Kementerian Pemuda dan Olahraga 2005-2009, sebagian besar pemuda berasal dari kelompok berpenghasilan rendah yang dari sektor pendidikan mengakibatkan mereka drop out dan akhirnya melahirkan kualitas SDM pemuda rendah dan sulit bersaing dalam persaingan di tingkat nasional maupun internasional.
Revitalisasi Pemuda
Seharusnya langkah-langkah nyata dan konkrit yang dilakukan adalah merevitalisasi gerakan pemuda. Karena saat ini kecenderungan gerakan kaum muda terlihat sangat idiologis dan pragmatis, bahkan hedonis dan materialistis. Gerakannya tidak fokus, tidak memiliki arah yang jelas dengan artikulasi politik yang bisa ditafsirkan sebagai media proses pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Gerakannya tidak fokus, tidak memiliki arah yang jelas dengan artikulasi politik yang bisa ditafsirkan sebagai media proses pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian halnya dengan organisasi kepemudaan dan atau kemahasiswaan lainnya, dewasa ini tampak kurang memiliki artikulasi pemikiran politik perjuangan yang jelas dan memadai untuk konteks anak zamannya. Kesejahteraan hidup masyarakat sebagai ibu kandung peradaban tidak memperoleh pembelaan secara memadai.
Demonstrasi-demonstrasi yang acapkali mereka lakukan lebih bersifat instan, tidak akademik, dan bahkan terkesan terselubung kepentingan politik tertentu. Salah satu ciri gerakan demonstrasi yang terkontaminasi dengan kepentingan komunitas politik tertentu adalah anarkisme. Anarkis menjadi satu titik fokus, sementara substansi pemikiran dan pesan moral di dalamnya begitu sempit, bahkan sama sekali hampa dari makna moralitas pergerakan yang semestinya.
Lalu, apa yang semestinya menjadi agenda bersama yang menjadi inti atau prioritas dari kaum muda dalam menyikapi realitas di atas? Merujuk konsep-konsep pemikiran dari Natsir Detsi, Ketua PB HMI yang memberikan wacana bahwa ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh para pemuda. Pertama, melahirkan gerakan bersama kebangkitan nurani kaum muda. Kedua, konsolidasi gerakan demokrasi kaum muda dengan melakukan penguatan kerja-kerja kultural untuk pengembangan iklim dan tradisi berdemokrasi yang tidak terbatas pada mekanisme prosedural-formal semata.
Ketiga, kaum muda sebagai generasi terbuka, terbuka bagi sistem dan iklim lintas kultur, agama, bangsa, dan negara ataupun terbuka melihat Indonesia masa depan. Keempat, kaum muda sebagai solidarity maker. Di tengah keberagaman yang multietnik, ragam bahasa, tradisi, dan pranata sosial yang berbeda-beda. Kelima, kaum muda sebagai basis kekuatan civil society yang ditandai dengan semangat menjadi warga masyarakat yang lebih mandiri, kuat, berdaya, kritis, kreatif, inovatif, dan memiliki keberanian menjadi penggagas hingga sebagai pengambil keputusan
Eksistensi, kemampuan, kiprah, dan peran pemuda sangat menentukan masa depan bangsa. Eksistensi Indonesia masa depan sangat tergantung pada kekuatan kolektif pundak para pemuda untuk memanggulnya. Tentunya, untuk menjadi sosok historis mereka harus membekali diri secara cukup untuk mampu tampil sebagai sosok pemuda masa kini. Pertama, menjadi generasi yang berkomitmen kepada rakyat, bangsa, dan negara. Komitmen itu dilandasi oleh idealisme, cita-cita, dan militansi untuk menjadi anak-anak bangsa yang terbaik dan berfaedah bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.
Kedua, menjadi generasi yang berkompeten. Tantangan dunia baru yang penuh dengan kompetisi hanya bisa dijawab dengan kompetensi: kemampuan dan kesanggupan untuk mendapatkan peran berdasarkan prestasi dan karya nyata. Ketiga, menjadi generasi yang tetap menjunjung tinggi pluralisme. Para pemuda bukan saja tetap menyadari dan menghormati realitas keindonesiaan yang majemuk dan penuh dengan kepelbagaian, tetapi bahkan makin sanggup untuk hidup dalam damai, harmoni, serta penuh dengan kerjasama dan kebersamaan.
Keempat, menjadi generasi yang optimis. Para pemuda bukan saja perlu konsisten dengan orientasi dan berpandangan jauh ke depan, tetapi juga memegang teguh optimisme. Pesimisme adalah halangan mentalitas bagi kemajuan bangsa, dan bahkan bisa menjadi beban. Bangsa yang bercita-cita terus maju menjadi maju, modern dan bermartabat perlu menata konstruksi mentalitas positif, yakni optimisme. Dengan optimisme, sebagian masalah sudah terjawab.
Kelima, menjadi generasi yang berakhlak dan relijius. Para pemuda bukan saja dituntut untuk berkomitmen kepada bangsa, berkompetensi tinggi, berpendirian pluralis dan selalu dipandu dengan optimism, tetapi juga membutuhkan bangunan akhlak pribadi yang baik dan berketuhanan. Akhlak sosial dalam bentuk peduli dan bertanggung jawab kepada rakyat, bangsa dan negara juga perlu dibarengi dengan akhlak pribadi yang terpuji.
Demonstrasi-demonstrasi yang acapkali mereka lakukan lebih bersifat instan, tidak akademik, dan bahkan terkesan terselubung kepentingan politik tertentu. Salah satu ciri gerakan demonstrasi yang terkontaminasi dengan kepentingan komunitas politik tertentu adalah anarkisme. Anarkis menjadi satu titik fokus, sementara substansi pemikiran dan pesan moral di dalamnya begitu sempit, bahkan sama sekali hampa dari makna moralitas pergerakan yang semestinya.
Lalu, apa yang semestinya menjadi agenda bersama yang menjadi inti atau prioritas dari kaum muda dalam menyikapi realitas di atas? Merujuk konsep-konsep pemikiran dari Natsir Detsi, Ketua PB HMI yang memberikan wacana bahwa ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh para pemuda. Pertama, melahirkan gerakan bersama kebangkitan nurani kaum muda. Kedua, konsolidasi gerakan demokrasi kaum muda dengan melakukan penguatan kerja-kerja kultural untuk pengembangan iklim dan tradisi berdemokrasi yang tidak terbatas pada mekanisme prosedural-formal semata.
Ketiga, kaum muda sebagai generasi terbuka, terbuka bagi sistem dan iklim lintas kultur, agama, bangsa, dan negara ataupun terbuka melihat Indonesia masa depan. Keempat, kaum muda sebagai solidarity maker. Di tengah keberagaman yang multietnik, ragam bahasa, tradisi, dan pranata sosial yang berbeda-beda. Kelima, kaum muda sebagai basis kekuatan civil society yang ditandai dengan semangat menjadi warga masyarakat yang lebih mandiri, kuat, berdaya, kritis, kreatif, inovatif, dan memiliki keberanian menjadi penggagas hingga sebagai pengambil keputusan
Eksistensi, kemampuan, kiprah, dan peran pemuda sangat menentukan masa depan bangsa. Eksistensi Indonesia masa depan sangat tergantung pada kekuatan kolektif pundak para pemuda untuk memanggulnya. Tentunya, untuk menjadi sosok historis mereka harus membekali diri secara cukup untuk mampu tampil sebagai sosok pemuda masa kini. Pertama, menjadi generasi yang berkomitmen kepada rakyat, bangsa, dan negara. Komitmen itu dilandasi oleh idealisme, cita-cita, dan militansi untuk menjadi anak-anak bangsa yang terbaik dan berfaedah bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.
Kedua, menjadi generasi yang berkompeten. Tantangan dunia baru yang penuh dengan kompetisi hanya bisa dijawab dengan kompetensi: kemampuan dan kesanggupan untuk mendapatkan peran berdasarkan prestasi dan karya nyata. Ketiga, menjadi generasi yang tetap menjunjung tinggi pluralisme. Para pemuda bukan saja tetap menyadari dan menghormati realitas keindonesiaan yang majemuk dan penuh dengan kepelbagaian, tetapi bahkan makin sanggup untuk hidup dalam damai, harmoni, serta penuh dengan kerjasama dan kebersamaan.
Keempat, menjadi generasi yang optimis. Para pemuda bukan saja perlu konsisten dengan orientasi dan berpandangan jauh ke depan, tetapi juga memegang teguh optimisme. Pesimisme adalah halangan mentalitas bagi kemajuan bangsa, dan bahkan bisa menjadi beban. Bangsa yang bercita-cita terus maju menjadi maju, modern dan bermartabat perlu menata konstruksi mentalitas positif, yakni optimisme. Dengan optimisme, sebagian masalah sudah terjawab.
Kelima, menjadi generasi yang berakhlak dan relijius. Para pemuda bukan saja dituntut untuk berkomitmen kepada bangsa, berkompetensi tinggi, berpendirian pluralis dan selalu dipandu dengan optimism, tetapi juga membutuhkan bangunan akhlak pribadi yang baik dan berketuhanan. Akhlak sosial dalam bentuk peduli dan bertanggung jawab kepada rakyat, bangsa dan negara juga perlu dibarengi dengan akhlak pribadi yang terpuji.
Pemuda Dan Strategi Kaderisasi
Dalam babakan era Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah mempunyai kewajiban untuk memberdayakan pemuda. Usaha secara terpadu, terarah dan terencana dari seluruh potensi pemuda, sebagai subyek pengembangan. Karena pemuda mempunyai potensi yang sangat besar, diantaranya ; 1). Idealisme dan daya kritis, 2). Dinamika dan kreatifitas, 3). Optimis, bergairah dan berani, 4). Terdidik, 5). Patriotisme dan nasionalisme, dan 7). Fisik kuat dan jumlah banyak.
Berbekal point-point di atas, maka diperlukan langkah-langkah yang strategis dalam pemberdayaan serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Strategi budaya yang terpadu, istilah strategi budaya adalah usaha untuk membina kader-kader dalam bentuk performance baru yang lebih responsif terhadap tantangan hidup yang dihadapinya. Dalam artian pandangan budaya kekinian dan masa depan tidak lagi bersifat sektoral dan sesaat, namun bersifat secara menyeluruh, terpadu, sistemik dan futuristik.
Lalu bagaimanakah bentuk strategi budaya kaderisasi pemuda yang dipandang fisible secara kekinian dan kemasadepanan ? Ada beberapa bentuk atau formula yang dapat diketengahkan melalui makalah ini :
Pertama, suatu strategi budaya yang berasumsi bahwa aktualitas budaya pemuda Islam tidak mengemuka secara parsial atau sektoral, namun selalu ada kaitannya dengan entitas sosial ekonomi, sosial pendidikan, sosial politik, dan sosial keagamaan. Kedua, suatu strategi budaya kaderisasi yang dapat merencanakan dan mengelola komunikasi antar berbagai sektor kehidupan masyarakat. Sehingga tatkala ada pandangan tentang pentingnya meningkatkan level kependidikan pemuda, maka para elite pemimpinnya tidak tinggal diam, yakni bergerak menggalang kekuatan masyarakat untuk membentuk suatu yayasan beasiswa yang para donateur atau sektor permodalannya dapat menyediakan biaya sekolah secara gratis bagi mereka.
Ketiga, suatu strategi budaya yang selalu mempertimbangkan pasang-surut-nya perubahan budaya dan perubahan sosial di tingkat makro. Globalisasi peradaban dunia yang telah memasuki gelombang ketiga tidak harus disikapi dengan terlalu cemas, tetapi dipahami secara obyektif dan kemudian selektif dalam menerima atau membuang nilai-nilai peradaban dunia itu yang bertentangan dengan konsep ajaran agama Islam. Tentunya bagaimana cara menjinakkan secara inovatif aneka macam nilai-nilai negatif dari globalisasi peradaban dunia.
Lalu bagaimanakah bentuk strategi budaya kaderisasi pemuda yang dipandang fisible secara kekinian dan kemasadepanan ? Ada beberapa bentuk atau formula yang dapat diketengahkan melalui makalah ini :
Pertama, suatu strategi budaya yang berasumsi bahwa aktualitas budaya pemuda Islam tidak mengemuka secara parsial atau sektoral, namun selalu ada kaitannya dengan entitas sosial ekonomi, sosial pendidikan, sosial politik, dan sosial keagamaan. Kedua, suatu strategi budaya kaderisasi yang dapat merencanakan dan mengelola komunikasi antar berbagai sektor kehidupan masyarakat. Sehingga tatkala ada pandangan tentang pentingnya meningkatkan level kependidikan pemuda, maka para elite pemimpinnya tidak tinggal diam, yakni bergerak menggalang kekuatan masyarakat untuk membentuk suatu yayasan beasiswa yang para donateur atau sektor permodalannya dapat menyediakan biaya sekolah secara gratis bagi mereka.
Ketiga, suatu strategi budaya yang selalu mempertimbangkan pasang-surut-nya perubahan budaya dan perubahan sosial di tingkat makro. Globalisasi peradaban dunia yang telah memasuki gelombang ketiga tidak harus disikapi dengan terlalu cemas, tetapi dipahami secara obyektif dan kemudian selektif dalam menerima atau membuang nilai-nilai peradaban dunia itu yang bertentangan dengan konsep ajaran agama Islam. Tentunya bagaimana cara menjinakkan secara inovatif aneka macam nilai-nilai negatif dari globalisasi peradaban dunia.
Pamungkas
Idealisme pemuda dewasa ini kian memudar dan nilai-nilai juang hampir tidak ada. Seharusnya pemuda bercermin pada para orang tua pendahulu yang begitu gigih dan tak kenal menyerah menghadapi penindasan dan penjajahan. Tentu hal ini disebabkan karena para pemuda saat ini telah menikmati hidup yang lebih enak, nyaman dan mapan. Kebutuhan sekolah, hiburan, sandang, papan, transportasi, kesehatan semuanya ada dan tersedia.
Pemuda adalah penerus generasi yang akan mengangkat harkat dan martabat serta kejayaan suatu bangsa. Maka tak berlebihan, apabila keberadaan pemuda haruslah menjadi agenda prioritas dalam pembangunan. Dalam era reformasi, pemuda seharusnya lebih agressif, attractive, kreatif dan lebih berani dalam menuangkan ide-ide serta aspirasi. Serta menuntut hak-haknya yang selama ini di kebiri.
Idealisme pemuda dewasa ini kian memudar dan nilai-nilai juang hampir tidak ada. Seharusnya pemuda bercermin pada para orang tua pendahulu yang begitu gigih dan tak kenal menyerah menghadapi penindasan dan penjajahan. Tentu hal ini disebabkan karena para pemuda saat ini telah menikmati hidup yang lebih enak, nyaman dan mapan. Kebutuhan sekolah, hiburan, sandang, papan, transportasi, kesehatan semuanya ada dan tersedia.
Pemuda adalah penerus generasi yang akan mengangkat harkat dan martabat serta kejayaan suatu bangsa. Maka tak berlebihan, apabila keberadaan pemuda haruslah menjadi agenda prioritas dalam pembangunan. Dalam era reformasi, pemuda seharusnya lebih agressif, attractive, kreatif dan lebih berani dalam menuangkan ide-ide serta aspirasi. Serta menuntut hak-haknya yang selama ini di kebiri.



0 Komentar ::